
Sepulang kami dari indonesia, aku merundingkan beberapa hal dengan San. Dia memberiku beberapa saran, dia juga bilang akan mencoba membantu. Tapi jika hanya kencan saja, sepertinya itu kurang. Aku jadi penasaran bagaimana Angga dan Dea bisa dekat, haruskah aku memintanya menceritakan itu? Haruskah aku menjadi seperti Angga? Agar Dea bisa menerimaku.
Aku bukan pria yang romantis. Momen romantis di Bali saja aku dibantu nyonya besar untuk mempersiapkannya.
Tentunya iklim di Korea tidak sama dengan di Indonesia, saat seperti ini kami masih menggunakan pakaian tebal. Sinar matahari tidak akan menghangatkan, hanya menerangi layaknya lampu pijar. Tapi cherry blossom beremekaran dengan indanya.
Aku memiliki rencana untuk mengajak Dea ke festival yang selalu diadakan ketika musim semi tiba. Waktu yang terbaik sebenarnya saat sebelum matahari terbenam, tapi karena kesibukanku sebagai pimpinan naga merah. Kami akhirnya datang saat langit sudah gelap.
Spot pertama yang kami kunjungi adalah romance bridge, mungkin bisa jadi tempat yang kami pijaki saat ini lebih indah saat malam hari. Sinar lampu berpadu menjadi satu dengan cherry blossom, membuatnya terlihat bersinar. Terlihat sangat indah. Acara ini disebut festival cahaya bintang, karena cherry blossom diatas sana bersinar di terangi lampu dengan background langit dipenuhi bintang.
“Maaf, seharusnya kita kesini tadi pagi.” Aku membuka obrolan.
“Sepertinya lebih indah saat malam hari.” Dea tersenyum padaku, kemudian dia melanjutkan pengamatannya terhadap bantaran sungai kecil yang ada di depan kami. Kami sedang berdiri di pinggir romance bridge. Mata Dea begitu takjub dengan pemandangan sekitar, aku cukup lega. Kupikir mengajaknya ke tempat ini saat malam hari adalah ide buruk. Karena pasti pemandangannya akan sangat berbeda dengan saat matahari masih bertugas menyinari bumi.
Saat bunga mulai berjatuhan, Dea menengadahkan kedua tangannya. Sepertinya dia sedang berusaha menangkap satu dari sekian banyak cherry blossom yang gugur dari pohonnya. Tapi tak satupun bunga yang singgah ditangan gadis itu, dia tampak kecewa.
“Aku akan memetiknya untukmu, jika kamu mau.” Setidaknya aku harus berusaha membuatnya senang. Tapi dia malah menatapku dengan tatapan yang aneh.
__ADS_1
“Kata San, jika kita berhasil menangkap satu cherry blossom. Maka kita akan segera bertemu dengan cinta sejati.” Katanya. Jadi, itu alasan sejak tadi dia berusaha menangkap bunga yang berjatuhan. Aku tahu kepercayaan tentang menangkap bunga itu memang ada, tapi aku sedikit tidak percaya dengan mitos seperti itu.
Bagiku, kunci dari segala masalah percintaan adalah diri kita sendiri. Kita yang ingin menjalin hubungan, maka juga kita sendiri yang ingin tetap melanjutkannya atau memilih untuk berpisah.
“Bagaimana kalau besok saja? Besok kita akan kesini lagi. Sepertinya bagus pemandangan saat langit terang.” Aku mencoba membujuknya. Karena ini sudah cukup larut, udaranya juga masih dingin. Aku takut kami tidak sempat mengunjungi spot selanjutnya, selain itu aku takut Dea terkena flu. Dia selama ini tinggal di negara beriklim tropis.
Kami berpindah ke sebuah bukit yang dihiasi dengan beberapa pohon cherry blossom yang berjajar di pinggir jalan membuatnya seperti tembok terowongan. Terowongan cherry blossom di bukit ini sangat terkenal.
Selain itu dari bukit ini pengunjung juga bisa melihat pemandangan pantai, gunung dan puncak gunung. Bukit tempat kami berada juga dihiasi dengan bangku yang ditempatkan 100 meter terpisah. Tapi karena ini malam hari, hanya ada pemandangan keindahan lampu yang bersinar menerangi gelapnya malam.
~~~
Ini memang terdengar konyol, secara tidak sadar aku jadi terobsesi dengan apa yang dikatakan San. San bilang padaku, ada kepercayaan yang melekat dan sangat dipercaya. Saat cherry blossom berjatuhan dari pohonnya dan ada yang berhasil menangkap bunga itu, artinya dia akan segera menemukan cinta sejatinya. Sejak tadi aku sudah berusaha menangkapnya, tapi bunga-bunga itu sepertinya enggan singgah di tanganku.
Tapi bukankah itu hanya mitos? Yang seharusnya tidak ku percayai. Jujur, aku melakukan ini karena takut tidak akan menemukan kebahagiaan. Aku terlalu takut untuk maju, rasanya aku enggan maju. Haruskah aku tetap menjadi wanita kesepian seperti ini sampai tua nanti?
Ketulusan hati Seonghwa harus ku hargai, tapi aku bingung harus seperti apa. Aku belum tahu perasaanku terhadapnya, tapi yang ku tahu selama ini dia baik padaku.
__ADS_1
Tapi dulu Angga juga seperti ini, dia sangat baik padaku. Tapi pada akhirnya seperti itu, aku ingin ada seseorang yang bisa membantuku mempercayai orang di sekitarku. Aku ingin kembali percaya, tapi kenapa sangat sulit. Apa karena mereka keluarga baruku? Atau karena ini awal dari perkenalan?
“Besok kita coba, aku akan menangkap banyak bunga untukmu.” Dia menggenggam satu tanganku. Hatiku menghangat, rasanya dia sedang menyalurkan sengatan ketenangan dari tangannya. Benar juga, untuk apa aku bersikeras jika memang bukan hari ini takdir itu terjadi. Bukankah masih ada hari esok?
Aku mulai bergabung dengan Seonghwa menikmati pemandangan, karena sibuk menangkap bunga, aku jadi melalaikan pemandangan menakjubkan di hadapan kami. Aku berharap semua akan tetap seindah ini.
Ada satu hal yang terlewat, saat pertama sampai di Korea sepulang dari Indonesia. Aku meminta maaf pada nyonya dan tuan Choi, tentu saja San juga. Mereka semua memaafkanku, mereka bilang aku selama ini berada di posisi yang sangat sulit. Selain itu mereka juga bilang jika aku sudah mereka anggap seperti anak sendiri. Tentu itu membuat perasaanku tenang, karena aku bisa merasakan ketulusan tuan dan nyonya Choi. Tapi kenapa sangat sulit untuk Seonghwa? Kenapa aku takut?
Sebenernya ini rasa takut kehilangan atau takut dikhianati lagi? Kenapa aku bimbang dengan perasaanku sendiri? Kenapa begitu sulit memahami perasaanku ini? Jika aku ditakdirkan menjadi Saena, seharusnya aku bisa menghadapi ini.
“Apa yang membuatmu gelisah? Tenang saja, nenek pasti akan baik-baik saja.” Seonghwa mencoba menenangkanku. Mungkin dia mengira aku sedang menghawatirkan nenek, karena saat kami akan kembali ke Korea, nenek mengalami penurunan kesehatan. Mungkin beliau kelelahan.
Semenyenangkan apapun, pesta itu tetap melelahkan.
Apa kalian tahu? Betapa sulitnya melepaskan orang yang kita cintai menjadi milik orang lain. Sangat sulit, bahkan aku merasa itu adalah sesuatu yang mustahil. Bahkan aku menangis semalaman dipangkuan nenek, setelah pembacaan naskah. Tapi bukankah kita hidup di dunia ini tidak sendirian? Kadang kita harus merelakan mereka yang seharusnya pergi. Dan menerima orang baru, tapi merelakan dan menerima itu sangat sulit.
Setidaknya aku sudah mencoba merelakan, sekarang saatnya aku mencoba untuk menerima.
__ADS_1
o0o