
Kepalaku sangat sakit, lebih sakit dari saat kepalaku terbentur dinding. Badanku rasanya sangat dingin, aku sama sekali tidak bisa bergerak. Aku sangat ingin berteriak, tapi rasanya suaraku tertahan, mulutku sama sekali tidak bisa terbuka. Kelopak mataku susah untuk dibuka, rasanya seperti ada lem yang menahannya. Apa aku sedang di ambang kematian? Apa aku sebentar lagi akan mati?
Kenapa semakin dingin tubuhku rasa takutku juga semakin meningkat? Lalu dimana malaikat maut yang akan menjemputku? Apa dia belum sampai? Katanya saat nyawa terlepas dari raga itu akan terasa sangat sakit. Aku sangat takut, rasa hangat menyelimuti kepalaku. Rambutku sebagian rasanya sudah basah, apa cairan hangat itu darahku? Seperti apa aku saat ini? Jika saja aku bisa membuka mata. Aku pasti bisa melihat orang yang mendorongku.
Aku mulai bisa membuka mata, tapi pandanganku sangat kabur. Aku bisa membuka mulutku tapi aku sama sekali tidak bisa mengeluarkan suara. Sampai akhirnya aku kehilangan kesadaran.
Beberapa menit sebelum itu, aku sedang berdiri di sisi bagian balkon kamarku yang belum diberi dinding pengaman. Seperti biasa, aku hanya memandangi keindahan langit. Dari atas balkon langit terasa begitu dekat denganku, karena itu aku sangat suka berlama–lama di balkon. Seharusnya saat aku berada di balkon malam itu, semua orang tengah terlelap. Balkon tempat kejadian perkara juga langsung terhubung ke kamarku, tidak ada jalan atau akses lain untuk ke balkon selain melalui kamarku. Lalu bagaimana bisa orang itu berada di balkonku?
Aku yakin ada yang mendorongku. Tangan seseorang yang entah itu siapa, menempel di bahu kananku. Dorongannya terasa sangat lembut tapi juga penuh tenaga. Sayangnya, aku tidak sempat melihat wajahnya. Aku sibuk menutup mata karena terlalu takut memikirkan betapa sakitnya saat mendarat. Sungguh, meskipun aku sangat ingin bunuh diri, tapi aku tidak pernah berpikir untuk menjatuhkan diri dari ketinggian. Atau mengiris nadi di tangan, bagiku itu sangat mengerikan.
Aku tidak menyangka, selain aku sendiri yang memang ingin sekali mati, ada orang lain yang juga mengharapkan kematianku. Siapa dia? Aku juga tidak tahu, bagaimanapun dia adalah orang yang berada di rumahku malam itu. Ayah dan mama ada di rumah, aku anak tunggal. Kalau tidak salah malam itu saudara sepupuku juga ada di rumah, mereka kakak beradik. Kak Kino dan Kak Kinan, Kak Kino seumuran dengan tunanganku. Sedangkan Kak Kinan seumuran denganku, jika saja dia bukan anak bude pasti aku tidak akan memanggilnya kakak.
Kak Kino orang yang sangat menyebalkan, dia suka menyuruh seenaknya sendiri. Berbeda dengan Kak Kinan, dia sangat baik padaku. Kak Kinan sudah seperti kakak kandungku. Dia selalu mendengarkan curahan hatiku, selalu memberiku nasihat.
Intinya Kak Kinan lebih baik daripada Kak Kino.
Apa aku masih bisa bangun lagi? atau aku akan mati perlahan?
Bagaimana perasaan tunanganku? Jujur aku khawatir padanya. Tapi jika mengingat lagi tentang diriku yang terlalu kekanakan, akan lebih baik jika aku mati saja.
~~~
Mundur lagi, pagi menjelang siang Kak Kino sudah pulang dari tempat kerjanya. Tidak biasa dia pulang lebih awal, atau mungkin sebenarnya dia sudah selesai dan akan kembali ke kotanya. Kak Kino bekerja dibawah naungan ayahnya, nantinya dia juga yang akan meneruskan pekerjaan sang ayah. Kak Kino dan Kak Kinan sebenarnya bertempat tinggal di kota yang terpisah denganku, tapi karena kepentingan, mereka sering sekali mengunjungiku sekaligus menginap.
Kedua orangtuaku masih belum pulang, Kak Kinan juga belum pulang. Sepertinya kak Kino dikirimkan tuhan untuk menemaniku agar tidak kesepian.
Aku tidak menyapanya, aku hanya melihat kedatangannya dari kejauhan. Meskipun dia spupuku, tapi rasanya asing bagiku. Aku hanya dekat dengan Kak Kinan, sedangkan dengan Kak Kino aku tidak terlalu dekat. Mungkin karena perbedaan gender, entahlah tapi rasanya aneh jika aku terlalu akrab dengan laki–laki kecuali ayah dan tunanganku.
Pintu kamarku ku biarkan terbuka lebar dan aku berjalan ke arah balkon kamar, seperti biasa aku berdiri di sana. Mungkin ini sekitar jam sepuluh atau bisa jadi sudah jam sebelas siang, panas matahari tidak akan bisa membakar kulitku. Karena balkon kamarku sudah dilengkapi dengan atap.
Sebuah tangan melingkar di pinggangku, sebuah kepala juga tengah bersandar di bahu kananku. Aku membalik badan, dan benar saja kak Kino berada di hadapanku. Dia menunjukkan senyumnya padaku, kemudia dia menutup matanya dan mencondongkan wajahnya. Aku menghalangi wajahnya dengan tangan, saat bibirnya hampir menyentuh bibirku.
Kak Kino membuka matanya, dia tersenyum lalu dengan cepat menarik tanganku. Tubuhku oleng ke depan dan jatuh ke pelukan kak Kino, aku buru–buru melepaskan pelukannya dan memberi jarak yang cukup jauh darinya. Aku sudah terbiasa dengan perlakuan kak Kino yang seperti ini, dia sedang berusaha mendapatkan diriku. Hah kenapa aku jadi seperti barang, aku benci situasi ini.
__ADS_1
“Beri aku kesempatan, tinggalkan Angga! Aku janji akan membahagiakanmu.” Dia berkata sambil melangkah maju.
“Stop! berhenti disitu!” Aku juga ikut mundur, berusaha menjaga agar jarak yang kuberikan padanya tetap sama.
“Apa kamu akan tetap bertahan dengan Angga? Kenapa kamu naif? Kenapa kamu tidak mau mengakuinya?” Kini kak Kino berhenti.
“Tentu saja aku akan tetap mempertahankan Angga, dia itu orang yang berarti untukku.” Ya, benar seperti itu. Meskipun aku merasa gagal dan ingin kabur saja daripada terus mengecewakannya.
“Pikirkan lagi, tetap bersama dengannya akan membuatmu berada dalam posisi yang sulit.” Kak Kino menatapku dengan penuh kesedihan. Ya, mungkin itu memang benar.
“Tapi bersamamu juga akan membuatku berada di posisi yang sulit. Bahkan mungkin lebih sulit dari saat ini.” Mungkin bisa saja aku jadi dibenci oleh keluargaku sendiri karena menjalin hubungan dengan sepupu sendiri.
“Lebih baik kau mati saja di tanganku, daripada terus menjadi boneka Angga.” Ya, aku setuju dengan kata–kata Kak Kino, aku memang sudah lama ingin mati. Jika saja Kak Kino bisa membuktikan kata–katanya, aku akan sangat senang saat dia benar–benar membunuhku. Tapi sayangnya itu hanya kata–kata yang mampu dia katakan, dia sudah tiga kali mengatkan hal dengan maksud yang sama.
~~~
Malam itu setelah pesta pertunanganku, aku sedang duduk di ayunan yang berada di taman belakang rumah. Seseorang mendekat, aku mendengar langkah kakinya yang bergesekan dengan rumput. Perlahan aku memalingkan kepalaku, ku lihat Kak Kino berdiri satu meter dariku.
“Kenapa kamu masih di luar? Ini sudah malam.” Tergurnya.
“Kakak sendiri juga kenapa masih diluar?” Aku balik menegurnya, tak biasanya dia seperti itu. Dia sedikit aneh malam ini. Bahkan sebelum acara pertunanganku dimulai, dia sempat menumpahkan jus jeruk ke pakaianku. Tentu saja itu disengaja, bahkan aku sendiri yang menjadi saksi atas kejadian itu. Tidak hanya itu saja, aku juga sempat terkunci di kamarku sendiri dan aku yakin Kak Kino yang melakukan hal itu. Beruntung ada Kak Kinan yang memukulnya dan berhasil mengeluarkanku dari kamar.
“Apa ada yang ingin kakak katakan ? Kenapa kakak selalu melakukan hal yang menyebalkan pada waktu yang tidak tepat?” Aku kembali bertanya, karena sejak tadi dia masih saja diam.
“Jangan naif, akui saja apa yang kamu lihat. Apa kamu akan tetap seperti ini?” Ucapan Kak Kino malah membuatku semakin bingung.
“Jika kamu ingin kita bekerja sama, aku sudah memiliki rencana yang bagus untuk dirimu. Bukankah kamu ingin mati sejak lama?” Kini dia mengeluarkan sebuah pisau dapur bergagang hitam.
Aku tidak tahu jika Kak Kino benar–benar seperti itu, pasalnya selama ini yang ku tahu Kak Kino memang mempunyai sebutan psycho.
“Jadi kamu ingin seperti apa? Ditikam tepat di jantung..” Ucapannya terhenti karena kini aku berdiri.
__ADS_1
Tentu saja aku takut melihatnya seperti itu, apa Kak Kino benar–benar memiliki penyakit mental? Apa dia benar–benar seorang psychopath? Ini mengerikan, meskipun aku ingin mati, aku juga ingin mati dengan damai. Tidak seperi ini.
“Waktumu tidak banyak, mereka sudah memiliki rencana. Akan lebih baik sakit fisik tapi nanti kau akan damai. Aku yakin kamu tidak mau kan jadi arwah pendendam?” Kata Kak kino. Melihatnya berdiri seperi itu dengan pisau dan sorot matanya yang mengerikan, apa lagi dengan pencahayaan yang minim. Kak Kino terlihat sangat menyeramkan.
“Kalian sedang apa? Ini sudah malam!” Suara teriakan Kak Kinan membuatku bebas, aku segera berlari menghampiri Kak Kinan tanpa mempedulikan kak Kino.
~~~
Sedikit maju, tapi masih mundur.
Sehari setelah pertunanganku dengan Angga, aku hanya menghabiskan hari–hariku di kamar. Aku hanya akan keluar dari kamar saat makan malam dan kebutuhan lainnya. Dan ini adalah saatnya tidur, aku belum bisa menutup mata. Rasanya sulit sekali menutup mata ini.
Seseorang mengetuk pintu kamarku, malam–malam seperti ini siapa yang masih terjaga? Apa Kak Kinan tidak bisa tidur lagi? Apa Kak Kinan ingin tidur bersamaku? Kakak sepupu perempuanku yang satu itu memang sering sekali tidak bisa tidur sendiri, sebenarnya dia tidak sendiri. Kak Kino juga tidur bersamanya, mereka terpisah ranjang. Tapi meskipun seperti itu, Kak Kinan masih saja merasa sendirian. Jadi tak heran jika dia mengetuk pintuku di tengah malam.
Aku membuka pintu, seketika aku terpatung.
Kak Kino dengan seringainya tengah berdiri di hadapanku, belum sempat aku menutup pintu. Dia sudah lebih dulu mendorongku, lalu dia menutup pintu kamarku dengan satu gerakan. Aku mulai berlari ke balkon, tapi lagi–lagi aku kalah cepat dengannya. Dia menarik tanganku, menjatuhkanku ke tempat tidur, adegan selanjutnya dia menindih tubuhku.
Kedua tangannya berada di leherku, dia berusaha mencekikku. Tapi tangan itu hanya menempel, belum menekan leherku.
“Jadi apa kau ingin mati tanpa merasakan sakit?” Pertanyaannya membuatku terkejut.
“Tentu saja aku tidak akan bisa melakukan itu.” Kini dia beralih membaringkan tubuhnya disebelahku. Ingin rasanya aku berteriak, tentu aku takut ada hal yang tidak baik terjadi padaku. Tapi jika aku berteriak, apa orang tuaku akan mempercayaiku?
“Karena aku sudah terlanjur ada disini, bagaimana jika kita melakukannya?” Dengan cepat aku mendorongnya. Tidak sesuai rencana, aku terguling jatuh ke bawah tempat tidur. Seharusnya sebelum mendorong Kak Kino, aku menyadari lebih dulu jika aku lebih ringan darinya.
Tapi ini adalah kesempatan yang bagus untuk kabur dari Kak Kino, aku bangkit dan segera berlari. Ku buka pintu balkon dan aku menguncinya dari tempatku.
o0o
__ADS_1