
Masa depan harus diperjuangkan, tapi bagaimana jika masa lalu datang merenggutnya?
Semua mata tertuju padaku dan Joonyoung, kami berdua bepegangan tangan. Dengan gaun yang kukenakan dan tuxedo yang Joonyoung pakai tentu semua orang akan mengerti jika kami adalah pasangan. Tapi apa kamu tahu bagaimana perasaanku saat Seonghwa menatapku dengan tatapan seperti tidak percaya?
Kemarin aku menjadi orang yang paling dia cintai dan sekarang dengan sekejap aku menjadi bagian dari orang yang mengkhianatinya. Aku ingin berteriak, tapi tak bisa. Aku ingin menangis, tapi air mata ini tak mau keluar. Aku tidak sanggup terus menatap Seonghwa yang kini menatap Yeji dengan penuh rasa bahagia. Aku menatap Joonyoung, dia tersenyum padaku.
“Gwaenchana.” Katanya sambil tersenyum, dia menarikku memasuki barisan para tamu undangan.
“Apa kau serius? Kenapa malah dengan Joonyoung?” Aku tidak tahu jika di belakang kami ada Yunho.
“Apa kau tahu? Jika San mengetahui ini dia pasti akan marah.” Kata Hongjoong yang berdiri di sisi Yunho.
“Aku tidak percaya ini, jadi kau selama ini berada di pihak naga putih.” Jongho sepertinya marah.
“Jadi apa tugasmu hanya membuat mereka berdua kembali bersama?” Kini Mingi yang berkomentar.
“Apa selama ini perasaanmu palsu pada Seonghwa?” Yeosang berkata dengan gaya khas dirinya.
“Jadi begitu ya? Sepertinya memang lebih baik Yeji daripada dirimu.” San, dia terlihat berbeda. Wajahnya tidak secerah biasanya.
“Sudahlah, janji pernikahan akan segera dilangsungkan. Mari kita menjadi saksi janji pernikahan antara Seonghwa dan Yeji.” Wooyoung memperingatkan kami semua.
Di sana, di depan sana Yeji dan Seonghwa tengah berdiri. Mereka Saling berpegangan tangan lalu seperti melapalkan sesuatu, anehnya aku tidak dapat mendengar suara mereka berdua. Apa karena terlalu sedih aku jadi tuli? Ternyata tidak. San, dia sedang memegangi kedua telingaku sambil tersenyum secerah biasanya.
“Akhirnya momen ini tiba, mereka akan berciuman!” Seru Wooyoung dengan senyum cerahnya.
Kulihat Seonghwa semakin mendekatkan wajahnya ke wajah Yeji, air mataku kembali jatuh. “Kenapa kamu terus mengeluarkan air mata? Apa sulit untuk membuka mata?” Suara nenek menggema. Anehnya hanya aku yang bisa mendengar suara nenek.
“Saena-ya, jangan seperti ini. Kenapa kau selalu berada di titik ini?” San menggenggam tanganku. Dia menarikku, entah kami akan pergi ke mana.
__ADS_1
Aku dibawa mendekat ke sebuah pintu yang sangat besar, saat pintu itu dibuka sebuah cahaya putih menyilaukan membuatku menutup mata.
“Saena-ya, ku mohon buka matamu!” Suara San terdengar sangat dekat.
Aku membuka mataku perlahan, namun yang kulihat pertama kali adalah langi-langit berwarna putih. Lalu kulihat ada seseorang, dia tengah berdiri di sebelah. Tunggu, apa aku sedang terbaring? Dia yang tengah berdiri tersenyum padaku, itu San.
“Seonghwa-hyung juga sudah membuka matanya!” Seru seseorang, sepertinya itu suara Jongho. San melepas pegangan tangannya, dia pergi meninggalkanku. Kini nenek dengan penuh air mata memeluk diriku yang masih terbaring. Rasanya aku belum bisa bergerak, badanku masih kaku. Mengeluarkan suara saja rasanya tidak mungkin.
Apa yang terjadi?
Aku merasa di ruangan ini ada banyak sekali orang, tapi aku tidak bisa melihat mereka karena aku masih dalam posisi berbaring. Aku hanya bisa mendengar suara mereka satu-persatu. Ada yang menangis penuh haru, ada yang berbicara ini dan itu. Entahlah, yang pasti aku masih mengingat dengan jelas, beberapa detik yang lalu aku berada di sebuah pesta pernikahan.
~~~
Apa kalian tahu ternyata aku mengalami koma lagi? Nenek bercerita, aku dan Seonghwa mengalami kecelakaan saat pulang dari makan malam di pulau privat. Helikopter yang kami naiki mengalami kecelakaan, entah seperti apa. Aku saja tidak mengingat hal itu. Kabarnya sang pilot meninggal di tempat, sungguh beruntungnya aku dan Seonghwa masih bisa selamat, walaupun kami berdua harus koma selama tiga hari.
“Apa kau tahu nyonya besar sangat bingung? Karena kau mengeluarkan air mata. Tapi tak kunjung membuka mata.” Kata Yunho.
“Cerita apa yang kau bacakan?” Wooyoung langsung melemparkan pertanyaan pada San.
“Dia terus membacakan cerita masa lalu Seonghwa dengan Yeji, aku sudah menasehatinya. Tapi dia tidak mau mendengarkanku, secara tidak sadar dia menyebabkan Saena menangis dalam komanya.” Yeosang berkata panjang lebar.
“Tapi ternyata itu manjur kan? Lihat bahkan mereka kemarin bangun bersamaan.” Ucap Yunho.
“Terserah kau saja.” Hongjoong terlihat lelah.
Pintu terbuka, menampakkan seorang laki-laki dan seorang perempuan. Mereka tersenyum ke arahku yang saat ini berada pada posisi duduk bersandar. Mereka berdua juga tersenyum pada Seonghwa yang juga sama sepertiku, dia duduk bersandar di atas brankar tempat di seberangku.
“Joonyoung-ya! Yeji-ah!” Sambut Hongjoong pada kedua pasangan itu.
__ADS_1
“Wah kalian sudah mulai pulih ya, sayang sekali padahal kemarin itu hari pernikahan kami berdua.” Kata Yeji.
“Apa kau tahu hyung? Joonyoung sering berkunjung kesini. Dia juga sama seperti kami, berusaha membangunkanmu dan membangunkan Saena.” Wooyoung menceritakannya pada Seonghwa dengan menggebu-gebu.
“Dia selalu bilang seperti ini. Gwaenchana.” Yunho menirukan cara bicara yang dia maksud.
“San juga suka bercerita tentang festival musim semi dan mitos tentang cherry blossom.” Wooyoung terus mengadu.
“Sudahlah itu semua tidak penting, yang penting dua pasangan ini sekarang sudah sadarkan diri.” Kata Jongho.
“Saena-ya ini Joonyoung dan ini Yeji, mereka baru resmi menjadi pasangan suami istri kemarin.” Hongjoon memperkenalkan dua orang itu padaku. Aku tersenyum dan mengangguk.
Tentu saja aku merasa tidak asing dengan wajah dan nama kedua orang itu, mereka berdua sangat mirip dengan mereka yang kutemui di alam saat aku koma.
Apa yang mereka bicarakan saat aku masih koma, mempengaruhi alam bawah sadarku. Lalu membuat semua ketakutanku mendominasi dan membentuk sebuah mimpi buruk. Mimpi itu terasa sangat nyata untukku, sampai-sampai aku merasa ingin menyerah saja.
“Bunganya kau taruh di mana?” San bertanya pada Yeosang.
“Kubuang, karena sudah layu.” Jawab Yeosang dengan enteng.
“Yaak, apa kau tahu kita mencari itu dengan penuh susah payah dan kau membuangnya begitu saja!” Omel San pada Yeosang.
“Sudahlah, mereka berdua akan segera pulih. Mereka kan sudah bertemu, kenapa kau masih saja bersikeras mencarikan bunga untuk mereka?” Mingi berusaha menengahi.
Jika aku kembali dihadapkan dengan sebuah kesedihan yang sama, maka hal yang mendominasinya adalah kepedihan juga. Sebelumnya aku sering sekali menangis dalam tidur, sampai-sampai itu membuat tidurku terganggu. Saat benar-benar bangun, rasanya sedih sekali dan akhirnya melanjutkan tangisan yang awalnya hanya mimpi.
Meskipun semuanya sudah selesai, tapi rasa sedih dan takut dalam diriku spertinya masih tersisa. Buktinya selama aku koma, mimpi yang terbentuk sama sekali bukan mimpi yang membahagiakan. Awalnya memang indah, tapi berakhir dengan kesedihan.
o0o
__ADS_1