Sleeping Beauty

Sleeping Beauty
Minta Maaf


__ADS_3

Seonghwa datang menemuiku dengan sebuket bunga, saat ini kami tengah duduk di bangku taman belakang rumah. Buket bunga yang dia bawa bukan sekedar untuk memberi kesan manis ataupun romantis. Tapi itu sebagai tanda permintaan maaf darinya, karena kemarin dia meninggalkanku tanpa kembali lagi.


Hal canggung selalu saja terjadi di antara kami, aku penasaran bagaimana bisa Saena jatuh cinta pada Seonghwa. Bagaimana bisa dia suka pada pria pendiam seperti Seonghwa, apa Saena jatuh cinta karena Seonghwa tampan. Atau karena Seonghwa berhasil menangkap tubuh Saena saat dia hampir jatuh ke tanah, seperti pada cerita klise.


“Oppa apa kamu tidak mau menceritakan bagaimana pertemuan pertama kita?” Untung saja aku sudah belajar dari Yeosang.


“Pertemuan pertama kita?” Anehnya dia malah menjawab pertanyaanku dengan pertanyaan, gelagatnya juga terlihat cukup aneh.


“Aku sama sekali tidak bisa mengingat apa–apa.” Lagi–lagi aku berbohong.


“Ah itu..” Dia sedikit ragu.


“Dulu kita bertemu di sebuah lapangan basket, saat itu kamu pingsan karena terkena bola basket.” Dia mulai bercerita.


“Apa itu berada di area sekolah?” Ku lihat dia langsung merespon pertanyaanku dengan menggelengkan kepala.


“Bukan, itu di lapangan umum, bahkan aku sama sekali tidak mengenalmu saat itu.” Aku mengernyit, karena penuturan yang dia berikan membuatku bingung.


“Yang pasti setelah hari itu, kita jadi sering bertemu. Tapi rasanya sangat tidak adil, karena hanya aku yang mengenalimu, sedangkan kamu tidak mengenaliku.” Kenapa Saena disini terlihat sangat naif dan sikapnya klise seperti tokoh utama?


“Lalu bagaimana kita bisa kenal dan memiliki hubungan?” Aku ingin tahu kelanjutannya, apa dia menjadi stalker Saena. Jika benar itu artinya kisah cinta Saena sangat amat klise.

__ADS_1


“Kemana cincinmu? Apa kamu melepasnya?” Aku sampai lupa memakainya lagi. Aku terbiasa melepas cincin saat mandi dan meletakkannya di meja rias.


“Maafkan aku, aku lupa mengenakannya lagi setelah mandi.” Aku kira dia akan memarahiku, tapi ternyata dia malah mengelus lembut puncak rambutku.


“Apa cincinnya terlalu besar?” Tidak sama sekali, aduh kenapa aku bisa lupa. Dengan cepat aku menggelengkan kepala.


“Aku akan mengambilnya sebentar.” Tapi dia malah menarik tanganku, dan aku pun akhirnya jatuh ke dalan pelukannya.


“Tidak perlu, aku tahu kamu melakukannya karena takut cincin itu hilang.” Aku baru tahu jika Seonghwa memiliki sikap lembut yang sama persis dengan Angga. Jika membahas tentang cincin, aku jadi teringat dengan cincin pemberian Angga. Aku menghilangkannya, padahal aku sudah berjanji akan menjaga cincin itu. Cincin pemberian Angga memang terlalu besar, tapi dengan alsan yang seperti itu, apa Angga akan percaya dengan penjelasanku?


Sebenarnya aku berharap cincin itu tertinggal di kamar mandi, tapi sialnya aku benar–benar ingat jika cincin itu aku pakai.


“Maafkan aku Angga” Tanpa sadar aku menyebut nama tunanganku, apa Seonghwa mendengarkan yang ku ucapkan? Tentu saja dia pasti mendengarkannya, tapi kenapa dia hanya diam.


Saat pertama kali mendengar kabar jika Dea siuman, ada perasaan lega dan khawatir. Aku lega karena akhirnya dia bangun dari tidur panjangnya, tapi aku juga khawatri dia akan meminta dipulangkan. Ternyata dia sama sekali tidak bicara, aku mengira ada masalah dengan pita suaranya. Alasan Dea diam akhirnya terungkap, gadis itu sendiri yang mengatakan jika dirinya bingung. Bingung karena dia tidak mengenal satupun orang yang menemaninya. Sepertinya dia benar–benar tidak mengingat apapun tentang masa lalunya.


Tapi hari ini, aku cukup terkejut.


Dia meminta maaf padaku dengan menyebut ‘Angga’ aku kenal kata itu. Itu adalah nama umum yang digunakan oleh para orang tua untuk memberi nama anak mereka. Saat aku masih berada di Indonesia, banyak orang disekitarku menggunakan kata ‘Angga’ sebagai nama mereka. Dosen di kampus dan suami pemilik kost tempatku bernaung, mereka berdua bernama Angga.


Sepertinya lebih baik aku diam, dengan begitu Saena akan mengira jika aku tidak mendengar apa yang baru saja dia katakan. Beruntungnya saat ini dia sedang berada di dekapanku, jadi dia tidak akan melihat ekspresi wajahku.

__ADS_1


Aku sedikit takut tadi saat dia memintaku menceritakan awal pertemuan kami, karena mungkin dia akan mengingat sesuatu. Dan ternyata terbukti sekarang, akibat aku menceritakan awal pertemuanku dengannya. Dia sepertinya sudah mulai mengingat sesuatu. Apa seinstan itu? Bahkan aku tadi tidak menceritakannya secara lengkap.


Aku saat itu memang bertemu dengan Dea dan menolongnya, tapi aku tidak sempat berkenalan dengannya. Karena ada seorang laki–laki yang menggantikanku, dia merebut Dea dari gendonganku. Tapi setelah hari itu, aku memang sering bertemu dengannya di lapangan yang sama. Seperti yang ku katakan, aku hanya mengamatinya tanpa sempat berkenalan dengannya. Itu terjadi hanya tiga kali dalam satu minggu. Yang ketiga kalinya aku sempat mengingat wajahnya dan berencana mengajaknya kenalan. Tapi dia sama sekali tidak pernah kembali.


Sekarang dia sudah kembali, aku harus menjaganya agar dia tidak pergi lagi. Apa yang harus aku lakukan jika dia mengingat semuanya dan pergi meninggalkanku?


Aku memegang kedua bahunya, mencoba membantunya menegakkan tubuh. Kemudian saat dia sudah duduk tegak, aku menatap matanya dalam–dalam.


“Saena–ya, apa kamu mau menikah denganku?” Dia terkejut, kedua pipinya memerah.


“Ke–kenpa secepat itu?” Dia berkata dengan gugup, mungkinkah dia memang sudah mengingat semua. Apa dia memang mempunyai niat untuk meninggalkanku?


“Aku ingin mengikatmu dan tidak akan membiarkanmu terluka lagi.”


“Beri aku waktu untuk mengembalikan ingatanku, apa kamu mau menikah dengan wanita yang sedang mengidap amnesia?” Penolakannya membuatku sedikit bernapas lega.


“Apa mungkin jika aku melakukan ini, kamu akan mengingat semua?” Aku mendekatkan wajahku pada wajahnya.


“Jangan!” Teriaknya, dia kemudian melihat ke kanan dan ke kiri. Seperti mencoba memastikan jika lingkungan sekitar sepi. Aku tersenyum melihat tingkah lucu Dea, dia sangat menggemaskan.


Sepertinya ini sudah masuk waktuku untu mencari tahu tentang Dea, dengan itu mungkin aku bisa mencegahnya kembali. Setidaknya aku harus bergerak cepat sebelum Dea ingat semuanya.

__ADS_1


o0o


 


__ADS_2