Sleeping Beauty

Sleeping Beauty
Jawaban


__ADS_3

“Saat kamu berhasil menangkap bunga yang terjatuh, maka kamu akan segera bertemu dengan cinta sejatimu.”


Petuah yang diberikan San padaku terus terngiang di kepalaku, aku tidak sabar ingin mencobanya bersama dengan Seonghwa. Ini seperti adegan di film atau drama yang biasa ku tonton bersama nyonya Choi. Nyonya Choi juga mendukung saran San, beliau mengaku pernah melakukannya juga saat masih muda.


Tapi aku sedikit merasa aneh, karena nyonya Choi berusaha mendapatkan bunga bersama teman sesama perempuannya. Sedangkan aku, bukankah aku sudah ditakdirkan dengan Seonghwa? Kami sudah tunangan, lalu untuk apa aku mengajaknya menangkap bunga? Bukankah aku ini lucu?


Tapi sepertinya bagus untuk sebuah pembuktian, jika Seonghwa memang cinta sejatiku.


“Jadi aturannya seperti apa?” Seonghwa bertanya padaku, tapi dengan mata yang masih fokus pada bunga di atas pohon.


“Hanya perlu menangkap, lalu menggenggamnya agar tidak terlepas. Tapi jangan terlalu erat, takutnya akan merusak bunga.” Aku menjelaskannya panjang lebar.


“Hanya itu?” Aku menjawab pertanyaan Seonghwa dengan anggukan.


“Kalau begitu aku akan mendapatkan dua untuk kita.” Setelah mengatakannya dia langsung menjauh dan mulai berkonsentrasi menangkap bunga.


Aku menyusulnya, tentu saja untuk memudahkan nanti saat kami berdua mendapatkan bunga. Berdiri menanti bunga yang jatuh memang butuh kesabaran, apalagi saat bunganya tidak jatuh ke tanganku. Itu sangat menyebalkan. Aku terus mencoba, walaupun sulit.


Semangatku terbakar melihat Seonghwa yang berada 100 meter dariku juga terus berusaha mendapatkan bunga. Dia bersikeras ingin mendapatkan bunga untukku, aku juga harus berusaha mendapatkan bunga. Terus mencoba, sampai akhirnya aku paham polanya. Aku harus dengan perlahan menangkap bunga, sebenarnya tidak harus berlari, hanya butuh meraih saja.


Aku mendapatkannya, mendapatkan bunga itu.


Aku berjalan dengan tempo cepat ke arah Seonghwa, ku lihat dia juga sudah mendapatkan bunga. Tapi aku tidak sanggup melangkah lagi saat ku lihat ada seorang gadis yang mendekatinya. Padahal jarak kami sudah cukup dekat.

__ADS_1


“Seonghwa oppa (aku tidak tahu kata setelahnya, gadis itu berbicara dalam bahasa korea)” Gadis itu merebut bunga yang ada di tangan Seonghwa. Apa ini jawaban tuhan untukku? Apa aku harus pergi dari sini? Bahkan aku tidak bisa melihat ekspresi Seonghwa, karena aku berada di balik punggungnya. Tentu saja Seonghwa membalasnya dengan menggunakan bahasa Korea juga, kata–katanya terdengar sangat lembut. Meskipun aku tidak mengetahui artinya, tapi aku yakin Seonghwa sangat bahagia bertemu dengan gadis yang saat ini ada di hadapannya.


Dengan perlahan aku menjauh dari mereka berdua, saat jaraknya sudah cukup jauh, aku berlari. Bunga yang ku dapatkan masih berada dalam genggaman, air mataku jatuh begitu saja. Kenapa kenyataan sungguh sepahit ini? Kenapa kebenaran yang sesungguhnya itu menyakitkan? Aku masih berlari, masih juga menangis, kenapa kenyataan itu datang saat aku sudah mengambil keputusan?


Aku berhenti berlari, aku masih berdiri dengan menengadahkan kedua tangan. Ku pandang bunga yang saat ini bersarang di kedua tanganku. Air mataku masih setia menghujani bunga itu. Bagaimana ini bisa terjadi? Bagaimana bisa juga aku mengambil sebuah keputusan yang kekanakan?


Aku memutuskan jika hari ini kami berhasil menangkap bunga, maka aku akan terus setia berada di sisi Seonghwa.


Betapa bodohnya aku.


“Saena-ya, kenapa kau sendirian disini? Kemana Seonghwa?” Aku kenal suara itu, itu suara Yeosang. Ku lihat Yeosang berdiri tidak jauh dariku, di sebelahnya ada Hongjoong. Tanpa menjawab, aku langsung berlari ke arah mereka berdua, dan tanpa pikir panjang aku segera memeluk Yeosang. Berakhirlah aku menangis terisak dalam pelukan Yeosang. Rasanya sungguh sesak, sangat sesak, kenapa sesakit ini?


 ~~~


“Pulanglah bersama Saena, aku sendiri yang akan melakukan pertukaran dengan pihak naga putih.” Kata Hongjoong.


“Maafkan aku-“


“Sudahlah, aku tahu sesuatu buruk mungkin terjadi. Aku akan mencari Seonghwa juga, sebaiknya kamu pulang dengan Yeosang.” Hongjoong memotong kata-kataku.


Akhirnya aku dan Yeosang meninggalkan tempat itu, aku tidak banyak bicara. Karena rasanya sangat menyakitkan jika harus memutar ingatan dan menceritakan apa yang sebenarnya terjadi. Itu sama saja seperti mengelupas kulit kering yang menutupi luka.


“Wah kamu berhasil memperoleh bunganya ya.” Yeosang terlihat sangat takjub melihat bunga yang ada di tanganku. Aku hanya meresponnya dengan senyuman.

__ADS_1


“Kira-kira nanti apa Seonghwa akan marah ya? Aku membawamu kabur seperti ini.” Kata-kata yang dia ucapkan selalu saja membuatku tersenyum.


“Simpanlah bunga itu baik-baik, agar tidak tertinggal di mobil Hongjoong.” Jadi yang sejak tadi kami tumpangi adalah mobil milik Honjoong, aku kira tadi ini mobil milik Yeosang.


Yeosang menginjak rem secara mendadak, membuatku hampir terbentur kaca bagian depan mobil. Di depan mobil kami ada sebuah mobil hitam yang berhenti secara mendadak, apa itu mobil Seonghwa? Tapi sepertinya bukan.


Dari dalam mobil itu muncul dua orang laki-laki yang memakai jas dan pakaian serba hitam, mereka mengetuk kaca jendela mobil kami. Salah satunya mengajak Yeosang berunding, dan seorang lagi menyuruhku turun dari mobil. Bodohnya aku malah menurutinya, bukankah sebelumnya Yeosang berpesan jangan keluar dari mobil apapun yang terjadi?


“Kino ingin bertemu denganmu.” Bisik laki-laki itu padaku. Kenapa kak Kino ingin menemuiku? Apa ada hal buruk yang terjadi pada nenek? Tapi rasanya tidak mungkin.


“Ada hal penting yang ingin dia sampaikan padamu, dia ingin bertemu empat mata denganmu.” Bisik pria itu lagi.


Melihat apa yang terjadi hari ini, sepertinya aku memang harus menghilang sebentar. Aku tahu ini salah, tapi dengan begini aku akan tahu seberapa pentingnya diriku di mata Seonghwa. Aku berjalan perlahan mengikuti laki-laki itu menuju mobilnya, sambil terus memastikan Yeosang yang masih berbincang dengan rekan pria yang ku ikuti. Aku masuk ke dalam mobil itu, setelahnya dua pria itu juga ikut masuk ke dalam mobil. Saat mobil mulai dijalankan, ku lihat Yeosang dari kaca mobil bagian belakang. Dia sedang kebingungan mencariku.


Maafkan aku Yeosang, aku harus melakukan ini. Setidaknya yang menjemputku adalah orang yang ku kenal. Kak Kino tidak mungkin menyakitiku, jika dia berani berbuat macam-macam, aku tidak akan segan meninggalkannya.


“Apa kau haus nona?” Laki-laki yang duduk di sebelah kemudi menyodorkan sebotol minuman padaku. Aku tidak merespon, hanya cukup dengan memandangnya saja.


“Apa kau berpikir kami akan membuatmu pingsan? Kino akan membunuh kami jika itu terjadi.” Kini laki-laki yang memegang kemudi bersuara, dia menatapku dari kaca spion dalam mobil. Perkataan mereka ada benarnya juga, aku juga cukup haus karena menangis tadi. Aku menerima sebotol air mineral itu.


Tapi, belum sempat aku membuka botolnya, semua yang ada di sekelilingku berubah menjadi gelap.


o0o

__ADS_1


 


__ADS_2