
Sudah lama aku ingin sekali berjalan seperti ini, di mana tidak ada satupun orang yang mengenaliku. Sama sekali tidak ada yang peduli denganku, ini menyenangkan. Tapi tujuanku saat ini hanya satu, menemui Wooyoung. Aku ingin dia membantuku pulang, bagaimanapun aku harus tetap kembali ke sisi keluargaku. Meskipun mereka sama sekali tidak ada yang bisa dipercaya.
Kebetulan sekali hari ini rumah sepi, semua orang sedang sibuk di luar. Untuk mendapatkan kesempatan yang bagus ini, aku membutuhkan waktu yang cukup lama, yaitu tiga hari. Masalah tentang alamat Wooyoung aku sudah berusaha mendapatkannya dengan tanpa dicurigai.
Kebetulan dua hari yang lalu Wooyoung mengunjungi San, aku sok akrab padanya. Aku menggunakan alasan cicitan San, jika kimchi buatan mama Wooyoung sangat lezat. Aku berkata padanya ingin berkunjung ke rumahnya, lalu aku meminta alamatnya. Tentu saja itu tidak berhasil, dia bilang padaku, “Kenapa harus minta? Kau kan bisa datang ditemani calon suamimu.” Betapa konyolnya aku setelah itu, aku berpura–pura bodoh di depannya.
Aku tidak berhenti, San yang suka sekali bicara menjadi sasaranku. Aku memancingnya agar bicara, aku pura–pura ingin tahu pekerjaan dan tempat tinggal ketujuh temannya. Awalnya dia menolak dan berpikir aku ini aneh, tapi karena bujuk dan rayuku akhirnya San memberiku titik terang. Sayangnya Wooyoung tinggal di sebuah apartemen, tentu saja San tidak mengatakan berapa nomor tempat Wooyoung tinggal.
Aku terus memutar otak dan akhirnya sebuah ide muncul, bukankah Wooyoung berada di pihak Kak Kino. Dan juga tiba–tiba saja kemarin siang Wooyoung memberiku hadiah sebuah kalung, lalu malamnya Yeosang datang membawa sebuah jam tangan. Bukankah ini aneh? Tapi sepertinya pada masing–masing hadiah sudah mereka beri alat pelacak.
Enaknya aku berdiri di sebelah mana ya? Nanti mereka akan menculikku dengan cara apa ya? Apa mereka akan membiusku hingga pingsan? Atau mereka akan memukul tengkukku. Tentu saja aku sudah meninggalkan jam tangan yang Yeosang berikan, aku ingin orang suruhan Wooyoung yang menemukanku.
Para penculik itu baru menemukanku setelah satu jam penuh aku berjalan, tentunya mereka menunggu kabar dari atasan mereka terlebih dulu. Di samping itu kabar menghilangnya diriku dari rumah tuan Choi pasti juga datang terlambat.
Aku kembali pada diriku sendiri, aku bukan Choi Saena yang pendiam. Entah dari mana keberanian ini muncul, tapi yang jelas aku tidak polos dan lugu lagi.
“Apa tuan Wooyoung yang mengutus kalian?” Ah percuma mereka orang Korea, mereka tidak mungkin mengerti apa yang ku bicarakan. San dan ketujuh temannya memiliki kemampuan berbahasa asing, wajar mereka itu keturunan mafia.
Aku sempat berusaha kabur dengan berlari, tapi mereka yang mengejarku memiliki kekuatan seperti vampir. Mereka menangkapku dan seperti dugaanku, aku dibuat tidak sadarkan diri.
~~~
Aku sangat marah karena berita yang baru saja ku dengar, sampai–sampai mereka yang saat ini satu ruangan denganku hanya bisa diam tanpa suara. Ku tarik nafasku lalu ku hembuskan dengan kasar, setelah itu aku berkata, “Yeosang apa ada yang ingin kau sampaikan?” Tentu semua tahu jika selama ini Yeosang sangat dekat dengan Saena.
“Maaf, aku tidak memberi tahumu, sebenarnya saat aku mengambil jubah, ada Saena di depan pintu ruangan. Sepertinya dia mendengar apa yang kau dan San bicarakan.” Penjelasan Yeosang membuatku semakin murka.
__ADS_1
“Seberapa banyak dia mendengar?”
“Aku tidak tahu, dia hanya mengajukan pertanyaan tentang naga merah dan naga putih.”
Bagaimana? Haruskah aku melakukannya sekarang? Hari ini sebenarnya tidak ada hal penting yang ingin ku sampaikan pada mereka. Hanya saja ada satu hal penting menyangkut masalah pribadi.
“Aku masih marah padamu, karena kau sudah berkhianat. Lalu sekarang apa kau bilang? Mereka menculik Saena dan membuatnya tidak sadarkan diri?!” Aku menatap Wooyoung dengan murka.
“Apa yang kalian bicarakan, kenapa aku sama sekali tidak mengerti?” Jongho bersuara.
“Rencana ini hanya kami bertiga yang tahu.” Kata San, tangannya menunjuk ke arah diriku, Yeosang dan dirinya sendiri.
“Apa? Kenapa kalian membuat rencana sendiri?” Mingi mulai protes.
“Apapun itu tolong jelaskan, sebenarnya aku sudah lapar.” Kata Yunho.
Akhirnya San turun tangan, dia sepertinya sudah tidak sabar membongkar tentang Wooyoung. Wooyoung sudah lama berkhianat, dia menjadi bawahan Kino dari pihak naga putih. Aku dan San sepakat akan mengungkapnya hari ini, untuk kaburnya Dea itu sudah bagian dari rencanaku dan rencana San juga. Tapi aku sangat tidak terima jika wanitaku diperlakukan tidak layak oleh mereka.
Karena sebuah alasan, aku membiarkan Dea masuk ke dalam perangkap pihak naga putih.
“Maafkan aku, kumohon!” Wooyoung bersimpuh di sebelah kursi yang ku duduki.
“Aku tidak percaya kau seperti itu.” Jongho berkomentar.
“Kenapa kalian hanya diam saja, mari begerak menyelamatkan noona.” Yunho terlihat sangat panik.
__ADS_1
Terjadilah keributan, mereka berdebat satu sama lain. Sebagian dari mereka menyalahkan Woyooung, Mingi terlihat sangat ingin memukul Wooyoung. Tapi dia ditenangkan oleh Yunho. Aku berdiri sambil menggebrak meja, semuanya diam sambil menatapku.
“Kemana mereka akan membawa Saena?” Aku menatap Wooyoung yang masih bersimpuh.
“Kino, mereka akan menyerahkan Saena pada Kino yang saat ini berada di Bali.” Jawab Wooyoung.
~~~
Aku terbangun di sebuah ruangan, lebih tepatnya di sebuah kamar yang sangat rapi dan harum. Bau harum itu berasal dari sebuah lilin aromaterapi yang menyala di atas nakas sebelah tempat tidurku. Bau jeruk, kesukaanku.
Di atasku tergantung chandelier, tempatku berbaring saat ini adalah tempat tidur king size. Kamar ini nampak mewah sekali, tapi terasa sangat membosankan bagiku karena wallpaper dindingnya di dominasi warna perak dan emas. Apa kali ini aku kehilangan cincin lagi? Ku lihat jari manisku. Cincin pertunanganku dengan Seonghwa masih terpasangan di sana.
Salah satu pintu di kamar tempatku berada tiba–tiba terbuka, muncul sosok Kak Kino yang bertelanjang dada dengan handuk yang terlilit di bawah perutnya.
“Oh kau sudah bangun?” Dia tersenyum menatapku.
Tanpa kata, aku berjalan meninggalkannya ke salah satu pintu yang terbuka. Aku masuk ke ruangan itu, aku terkejut dengan apa yang ku lihat. Ada sepasang baju sakral, sebuah kebaya berupa gaun yang sangat panjang dan satu lagi pakaian untuk pengantin laki–laki. Keduanya sangat serasi dan terpasang sangat rapi pada tubuh dua manekin.
“Apa kau menyukainya?” Ternyata Kino membuntutiku.
Aku menghiraukannya, kini aku tertarik pada dua buah benda. Sepasang cicin emas, aku mendekati dan mengangkat cincin itu. Ternyata hanya polos di bagian luarnya saja, cincin yang kuambil adalah yang berukuran besar. Ku lihat namaku terukir pada bagian dalam cincin itu. Aku mengambil cincin yang satunya lagi, ukurannya lebih kecil. Di bagian dalamnya terukir nama Kino.
Apa ini cincin pernikahan? Cincin pernikahan orang tuaku juga seperti ini.
“Lihatlah wajahmu, kau sepertinya tidak senang.” Kino merebut kedua cincin yang ada di tanganku, dia mengembalikannya ke tempat asal. Aku merutuki diriku karena sudah terlalu lamban bergerak, Kino menggenggam tangan kiriku dengan keras.
__ADS_1
“Aku harap besok cincin ini sudah tidak ada di jarimu, atau jarimu akan hilang.” Dia memberiku peringatan tentang cincin pertunanganku dengan Seonghwa.
o0o