
San memandang kedua orang yang dia anggap paling penting dalam hidupnya, mereka berdua sama-sama sedang terbaring tak sadarkan diri. Di atas brankar yang terpisah tapi masih bersebelahan, mereka berdua masih tertidur tenang.
“Apa kalian tahu? Bahkan saat ini musim semi. Aku ingin sekali melihat kalian berdua berjalan bersama di festival bunga musim semi.” San berkata dengan dipenuhi kesedihan. San mulai membuka buku yang sejak tadi sudah besarang di tangannya.
Tentunya iklim di Korea tidak sama dengan di Indonesia, saat seperti ini kami masih menggunakan pakaian tebal. Sinar matahari tidak akan menghangatkan, hanya menerangi layaknya lampu pijar. Tapi cherry blossom beremekaran dengan indanya.
Aku memiliki rencana untuk mengajak kekasihku ke festival yang selalu diadakan ketika musim semi tiba. Waktu yang terbaik sebenarnya saat sebelum matahari terbenam, tapi karena aku terlalu sibuk. Kami akhirnya datang saat langit sudah gelap.
“Apa? Kenapa ceritanya payah begini? Apa ini cerita sedih? Wah sepetinya aku salah pilih buku!” San mengomel pada buku yang saat ini dia pegang. Tapi dia tetap meneruskan membaca.
Spot pertama yang kami kunjungi adalah romance bridge, mungkin bisa jadi tempat yang kami pijaki saat ini lebih indah saat malam hari. Sinar lampu berpadu menjadi satu dengan cherry blossom, membuatnya terlihat bersinar. Terlihat sangat indah. Entah kenapa acara ini disebut festival cahaya bintang, mungkin karena cherry blossom di atas sana terlihat bercahaya seperti bintang.
“Woah, aku bisa merasakan betapa indahnya itu. Kalian berdua dengar itu? Lekaslah bangun, kalian pasti juga ingin kan membuat kenangan yang indah?” San tetap saja mengajak bicara dua pasien yang tak sadarkan diri itu.
“Dengarkan aku baik-baik Seonghwa, Saena-ya dengarkan kakakmu ini!” Kini San terlihat serius.
“Saat kamu berhasil menangkap bunga yang terjatuh, maka kamu akan segera bertemu dengan cinta sejatimu!”
San tersenyum setelah mengatakannya, dalam hati dia sedikit berharap mimpi kedua pasangan yang sedang koma itu seindah cerita yang dia baca.
“Apa yang kau lakukan?” Tanya Yeosang yang baru memasuki ruangan, dia memandang San dengan tatapan aneh.
“Aku membacakan sebuah cerita yang indah untuk mereka.” Jawab San, dia masih saja fokus pada buku yang ada di tangannya. Yeosang yang sudah ada di dekatnya pun tak dia gubris.
“Cerita indah yang kau bacakan akan membuat mereka betah di alam mimpi.” Celetuk Yeosang. San menatap Yeosang, lalu dia menutup bukunya dan kemudian tiba-tiba saja meninggalkan ruangan itu. Tapi sebelum pergi, San meninggalkan buku yang dia bawa tadi di atas nakas yang memisahkan brankar kedua pasien koma.
~~~
Beberapa menit kemudian San kembali, Yeosang masih setia berada di ruangan itu.
“Dari mana ?” Tanya Yeosang pada San.
“Kamar mandi.” Jawan San singkat. Pemuda itu mengambil buku yang tadi dia letakkan di atas nakas. Dan kembali membacanya.
Yeosang hanya memperhatikan San yang sangat setia membacakan cerita cherry blossom untuk kedua pasien itu. Ini mungkin sedikit aneh, tapi Yeosang membiarkannya saja. Tapi Yeosang sedikit khawatir pada San, sejak Saena dan Seonghwa tidak sadarkan diri. San menjadi seperti itu.
“Ayo pergi ke festival, kita carikan bunga untuk mereka berdua.” Kata-kata Yeosang membuat San menghentikan aktifitas membacanya. Mata pemuda itu berbinar. Akhirnya kedua pemuda itu sama-sama meninggalkakn ruang rawat.
Beberapa menit dan jam berlalu, akhirnya kedua pemuda tadi kembali. San terlihat sangat bahagia dengan sebuah bunga yang ada di tangannya. Dengan penuh semangat San meraih kembali buku yang ada di atas nakas. Dia membalik beberapa halaman dan mulai membaca.
Aku mendapatkannya, mendapatkan bunga itu.
Aku berjalan dengan tempo cepat ke arah kekasihku, ku lihat dia juga sudah mendapatkan bunga. Tapi aku tidak sanggup melangkah lagi saat ku lihat ada seorang gadis yang mendekatinya. Padahal jarak kami sudah cukup dekat.
__ADS_1
“Apa? Kenapa ceritanya payah sekali?!” Omel San, dia menutup buku.
“Lihatlah mata Saena mengeluarkan air mata.” Yeosang terlihat sangat terkejut. San pun juga sama terkejutnya seperti Yeosang.
“Maafkan aku, aku salah memilih buku.” San terlihat sangat menyesal. San memandang bunga yang telah dia peroleh, pemuda itu memberikannya pada Seonghwa. Lebih tepatnya meletakkan bunga itu di tangan Seonghwa.
“Mana bunga untuk Saena? Bukankah kau tadi membawanya?” San menatap Yeosang yang juga masih menatapnya dengan penuh kebingungan.
“Ah sepertinya aku meninggalkannya di mobil.” Yeosang terlihat mencari-cari.
“Aku akan mengambilnya, tunggu aku Saena-ya, aku akan mengambil bungamu yang tertinggal di mobil Hongjoong.” San berlari dengan cepta ke luar dari ruang rawat.
Beberapa menit kemudian pemuda itu kembali dengan membawa bunga, dengan secepat kilat dia menyelipkan bunga itu di tangan Saena.
“Hentikan! Kau belum makan sejak tadi pagi. Ayo makan.” Yeosang menyeret San dengan paksa keluar dari ruang rawat.
~~~
Meskipun sangat sulit membujuk San agar mau makan, tapi setidaknya Yeosang masih bisa mengusahakan hal itu. Kini dia telah kembali ke ruang rawat, San masih pergi ke kamar mandi. Dengan cepat Yeosang mengambil bunga milik Saena yang terjatuh di lantai, dia juga mengambil bunga milik Seonghwa yang masih ada di tangannya. Kemudian meletakkan bunga itu di kantung baju yang dia kenakan.
Yeosang berharap San akan lupa dengan kedua bunga itu.
“Hwanwoong si pemimpin, Leedo si wajah bayi tapi suaranya tak sesuai dengan wajahnya, Seoho si mata sipit, Xion si baik hati dan yang paling muda, lalu Ravn atau Kino kakak sepupumu dan satu orang lagi Keonhee yang wajahnya hampir mirip dengan Yunho. Mereka adalah orang-orang naga putih yang sedikit merepotkan!” Kata San.
San mulai bercerita panjang lebar soal kastil yang dimiliki pihak naga putih, dia menceritakannya sedetail mungkin.
Seseorang membuka pintu, Yeosang melihat nenek dari Saena memasuki ruangan.
“Kenapa dia mengeluarkan air mata?” Wanita itu mengusap air mata yang membasahi wajah Saena.
Nenek Saena baru pulih, sebenarnya beliau sudah tidak enak badan sejak setelah pesta. Mungkin saja terlalu lelah dengan pesta yang digelar selama berhari-hari.
“Berhentilah bercerita! Sepertinya Saena bisa mendengar ceritamu.” Yeosang berusaha menghentikan San.
“Aku hanya ingin menyampaikan cerita yang sangat sulit sekali ku sampaikan.” Kata San.
“Kau kan bisa menceritakannya saat Saena sadar.” Yeosang kembali mencoba menahan San.
“Cerita apa yang kalian maksud?” Nenek Saena mengajukan sebuah pertanyaan, menandakan jika beliau juga penasaran dengan cerita San.
__ADS_1
San menjelaskan dan mulai bercerita tentang kisah Seonghwa dan dirinya di masa lalu. Mulai dari kisah cinta Seonghwa dengan Yeji sampai menghilangnya Joonyoung salah satu teman mereka. Lalu dilanjutkan kisah cinta San yang sangat tidak menyenangkan.
~~~
Pagi ini semua berkumpul di ruang rawat, anggota naga merah terhitung lengkap. Mereka semua berpakaian rapi, seperti akan menghadiri acara khusus yang sangat formal.
“Hyung, Joonyoung sudah ditemukan. Dia hari ini akan menikah dengan Yeji, apa kau tidak ingin bangun? Ajak Saena bersamamu menghadiri acara itu.” Wooyoung mencoba berkomunikasi dengan Seonghwa yang masih setia terbaring.
“Aku harap kau akan memaafkan Joonyoung sama seperti kau memaafkanku Hyung.” Lanjut Wooyoung.
Seseorang membuka pintu, dia adalah pemuda yang baru saja namanya disebutkan oleh Wooyoung. Pemuda itu masuk dengan senyumannya, disambut senyuman oleh ketujuh orang yang ada di ruangan itu. Mereka melakukan gerakan salam seperti saat bertemu dengan sahabat yang sudah lama tidak mereka temui. Ada juga yang mengatakan umpatan karena kesal melihat Joonyoung muncul dengan sangat mengejutkan.
“Hyung, aku harap kau cepat sadar dan segera nikahilah wanita itu jika kau benar-benar mencintainya!” Joonyoung berbicara pada Seonghwa. Pemuda itu kini berjalan ke arah brankar Saena.
“Gwaenchana.”
“Aku harap kalian segera sadar, Joonyoung sudah menyempatkan waktunya untuk ke sini sebelum melangsungkan pernikahannya dengan Yeji demi kalian berdua. Setidaknya jangan buat hal itu menjadi sia-sia.” Yunho sedikit terisak.
“Kami akan menjadi saksi untuk Joonyoung dulu, kalian cepatlah sadar!” San berpamitan.
Setelahnya ruang rawat Seonghwa dan Saena kembali sepi.
~~~
Nyonya besar kewalahan menyeka air mata yang sejak tadi keluar dari kedua mata cucunya yang kelopaknya masih tertutup. San, dia masih dengan setia berdiri di samping nyonya besar. Di sebelah San ada Yeosang, di sebelahnya lagi ada Yunho, Hongjoong dan Wooyong. Tidak jauh dari situ ada Jongho dan Mingi yang dengan setia berdiri di dekat brankar Seonghwa.
“Saena-ya, jangan seperti ini. Kenapa kau selalu berada di titik ini?” San menggenggam tangan Saena.
“Saena-ya, ku mohon buka matamu!” San berbisik ke telinga Saena.
Keajaiban terjadi, Saena mulai membuka kelopak matanya dengan perlahan. Setelah matanya benar-benar terbuka, gadis itu menatap San yang tersenyum padanya.
“Seonghwa-hyung juga sudah membuka matanya!” Seru Jongho. San melepas pegangan tangannya, dia pergi meninggalkan Saena. Kini nyonya besar dengan penuh air mata memeluk Saena yang masih terbaring.
Ruangan dipenuhi dengan suara tangis penuh haru sang nyonya besar, lalu seruan kemenangan dari para lelaki dalam menyambut sadarnya sang pemimpin. Tentu mereka bahagia dengan sadarnya kedua pasangan itu. Sedangkan mereka yang baru sadar dari koma masih berekspresi kosong, sepertinya mereka masih butuh sedikit waktu untuk menyadarkan diri sepenuhnya.
o0o
__ADS_1