
“Nona, tuan menunggu anda di ruangan bawah.” Seorang pelayan wanita kembali memperingatkanku. Sudah kesekian kalinya dia mengatakan itu padaku, tapi sejak tadi aku masih saja memandang diriku di cermin. Rasanya aku berbeda, seperti bukan diriku. Ingin rasanya menangis, tapi jika aku menangis rambutku akan tetap sama. Andai saja ketika aku menangis rambutku bisa menumbuh panjang, aku akan menangis. Kemarin Kak Kino mengikat tubuhku dan dengan seenaknya memotong rambutku.
“Nona kumohon jangan membuat tuan marah.” Wanita itu merengek padaku.
Aku menganggukkan kepala, sebelum keluar dari kamar aku terlebih dulu menarik dan menghembuskan nafas. Tempatku berada saat ini adalah sebuah hotel, entah apa namanya. Yang jelas aku dan wanita tadi akan turun menggunakan elevator.
Begitu melihatku keluar dari elevator, Kino segera menghampiri. Dia menarikku, membawaku ke sebuah ballroom. Aku bergetar, rasanya tanganku dingin melihat dua orang yang sedang melangsungkan resepsi pernikahan mereka. Aku harus bagaimana? Apa aku harus pura–pura tidak mengerti?
“Apa aku harus menjelaskan apa yang kau lihat?” Kak Kino mulai bersuara.
Aku tidak menghiraukan Kak Kino, aku masih menatap Kak Kinan dengan kebaya tradisional yang dikenakannya. Di sebelahnya ada Angga yang juga memakai baju senada, mereka terlihat sangat bahagia. Iya mungkin benar, sejak awal harusnya aku tidak naif. Harusnya aku marah pada Kak Kinan dan mempertanyakan apa yang telah ku lihat.
Sejak awal aku memang sering memergoki ada yang aneh dengan mereka berdua.
Aku masih ingat, hari itu mata hari sangat terik. Aku terbangun dari tidur, awalnya aku memang tidak berniat untuk tidur. Karena merasa haus jadilah aku pergi ke dapur untuk mengambil minum. Suasana rumah sangat sepi, tapi anehnya pintu menuju taman belakang terbuka. Aku berniat ingin menutupnya, tapi urung karena mendengar suara tawa perempuan dan laki–laki.
Aku membulatkan mata begitu melihat sumber suara itu, Kak Kinan dan Angga sedang duduk di bangku taman. Mereka terlihat sangat mesra. Angga duduk tegap dan kak Kinan menempelkan kepalanya pada dada bidang kekasihku.
Finalnya adalah di malam selepas pertunanganku dan Angga, mereka berdua menghilang dari pesta. Bersembunyi di tempat yang biasa menjadi favoritku menyendiri, tentu saja aku mengikuti mereka. Air mataku jatuh begitu saja melihat mereka dengan mesra berciuman. Badanku terbalik, Kak Kino yang melakukan hal itu. Dia memelukku dan membiarkanku menangis tanpa suara dalam dekapannya.
Aku tidak bisa marah, aku bingung harus bagaimana. Aku tidak bisa mengatakannya pada siapapun, Kak Kino terus menawarkan bantuannya. Dia bilang kematian palsu mungkin bisa menjadi alasanku pergi dari tempat yang menurutnya terkutuk ini. Dengan kematian palsu juga, Kak Kino bisa menikahiku. Aku tidak bisa menerima Kak Kino, meskipun sebenarnya aku bisa menerimanya. Bagaimanapun hatiku tetap milik Angga, aku mempertahankannya walaupun rasanya sakit.
“Jadi apa kau mau kita mendekat pada mereka?” Tawar Kak Kino padaku. Aku menggelengkan kepala.
Melihat mereka dari jauh saja cukup membuat hati perih, apa lagi jika aku mendekat.
~~~
__ADS_1
Aku sudah sampai di tempat pernikahan, ini adalah rencana kami sejak awal.
“Sepertinya kamu bisa menggunakan hal itu untuk melindungi Dea, mengingat orang tua gadis itu lebih mencintai aset mereka.” Aku tersenyum menanggapi ocehan San. Ocehan San hari itu masih berlanjut, dia bilang jika ada yang aneh dengan adik Kino yang bernama Kinan.
“Kau menanyakan Angga bukan? Wooyoung bilang dia akan menikah dengan Kinan.”
“Bagaimana bisa? Apa dia menggantikan posisi Dea?” Bisa saja itu terjadi, bisa saja Kinan menggantikan Dea sebagai pengantin wanita. Angga bukan pria biasa, dia adalah pewaris tunggal sebuah perusahaan stasiun tv terkenal di Indonesia. Jika pesta pernikahan itu sudah disebarkan luas, tentu masing–masing keluarga akan malu jika tiba–tiba dibatalkan.
“Kau ini, kenapa naif sekali.” San tersenyum remeh.
Menurut pengamatan Wooyoung selama dia menjadi teman baik Kino, dia sering melihat Kinan dan Angga dekat. Wooyoung juga berteman baik dengan Angga, karena dia adalah salah satu mahasiswi pertukaran dari Amerika di kampus Angga dan Kinan. Yang mengejutkan adalah, Kinan sengaja kuliah di kampus tempat Angga menuntut ilmu.
Jadi sudah bisa dipastikan jika mereka berdua menjalin sebuah hubungan terlarang.
Aku mengedarkan pandangan, mencoba mencari Saena. Dia pasti datang ke pesta ini bersama dengan Kino. Pandanganku terhenti di kedua pengantin, mereka terlihat sangat bahagia. Jadi apa laki–laki itu yang bernama Angga? Dia cukup tampan . Sekarang aku ingat, dialah pria yang merebut Dea dari gendonganku saat Dea pingsan di lapangan basket. Selama ada Dea di lapangan basket, selalu ada dia juga di sana.
Apa alasan dia mengkhianati Dea? Kenapa bisa dia lebih memilih bersama dengan Kinan daripada dengan Dea? Tentu saja mengacaukan pesta pernikahan orang bukan hal yang baik. Niatku kesini karena ingin menjemput calon permaisuriku yang kabur.
“Hyung lihat!” Yeosang yang berdiri di sebelahku menunjuk sesuatu. Ku lihat tangan Dea digandeng seorang perempuan. Bagaimana bisa Kino membiarkan hal itu? Dia membiarkan Dea ditarik begitu saja.
~~~
Wanita itu memelukku dengan erat, sampai–sampai aku tidak bisa bernafas. Dia selalu seperti ini saat beretemu denganku, dia selalu saja berlebihan.
__ADS_1
“Katakan pada nenek, apa yang terjadi?” Iya dia nenekku, ibu dari ayahku.
“Maaf, anda siapa ya? Saya Choi Saena.” Mungkin ini akan lebih baik.
“Kenapa kamu seperti itu, Kino memberi tahu nenek jika kamu masih hidup dan berjanji akan membawamu kembali.” Aku membulatkan mata mendengar penjelasan nenek. Nenek menyibak rambutku, membuat leher kiri bagian atasku terlihat.
“Dea apa yang sebenarnya terjadi?” Nenek terisak, beliau mendekapku. Aku kalah, nenek baru saja memeriksa tanda lahir milikku. Tanda lahir yang menjadi identitasku secara permanen.
Pintu ruangan tempat kami berada terbuka, muncul mama bersama dengan kak Kino.
“Dea akan menikah dengan Kino.” Pernyataan mama membuat drama dalam keluarga kami dimulai.
“APA!” Nenek sangat terkejut.
“Bukankah anda sangat menyayangi cucuk anda yang satu ini? Lihatlah bahkan anda tidak tahu tentang dia.” Mama berkata dan memasang ekspresi wajah remeh.
“Diam kau wanita terkutuk! Bisa–bisanya kau berbicara sembarangan tentang cucuku!” Nenek mulai termakan emosi, oh ayolah jangan seperti ini. Aku khawatir penyakit jantung yang nenek derita akan kambuh.
“Coba lihat saja di tangan kirinya, itu bukti cincin pertunangan Dea dan Kino. Mereka bertunangan di Korea.” Apa yang mama bicarakan? Kenapa mama semakin pandai membual? Nenek mengangkat tangan kiriku, mencoba memastikan keberadaan cincin seperti yang mama katakan.
Tentu saja nenek terkejut melihat cincin di jari manisku yang jauh berbeda dari cincin pertunanganku dengan Angga. Aku menggelengkan kepala, “Ini bukan cincin dari Kak Kino.”
Nenek terlihat sangat kesakitan, beliau memegangi dada bagian kiri. Beberapa saat kemudian beliau limbung. Kekacauan terjadi, aku segera menghubungi ambulans.
Tapi di saat yang seperti itu mama masih sempat mengatakan hal yang membuatku muak, “Apa kamu tidak bisa hidup dengan tenang sebagai Saena? Kenapa kamu selalu mengganggu hidup keluargaku?”
o0o
__ADS_1