Sleeping Beauty

Sleeping Beauty
Sudut Pandang Berbeda


__ADS_3

Misteri hari itu terpecahkan, Ayah menyuruhku pulang lebih awal untuk membicarakan tentang pertunanganku dengan Dea. Awalnya aku merasa heran dengan perintah beliau, karena selama ini yang ayah tahu Dea itu pasienku yang memberikan takdir baik untuknya. Atas dasar apa ayah bertindak sejauh ini? Bahkan meminta putranya bertunangan dengan gadis asing.


Diangkatnya Dea menjadi sebagian dari keluarga Choi saja cukup membuatku heran, apa lagi perintah untuk bertunangan dengan Dea.


“Wah kalian berdua selamat ya!” Kata Yeosang.


“Ternyata benar, wanitamu mampu membuat kita berkumpul kembali.” Sahut San.


“Wah enak sekali San, dia menjadi kakak ipar Seonghwa hyung.” Gerutu Mingi.


“Aku sebagai anggota termuda mengucapkan selamat untuk kalian.” Kata Jongho.


“Wooyoung–ah, Yunho–ya! Makannya diteruskan nanti saja, sini berikan ucapan pada mereka berdua!” Hongjoong mengomando kedua bayi besarnya yang masih asik makan.


“Selamat ya, Saena–ya setidaknya keberadaanmu akan membuat Seonghwa hyung sedikit manis.” Yunho berbicara sedikit berbisik pada Saena. Tapi aku bisa mendengarnya, aku memberikan lirikan mata yang tajam padanya.


“Ah sudahlah aku mau makan saja.” Yunho kabur meneruskan makannya yang sempat tertunda.


“Yak Yunho! tunggu aku! selamat ya kalian. Aku permisi dulu.” Wooyoung pergi menyusul Yunho. Wooyoung dan Yunho masih sama, mereka berdua masih suka makan dan masih saja menempel pada Hongjoong.


“Siapa yang memilih cincinnya?” Hongjoong memang biasa menanyakan hal yang menurutku itu sama sekali tidak penting.


“Tentu saja kami berdua.” Memang itu bohong, yang memilih cincinnya tentu saja aku. Aku tidak mungkin mau menyamakan desain cincin pertunangan kami dengan cicin lama milik Dea. Aku sudah menyerahkan cincin itu pada salah satu dari ketujuh kawanku untuk dimusnahkan.


“Ooo kalian pasangan yang serasi, apa sudah menentukan tanggal pernikahan?” tanya Hongjoong lagi.

__ADS_1


“Yaak Hongjoong hyung kenapa kau cerewet sekali. Sini ayo kita makan!” Mingi menarik Hongjoong.


“Lebih baik kita beri mereka berdua waktu bersama.” Jongho menggiring anak–anak yang lain untuk bergabung dengan mereka yang sedang makan.


Suasana canggung pun dimulai, meskipun kini Dea sudah menjadi tunanganku. Tetap saja aku belum bisa akrab dengannya, dia justru paling dekat dengan Yeosang.


“Apa kamu ingin makan juga?” Pertanyaan bodoh macam apa yang ku lantunkan tadi. Tanpa sadar aku membuka jalan Dea untuk bergabung dengan ketujuh kurcaci rakus itu. Aku berkata asal, karena pilihan kata–kata untuk berbincang dengannya itu memang kosong.


“Apa kita bisa pindah ke tempat yang lebih sepi? Aku ingin menyampaikan sesuatu padamu.” Ada apa ini? Kenapa dia malah meminta agar kita ke tempat sepi? Aku menganggukkan kepala dan mulai menggandeng tangannya menuju ke tempat yang minim keramaian.


 ~~~


Sayang sekali, jika saja ponsel Seonghwa tidak berdering mungkin aku sudah mengatakan yang sejujurnya. Aku berencana jujur padanya hari ini, aku ingin dia tahu jika sebenarnya aku tidak sedang amnesia. Dia menyuruhku bergabung dengan teman–temannya, karena kemungkinan dia akan pergi meninggalkan pesta cukup lama.


“Kemana Seonghwa hyung? Kenapa noona sendirian?” Salah seorang teman Seonghwa menghampiriku.


“Tunggu, sepertinya kau mirip dengan seseorang noona.” Katanya padaku. Aku sepertinya juga mengenali wajah laki–laki ini, dia mirip sekali dengan teman Kak Kino.


“Aa sekarang aku ingat, kau mirip dengan adik sepupu temanku yang tinggal di Indonesia. Namanya Kino.” Dia memamerkan senyum manisnya.


“Apa wajahku terlihat seperti laki–laki?” Aku mencoba menutupi rasa gugupku.


“Ah bukan, Kino itu nama temanku. Adik sepupu Kino mirip sekali denganmu, sayangnya aku lupa nama gadis itu.” Lagi–lagi dia memamerkan gigi putihnya padaku.


“Wooyoung–ah kenapa masih disitu? Cepat ajak Saena kemari.” San berteriak pada kami.

__ADS_1


Akhirnya aku bersama dengan laki–laki yang ternyata mengenalku sebagai Dea, bergabung dengan yang lainnya. Tapi saat ini pikiranku masih terfokus pada dirinya, Wooyoung. Aku memutar ingatan, mencoba mencari ingatan tentang Wooyoung.


Jangan–jangan Wooyoung adalah Alex, teman Kak Kino yang berasal dari Amerika. Selama ada Kak Kino di rumahku, aku sering melihat ada pemuda bernama Alex yang berkunjung. Wooyoung sangat mirip dengan Alex.


“Saena–ya, ada apa?” Yeosang mungkin mempertanyakan diamnya diriku.


“Tidak, aku hanya ingin mendapatkan ingatanku yang hilang.” Dan aku hari ini melakukannya lagi, mengakui jika aku sedang amnesia.


“Apa kau seperti ini karena merasa tunanganmu bersikap dingin?” Aku menatap Yeosang.


“Tenang saja, Seonghwa hyung sebenarnya tidak sedingin seperti yang ada di benakmu.” Kata–kata Yeosang membuatku tersenyum. Ucapan Yeosang memang selalu membuatku tenang, dia itu seperti saudara laki–lakiku.


“Kemana Seonghwa? Kenapa kau malah bersama dengan Yeosang?” Kini San yang datang.


“Ooo lihatlah, sepertinya kakakmu juga ikut khawatir Saena–ya.” Yeosang mulai menggoda San.


“Ada apa? apa terjadi sesuatu diantara kau dan Seonghwa?” Baru kali ini San menatapku dengan penuh kehawatiran.


“Tenang saja, Seonghwa sedang sibuk seperti bos pada umumnya.” Yeosang mendahului kata yang ingin ku utarakan.


“Kalau begitu aku bisa kembali makan dengan tenang.” Kata San, dia meninggalkan kami berdua.


Sedikit aneh memang sikap yang San tunjukkan, tapi kenapa aku harus memusingkan itu. Justru itu akan bagus untuk kelangsungan hidupku sebagai Choi Saena. Perbincanganku dan Yeosang belanjut, mulai dari resep untuk meluluhkan Seonghwa sampai cerita tentang pertemanan kedelapan kurcaci.


Yeosang bilang jika mereka semua membubarkan diri masing–masing saat mengetahui Seonghwa kabur. Lucunya Yeosang kabur ke Indonesia sama seperti Seonghwa, dan kebetulan mereka selalu di tempatkan bersama. Seperti takdir. Mungkin itu alasan kenapa Seonghwa lebih dekat dengan Yeosang daripada dengan yang lain.

__ADS_1


o0o


 


__ADS_2