Sleeping Beauty

Sleeping Beauty
Bencana


__ADS_3

Seharusnya aku bahagia, karena sebentar lagi aku akan menikah dengan laki–laki yang sudah menjadi kekasihku selama lima tahun. Susah dan senang kami lalui bersama, mungkin ini yang disebut jodoh. Karena banyak sekali hal yang kami lalui selama ini, tapi itu tak menyurutkan niatnya untuk tetap bertahan di sisi ku.


Tapi dalam hati ini selalu terbesit rasa takut yang amat sangat meresahkan, berat badanku sampai turun karena terlalu memikirkannya. Ini semua dikarenakan beberapa kekacauan yang terjadi dalam hidupku selama ini. Rasanya menyesakkan.


Seolah semua orang tidak memberiku kesempatan untuk bernafas, tapi apa ini hanya pikiranku saja? Apa aku terlalu berlebihan memikirkannya? Jadi semua seperti memusuhiku.


Sebelumnya aku adalah gadis biasa yang sangat bahagia dengan duniaku sendiri, tapi itu semua musnah begitu saja. Saat bencana itu datang padaku. Bencana yang benar–benar mengubah hidupku tiga ratus enam puluh derajat. Jika diibaratkan dengan drama kolosal, hidupku itu seperti seorang putra mahkota yang kehilangan kepercayaan orang tuanya sendiri. Putra mahkota yang selalu diagung–agungkan dalam sekejap menjadi seorang pengkhianat yang mungkin lebih pantas mati.


Semua berawal dari tempat terkutuk itu, tempat yang seharusnya menjadi pengalaman pertamaku bekerja. Jika saja hal itu tidak pernah terjadi padaku, mungkin aku akan terus bahagia dan tumbuh dengan baik.


Awal bulan Mei, tiga tahun yang lalu aku mulai bekerja di sebuah perusahaan. Aku bisa masuk ke tempat itu karena koneksi orangtuaku, kebetulan saudara sepupu dan anak teman ayah ada yang bekerja di sana. Anak temah ayahku itulah yang paling berpengaruh, orang tuanya pemilik perusahaan tersebut, karena itu aku sudah pasti diterima di perusahaan itu.


Akhirnya aku benar–benar diterima di sana, tentunya mamaku sangat senang dengan hal itu. Perusahaan tersebut juga bisa dibilang tempat impian, gajinya setara dengan gaji PNS. Jadi Mama bisa punya hal yang dibanggakan saat arisan. Kebiasaan saat para ibu–ibu berkumpul mereka akan memamerkan apa saja.


Ayahku adalah sorang CEO sebuah perusahaan kecil . Karena itulah mama selalu mengingatkanku untuk selalu menjaga sikap, jika bisa aku harus mendapatkan pekerjaan yang cukup membuatku terpandang. Beruntungnya aku mendapatkan pekerjaan itu, masuk karena koneksi tanpa harus bersusah payah. Tapi apa yang terjadi, semua sangat sesuai dengan dugaanku.


Banyak orang kantor yang membicarakan diriku, mereka bergosip tentang diterimanya aku di perusahaan itu. Sama persis seperti yang ku alami dulu saat masih SMP, aku sudah pernah mengalaminya.


Singkatnya, sudah ku bilang kan mamaku adalah orang yang suka sekali jika anaknya bisa dibanggakan. Mama menyuap kepala sekolah agar aku bisa masuk ke SMP yang katanya adalah sekolah terfavorit. Karena itu aku terus digosipkan, apa lagi saat mereka mengetahui danem ku tidak masuk persyaratan. Mereka terus membicarakanku, temanku pergi satu persatu. Tapi saat itu aku masih bisa berpikir positif, kenapa memandangku hanya karena nilai? Bukankah nilai hanya angka? Aku bisa mengubah angka itu jika aku mau. Hal itu setidaknya bisa membuatku sadar, karena itulah aku menjadi lebih giat belajar agar saat SMA tidak terulang kejadian semacam itu.

__ADS_1


Tidak berbeda dengan saat SMP, aku di perusahaan itu juga digunjing sana–sini. Karena sudah memiliki pengalaman saat di SMP, aku merasa biasa saja. Tapi sebuah kejadian di luar dugaanku terjadi.


 ~~~


Setidaknya aku masih memiliki Kak Kinan, dia yang selalu menguatkan diriku untuk tetap bertahan walaupun sebenarnya sulit.


Siang itu atasanku memanggilku ke ruangannya, aku merasa sepertinya ada pekerjaanku yang kurang beres. Aku menyiapkan mental agar kuat saat dimarahi beliau. Dengan langkah gontai aku memasuki ruangan atasanku. Pria setengah baya itu mempersilahkanku duduk, anehnya beliau malah duduk di sebelahku. Otomatis tubuhku bereaksi memberi jarak darinya, tapi dia malah terus merapatkan dirinya padaku.


“Permisi pak sebelumnya ada keperluan apa anda memanggil saya?” Aku mengatakannya sambil mengacungkan kelima jari kananku pada beliau. Aku tahu ini memang tidak sopan, ini lebih baik daripada aku langsung berdiri meninggalkan beliau. Sebagai pegawai baru, aku harus menjaga sikap.


“Sebenarnya aku sudah lama suka sama kamu Dea.” Beliau mengatakan itu sambil meraih tangan kananku yang menghentikannya tadi. Mengejutkan itu kata yang pertama muncul di benakku.


Orang yang baru saja mengungkapkan perasaannya padaku adalah Helfan, dia kakak dari Helinda. Helinda adalah teman SMA ku dulu, bisa dibilang kami adalah sahabat sejati. Karena kami selalu bersama kemanapun kami pergi. Helfan lebih tua lima tahun dariku, tapi dia masih terlihat awet muda. Jangan salah, meskipun begitu dia sudah memiliki istri dan seorang anak laki–laki. Seandainya dia belum memiliki istri atau dia duda aku tetap akan menolaknya. Karena aku menyayangi Angga.


“Apa kamu juga suka padaku? apa itu artinya kamu mau?” Dia tersenyum penuh arti. Bagaimana ini, jika tiba–tiba ada yang masuk dan melihat posisi kami yang seperti ini. Itu akan menjadi sebuah bencana. Helfan terus mendekatkan wajahnya padaku, akhirnya dengan sekuat tenaga aku mampu mendorong pria itu hingga dia hampir terjengkang.


“Aku tahu ini pasti akan terjadi, kenapa kamu menyulitkan dirimu sendiri? Bagaimana bisa kamu menyukai gadis yang sok suci ini?” Aku tidak percaya dengan apa yang ku lihat, Linda berdiri tidak jauh dari kami. Ditangannya ada sebuah kamera.


“Apa kau sudah memotret kami?” Helfan menghampiri Linda. Sesuai dugaanku, mereka berdua merencanakan ini. Alasannya karena keberadaanku di perusahaan mereka bisa mengancam diri mereka, aku diibaratkan mata–mata yang dimasukkan oleh keluargaku. Aku tahu yang mereka maksud dan aku juga paham, tapi setelah itu aku hanya bisa diam melihat duniaku berantakan.

__ADS_1


Aku berhenti bekerja, kemudian aku dibuang ke rumah nenekku.


 ~~~


Tantu saja Kak Kinan juga terkena dampaknya, tapi meskipun dia dipecat karena diriku, dia masih mau menjengukku di rumah nenek. Tapi itu hanya berlangsung selama satu bulan, setelah itu Kak Kinan tidak pernah mengunjungiku lagi karena dia kuliah.


Aku bingung harus menyalahkan siapa, di sini aku korban tapi malah terlihat seperti akulah pelakunya. Entah bagaimana bisa aku digosipkan sudah menggoda Helfan dan memaksa agar dijadikan simpanan. Tentu mama murka, tapi beliau malah berkata seperti ini, “Kalau mau main curang kamu harus menggunakan cara yang halus. Dasar anak BODOH!” Ayahku juga murka, tapi marahnya beliau lebih normal dari mama.


Beruntungnya aku hanya berada dirumah nenek selama tiga bulan, tapi suasana berubah saat aku kembali ke rumah. Sikap mama dan ayah juga berubah padaku, mereka memperlakukanku seperti anak tiri. Yang terlihat seperti anak kandung malah Kak Kinan, sebenarnya Kak Kinan menetap dirumahku. Alasannya karena dia sedang menjadi mahasiswi di kota tempatku tinggal, jarak kampus dari rumah cukup dekat.


Aku tidak merasa sedih dengan ketidak adilan yang orang tuaku lakukan, tapi aku merasa kecewa kepada mereka karena telah mengurungku di rumah. Sejak pulang dari rumah nenek sampai terhitung kurang lebih tiga tahun aku selalu berdiam di rumah. Hanya Kak Kinan yang menjadi teman bersosialisasiku.


Beruntungnya ada Kak Kinan dan juga Angga yang selalu ada untukku, karena mereka berdua juga aku mampu bertahan melewati semua. Tapi keanehan muncul pada diriku, ada rasa takut saat aku berada di kerumunan banyak orang. Bahkan rasanya sangat sulit mengajak orang lain berbincang lebih dulu, rasanya aku seperti bisa membaca apa yang mereka pikirkan tentang diriku.


Untuk menyapa orang saja rasanya susah, aku akan cenderung bersembunyi saat bertemu dengan orang yang ku kenal. Aku tidak kemana–mana, hanya pergi bersama Kak Kinan ke mini market terdekat. Aku hanya punya Kak Kinan, hanya Kak Kinan yang baik padaku. Sahabatku sudah pergi meninggalkanku, orang tuaku juga seperti itu.


Lagi–lagi hal tak terduga kembali terjadi, mungkin aku ini memang biangnya masalah. Kak Kino mengunjungi Kak Kinan, dengan terang–terangan dia menyatakan perasaannya padaku. Aku selalu menolaknya. Tapi ada saat di mana hal yang dia lakukan membuat mamaku murka lagi padaku.


Aku memang berhasil mengunci diri di balkon, tapi tak ku sangka kak Kino dapat menemukan kunci cadangan pintu balkon. Aku tertangkap olehnya, dia menggedongku dan melemparkan tubuhku ke atas tempat tidur. Dia menindih tubuhku dengan tubuhnya, lalu dia membuka sedikit kancing piama yang ku kenakan.

__ADS_1


“APA YANG KALIAN LAKUKAN!” Suara keras mama terdengar menggema di kamarku, menghentikan kegiatan Kak Kino. Aku segera bangkit dan berlari ke arah mama yang berdiri di ambang pintu. Tapi saat aku sampai sana, mama malah menamparku dengan sangat keras.


o0o


__ADS_2