
Yang menyedihkan dari apapun itu jika kita telah terlepas dari sesuatu yang sangat menyiksa, tapi kita masih saja diliputi kesedihan. Sama halnya dengan saat kamu tidak bisa berenang tapi ada yang mendorongmu jatuh ke dalam kolam, saat kamu sudah diselamatkan pun kamu masih tidak sadarkan diri karena ada banyak air di saluran penapasanmu. Bahkan saat ada yang berhasil mengeluarkan semua air itu, kamu tersadar tapi masih dengan trauma yang sangat menyiksa.
Tidak aku tidak seperti itu, aku bisa berenang dan tidak pernah tenggelam. Tapi aku hidup seperti orang yang selalu dikejar sesuatu, sesuatu yang bisa membunuhku.
Sejak tiga tahun terakhir aku selalu berpikir ingin mati, pikiran itu muncul begitu saja di benakku. Aku selalu merasa tidak sanggup menghadapi perasaanku sendiri. Beberapa bulan lagi aku akan menikah, tapi aku sama sekali tidak bisa berdamai dengan hati dan pikiranku. Aku selalu takut, bagaimana setelah menikah nanti jika aku tetap seperti ini? bagaimana jika masa lalu itu selalu menghantuiku? Umumnya wanita akan bahagia mengetauhi fakta jika mereka akan menikah, apa lagi menikah dengan orang yang mereka cintai. Tapi itu sama sekali tidak berlaku bagiku.
Dia memang pilihanku, tapi sepertinya dia tidak tahu jika aku mengalami ketidak sehatan mental yang sangat serius. Dia tidak pernah tahu jika sampai detik ini, luka dalam hatiku belum sepenuhnya sembuh. Dia tidak pernah tahu jika perasaan dan pikiranku selalu membuatku insomnia setiap malam. Orang terdekatku bahkan sudah pergi meninggalkanku, memang mereka masih ada di dekatku. Tapi sesungguhnya hati mereka menolakku.
Yang mereka lihat aku selalu tersenyum, tapi aku sangat rapuh saat sendirian. Aku bukan orang yang akan dengan gampang mengekspresikan perasaan, tapi aku selalu mengeluarkan semua itu saat sendirian.
Menjadi seorang rapunzel selama tiga tahun, tidak pernah ada yang tahu jika aku telah menjadi seorang putri yang dikurung di dalam rumah. Kalian tidak pernah merasakannya kan? Jika seandainya kalian jadi aku? Apa mungkin kalian akan sependapat denganku? Ataukah kalian akan lebih memilih untuk menggantung diri? Mengiris tangan? Atau menjatuhkan diri dari gedung yang paling tinggi?
Bagiku mati lebih baik, daripada merasakan semua yang ku rasakan saat ini. Memikirkannya saja sudah membuat hatiku sakit, dadaku sangat sesak, air mataku terus mengalir.
Selama ini rasanya aku sudah menjadi orang yang sama sekali tidak normal, aku akan merasa sangat terancam saat berada di antara banyak orang yang berkumpul. Aku takut, malu, bahkan pada saudaraku sendiri. Rasanya sangat sulit memulai perbincangan. Rasanya akan lebih nyaman jika aku hanya menjadi pendengar saja. Mungkinkah aku mengalami hikikomori? Karena sudah hampir tiga tahun tidak lagi bersosialisasi dengan orang di luar rumah.
Tapi kenapa rasanya aku biasa saja saat menemui orang di rumah? Atau saudara yang memang sudah biasa berkunjung ke rumah? Kenapa mereka rasanya berbeda? Kenapa aku sulit menemui orang baru? Kadang aku merasa sudah menjadi manusia paling gagal.
__ADS_1
Aku tidak pernah bisa percaya pada mereka, karena aku pernah dikecewakan. Manusia semuanya sama, memiliki sikap buruk yang sangat manusiawi.
~~~
Setelah berjuang mati–matian akhirnya aku berhasil menjadi seorang dokter, sungguh berat. Sangat berat karena tidak ada yang pernah mendukung keinginanku menjadi seorang dokter. Ayahku selalu ingin aku menggantikannya, beliau adalah seorang tokoh penting dan juga CEO dari sebuah perusahaan mode ternama. Selain itu ayah juga menjadi seorang leader di sebuah organisasi. Tapi bukankah cita–cita harus tetap diraih, aku bekerja dengan sangat keras untuk membiayai kuliah dan kehidupanku. Aku kabur dari rumah demi bisa menjadi seorang dokter, tapi pada akhirnya aku kembali pada titik ini. Titik di mana ayah selalu ikut campur dengan segala hal yang ku kerjakan.
Aku bekerja di salah satu rumah sakit yang dimiliki oleh salah satu teman ayahku, aku tidak tahu itu. Awalnya ku kira, aku diterima disana karena prestasi dan keahlian yang ku miliki. Tapi saat pemiliknya memanggilku, aku baru tahu jika beliau mengenal ayahku. Apa ini termasuk rencana ayah? Bahkan aku sekarang ada di luar negeri. Aku sengaja pergi menjauh dari ayah. Sepertinya memang benar yang biasa orang katakan jika dunia ini sempit.
Saat mengetahui kenyataan itu, awalnya aku ingin kembali lari dari kenyataan, tapi haruskah aku seperti ini? Bersikap seperti bocah. Bukankah ini saat yang tepat untuk menunjukkan pada ayahku jika aku bisa hidup seperti ini? Hal yang telah ku perjuangkan selama tujuh tahun harus tetap ku genggam.
Sejak awal inilah yang ku inginkan.
Namun suatu malam, saat aku sedang menjalankan shift jaga malam. Seorang pasien datang dengan kepala yang berlumuran darah. Dia diantarkan oleh ayah dan ibunya, mereka bersaksi jika mereka menemukan anaknya tergeletak dengan banyak darah di depan jendela ruang tamu. Jika melihat dari lukanya, sepertinya gadis itu terjatuh dari tempat tinggi.
Apa dia berusaha mengakhiri hidupnya?
__ADS_1
Kami yang berjaga malam itu melakukan semua yang terbaik untuknya. Beruntung dia bisa selamat, meski dia sama sekali tidak sadarkan diri sampai hari ini. Sudah terhitung hampir enam bulan dia terbaring tak sadarkan diri, atau biasa disebut dengan koma.
Sungguh ironi, mama gadis itu bilang jika seharusnya pada bulan ini dia melangsungkan pernikahan dengan tunangannya. Tapi karena hal itu, pernikahannya ditunda.
Tapi semakin hari, semakin ada yang janggal dengan gadis itu. Sudah dua hari ini ada orang tak dikenal mencoba mencelakainya.
Temanku yang berjaga malam bilang, jika sudah ada dua kali laporan penyerangan terhadap gadis itu. Tapi pelakunya selalu saja berhasil lolos. Tidak ada yang menjaga gadis itu, dia selalu dibiarkan sendiri. Orang tuanya sibuk, mereka berdua selalu mengatakan itu saat berkunjung menanyakan keadaan anaknya padaku.
Beberapa hari sebelumnya aku tidak sengaja mendengarkan percakapan kedua orang tua gadis yang sedang koma itu. Mereka berbicara tentang hal yang membuatku tergerak untuk mengambil sebuah keputusan. Bagiamana bisa orangtua memutuskan kehidupan anaknya, seolah mereka tuhan.
Anak mereka berada di ambang kematian, tapi mereka malah memutuskan untuk mendorongnya agar semakin dekat dengan kematian. Aku curiga, jangan–jangan gadis itu memang sengaja didorong bukan keinginannya sendiri untuk mengakhiri hidup. Entah bagaimana rasa iba ini muncul, tapi semakin tahu lebih dalam tentang kenyataan pahit yang gadis itu terima. Aku semakin ingin melindunginya.
Lalu bukankah dia memiliki seorang tunangan, kemana tunangan gadis itu? Kenapa sejak dia masuk ke rumah sakit sampai saat ini, aku sama sekali tidak pernah melihat pria muda mengunjunginya. Hanya orangtuanya dan salah satu sepupu perempuannya yang selalu lalu lalang menjenguk sang gadis.
o0o
__ADS_1