
Sejak awal aku tahu jika memang di keluarga Dea sama sekali tidak ada yang baik pada gadis itu. Tapi ada dua orang yang menurutku baik, nenek dan ayahnya. Ayahnya sejak awal berusaha melindungi Dea, tapi dengan cara yang menurutku kurang tegas. Setelah melihat Dea digandeng seorang wanita tadi, Hardi ayah kandung Dea menghampiriku. Beliau mengajakku pergi, tapi aku masih berat hati dengan Dea.
“Tenang saja, Dea aman bersama dengan neneknya.” Aku sedikit lega mendengarnya.
Aku bersama dengan San dan Yeosang berjalan membuntuti ayah Dea, kami dibawa ke ruang rapat yang ada di hotel tersebut.
“Sebelumya aku ingin mengucapkan terima kasih pada kalian yang sudah mau menerima dan merawat Dea.” Kata pembuka dari beliau.
“Bagaimana bisa dia setenang itu? Bukankah disini dia adalah tersangka?” Omel San, dia mengatakannya dalam bahasa Korea.
Tuan Hardi bilang, jika beliau memilih diriku untuk melakukan euthanasia bukan tanpa alasan. Di mata tuan Hardi aku adalah sosok laki–laki yang baik, tentu saja beliau tahu jika aku berada di pihak naga merah. Beliau bilang jika memaksaku melakukan euthanasia adalah sebagian dari rencananya.
Menyertakan Kinan untuk menjadi saksi juga sebagian dari rencananya.
“Lalu bagaimana dengan percakapan yang anda lakukan dengan istri anda di lorong rumah sakit?” Yeosang angkat bicara.
“Jadi itulah masalahnya, aku harap kalian sebagai lelaki tidak jadi sepertiku. Wanita bisa melemahkan kita.” Kata–kata tuan Hardi membuat kami memandang diri satu sama lain.
Seorang pesuruh masuk ke dalam ruangan tempat kami, dengan panik dia melaporkan jika penyakit jantung nyonya besar kambuh.
“Wah sepertinya mereka sudah mulai menjalankan rencananya.” Respon tuan Hardi terlihat sangat santai, beliau tersenyum simpul.
“Pastikan semua ikut ke rumah sakit tanpa terkecuali.” Perintah tuan Hardi dan diberi anggukan oleh pesuruhnya.
“Mari, kita juga akan menyusul Dea dan neneknya.” Ajak tuan Hardi pada kami bertiga.
~~~
Nyonya besar yang dimaksud pesuruh tadi nampak sangat sehat, beliau duduk di samping Dea dengan senyum cerahnya.
“Jadi dari kalian bertiga, siapa yang bernama Seonghwa?” Wanita tua itu menatap kami bertiga.
Ku lihat tidak hanya kami saja yang ada di ruangan itu, ada mama Dea, dan juga ada sepasang pengantin yang sudah mengkhianati Dea.
__ADS_1
“Hampiri calon istrimu.” Tuan Hardi memintaku menghampiri Dea dan neneknya.
Aku berjalan mendekat ke arah dua wanita itu, nenek Dea terlihat masih cantik meskipun sebenarnya beliau sudah berumur. Wanita itu memintaku menggantikannya duduk di sebelah Dea, kini kami berdua yang seperti pengantin dalam ruangan ini. Sebelum kami pergi ke sini, tuan Hardi sempat menyuruhku berganti pakaian. Tak kusangkan ternyata ini adalah pakaian yang serasi dengan gaun yang dikenakan Dea.
“Perlu kalian ingat, baju yang mereka kenakan awalnya dirancang untuk Dea dan Angga. Tapi ternyata baju itu ditakdirkan bukan untuk mereka berdua. Ah lebih tepatanya baju pengantin sang pria akhirnya dipakai oleh orang yang tepat.” Kata nenek Dea, kenapa nada bicaranya seperti narator dalam sebuah drama.
“Dengan begini anggap saja mereka telah sah menjadi pasangan suami istri.” Kini tuan Hardi yang berkata demikian.
“Mari kita rayakan hari bahagia mereka. Oh iya, maafkan aku karena lupa dengan mereka berdua.” Wanita itu kini menggandeng Angga dan juga Kinan, mendudukkan pasangan itu di tempat duduk yang juga beliau siapkan.
“Untuk merayakan ini, nenek sudah membuatkan kalian sebuah teks narasi untuk dibacakan.”
“Tentu kalian ingat bukan, nenek adalah ratu klub drama di SMA.” Lanjut beliau.
“Tokoh utamanya di sini adalah kalian sendiri, nenek sudah menuliskan cerita kalian. Jadi silahkan memanfaatkan momen ini untuk berkata jujur dan minta maaf.” Saat beliau berkata seperti itu, beberapa pelayan memberikan sebuah buku naskah. Apa ini? Rasanya seperti upacara keluarga tahunan. Aku terkejut, karena aku dan juga semua yang ada di ruangan ini mendapatkan naskah.
Pembacaan dimulai dari tuan Hardi, beliau yang pertama kali membacakan ceritanya.
Aku adalah seorang duda anak satu, istriku meninggal karena sakit keras. Dia meninggalkanku bersama dengan seorang putri, aku sangat kesulitan membesarkan putriku sendirian. Singkat cerita suatu hari aku bertemu dengan janda satu anak, ku pikir nasib kita sama. Sikapnya baik, akhirnya aku memutuskan untuk menikahinya. Tapi Ibu tidak setuju dengan keputusanku, beliau bilang jika wanita piliankuh adalah wanita yang tidak baik. Memangnya Ibu tahu apa tentang hal itu, aku akan menikah dengannya apapun yang terjadi. Ibu mengijinkanku menikah dengan wanita itu, tapi dengan satu syarat. Wanita itu harus mau menyerahkan anak gadisnya pada kakakku. Aku menyetujui hal itu dan dia juga, akhirnya kami berdua menikah.
“Sekarang giliranmu.” Wanita itu mendekati istri tuan Hardi.
~~~
Aku sudah lelah membersarkan putriku sendirian, ditambah lagi aku juga sudah dikelaurkan dari tempat kerjaku. Aku sama sekali tidak bisa berpikir jernih lagi, bagaimanapun caranya aku harus mendapatkan hati pria itu. Dia bilang, dia sangat mencintaiku, tapi sepertinya Ibu pria itu tidak menyukaiku.
Sejak awal aku seharusnya tidak naif, kenapa aku naif seperti Cinderella. Mama adalah mama tiriku, tentu aku tahu itu, karena wanita itu menikah dengan ayahku saat usiaku tujuh tahun. Tapi untuk Kak Kinan, aku sungguh benar–benar tidak mengetahuinya jika dia anak kandung mama tiriku.
“Terima kasih sudah mau membacanya.” Nenek tersenyum simpul.
“Permisi, nyonya kenapa naskah milik saya kosong?” San mengajukan pertanyaan.
“Pertanyaan yang bagus anak muda, aku memberimu kebebasan membuat ceritamu sendiri.” Nenek tersenyum pada San.
__ADS_1
“Sekarang giliran cucu kesayangan oma, Kinanti sayang bacalah naskah ceritamu.” Kulihat wajah Kak Kinan sangat pucat.
“Bukankah ini tidak adil, bagaimana bisa mereka mendapat kebebasan membuat naskah sendiri.” Mama terlihat tidak terima, beliau menunjuk ke arah San.
“Karena penulis adalah tuhan dalam ceritanya.” Nenek tersenyum santai.
“Kenapa Ibu sangat kuno sekali, bukankah biasanya kita merayakannya dengan pesta. Lalu..”
“Lalu apa kau akan membiarkan anakmu sengsara dengan kesalahan yang dia pendam? Aku berusaha membantu kalian, aku hanya ingin keluargaku damai!” Nenek memotong perkataan Mama.
“Bukankah kamu sangat ingin tinggal bersama dengan mama kandungmu, bacakan itu dan minta maaflah.” Nenek berkata dengan lembut pada kak Kinan.
Aku sangat iri dengan Dea, karena dia bisa setiap hari bertemu dengan ibu kandungku. Aku tahu orangtua angkatku memang sangat baik, tapi apa salah jika aku ingin tinggal dengan mama kandungku?
“Biarkan saya yang menggantikan Kinan membaca.” Kata mama saat kak Kinan berhenti membaca.
“Cepatlah selesaikan, setelah itu minta maaf. Maka semua akan selesai, ada tamu yang mungkin jika mengetahui ini akan membuatmu semakin tidak bisa membacanya.” Nenek berkata masih dengan nada lembut.
Malam itu, aku mendorong Dea. Aku melakukannya karena sudah sangat gelap mata. Dea selalu merebut orang–orang yang ku sayangi, ayah dan mama. Meskipun hanya ayah tiri, tapi beliau sangat baik padaku. Angga, aku sudah lama bertemu dengannya. Dia adalah laki–laki sempurna yang membuatku jatuh hati. Pertemuan pertama kami biar kami saja yang tahu, yang jelas aku yang lebih dulu kenal Angga. Tapi entah bagaimana bisa Angga malah menjalin hubungan dengan Dea.
“Maafkan aku Dea.” Kata Kak Kinan dengan air mata yang berlinang.
Suasana menjadi riuh, tapi nenek berhasil mengendalikannya.
“Persilahkan masuk tamu istimewa kita!” Nenek dengan lembut memberi perintah pada asisten rumah kesayangannya. Tamu yang nenek maksud adalah Linda dan Helfan, seperti yang lain mereka berdua juga mendapatkan naskah itu.
“Naskah kalian berdua sama, jadi siapa yang akan membacakannya? Linda atau Helfan?”
“Maaf nyonya, tapi bukankah tadi pelayan anda bilang jika kami diundang ke pesta pribadi?”
Helfan terlihat bingung memandang kami yang ada di ruangan.
“Kami memang sedang melakukan pesta, bacakan naskah itu. Minta maaf dan kau boleh pergi.” Nenek mengatakan itu pada Linda dan Helfan.
__ADS_1
Aku dan Linda memang sengaja..
o0o