
Saena menempatkan kembali sang bayi di gendongan tangannya, Saena juga memastikan sang bayi agar tetap nyaman. Kemudian gadis itu beridiri, dia menyebarkan pandangan ke sekelilingnya. Sebuah mobil melitas dengan kecepatan tinggi. Membuat Saena yang saat ini berdiri di tepi jalan merasakan efek hembusan angin yang cukup kencang. Bau bayi menguar begitu saja masuk ke hidung, memekakan indera penciuman Saena.
Saat itu juga Saena mengenali tepi jalan dengan beberapa rumah dan ruko itu. Ingatannya kembali pada saat di mana dia baru dibawa ke tempat ini setelah dari pusat perbelanjaan. Tentu saja Saena bisa melihat jalan. Matanya tidak ditutup. Selain itu Saena juga selalu mendekap sang saudara sepupu balitanya itu. Jadi wajar jika bau balita itu membangkitkan ingatan Saena.
Ya, Saena mengingatnya. Kini dia tahu harus pergi ke arah mana. Rasanya seperti djavu. Saena terus berjalan sambil otaknya terus bekerja mengambil memori beberapa jam yang lalu. Meskipun tidak bisa membaca hangeul. Setidaknya bentuk hangeul dan warna papan nama ruko bisa ditandai sebagai pengingat jalan.
Ada sebuah toko.
Papan nama toko dengan warna campuran langit senja. Ungu, merah muda dan biru muda berhasil dikenali Saena. Ada gambar bunga di papan nama itu dan juga ada tulisan menggunakan abjad. Magic Shop itulah bunyi tulisan di papan nama yang warnanya indah itu. Itu toko bunga, iya ingatan Saena masih segar. Toko bunga yang menurut Saena unik itu berhasil meresap ke dalam ingatan Saena.
Saena masih berdiri di depan toko bunga itu. Mencoba memastikan dalamnya. Toko dengan nama magic shop dan diisi dengan beragam bunga yang memilik warna berbeda itu nampak indah dari luar. Sama seperti namanya. Sangat indah dan misterius.
Bunga memiliki makna masing-masing. Bunga juga memiliki makna yang diambil dari warnanya. Ada juga yang memaknai bunga berdasarkan jumlahnya. Karena itu meskipun misterius tapi indah.
Jika tidak salah setelah toko bunga, berjarak satu toko lagi ada jajaran ruko. Setelah itu baru ada sebuah persimpangan yang tidak terlalu ramai. Saena terus berjalan sampai menemukan jalan yang tadi diingatnya dilewati oleh mobil sang penculik. Saena dengan yakin melangkah ke jalan itu.
Langkah Saena terhenti. Gadis itu mendekap erat sang bayi dan langsung saja menutup kedua matanya.
Ciiiiit..
Seonghwa menginjak pedal rem mobilnya secara mendadak. Jika telat mungkin dia sudah menabrak seseorang yang tiba-tiba saja muncul dari arah yang berlawanan itu. Seonghwa membuka lebar kedua kelopak matanya menatap orang yang baru saja hampir dia tabrak. Secepat kilat pria itu keluar dari mobilnya. Dia menghampiri orang yang berjenis kelamin perempuan itu.
Yang mengira itu adalah Saena. Maaf saja itu bukan Saena.
Seonghwa cepat-cepat turun dari mobil karena melihat wanita itu mengaduh memegangi perutnya. Yang pasti Seonghwa ingin memastikan sang perempuan itu dalam kondisi baik. Seonghwa tadi terlihat terkejut dan membuka kelopak matanya lebar-lebar karena perut buncit sang wanita.
Akhirnya Seonghwa bertanggung jawab dengan mengantarkan wanita itu ke tempat yang dia tuju.
Tiiing..
Lonceng kecil yang menempel di kusen pintu itu berbunyi. Menandakan jika ada seorang pelanggan masuk. Seorang perempuan dan seorang pemuda.
“Pilih bunga yang kamu suka!” Kata laki-laki yang tidak lain adalah Joonyoung itu. Balita yang tadinya berada di gendongan Saena, kini sudah berpindah tangan.
Mari kita mundur sebentar.
Saena membuka matanya saat merasakan ada tangan yang menggenggam tangannya dengan kuat. Joonyoung, dialah yang hampir menabrak Saena dengan mobilnya. Joonyoung menarik Saena begitu saja dan menyuruh gadis itu agar segera masuk ke dalamnya. Dan akhirnya mereka mengunjungi toko bunga yang bernama magic shop.
__ADS_1
Saena dengan ragu maju ke deretan bunga yang ada tidak jauh darinya. Sebenarnya gadis itu ragu untuk memilih. Terlebih lagi di depan tadi dia sempat membaca ada tulisan closed yang biasa menandakan jika toko sedang tutup. Tidak hanya itu, sang penjaga toko juga tidak terlihat.
Saena terus memperhatikan sekitarnya, mencoba mencari adakah orang di toko bunga itu. Namun nihil. Akhirnya dengan pasrah gadis itu menjelajahi deretan bunga warna-warni itu. Meskipun sebenarnya Saena merasa ada yang janggal.
Door!
Seonghwa dan wanita hamil yang baru turun dari mobilnya terkejut mendengar suara tembakan yang berasal dari dalam toko bunga.
“Sebaiknya anda di sini saja, biar saya yang memeriksanya!” Seonghwa mencegah wanita yang sudah mulai melangkahkan kakinya itu. Wanita hamil itu hanya tersenyum simpul dan menganggukkan kepalanya.
Seonghwa mulai melangkahkan kakinya dan berjalan ke arah di mana toko bunga berada.
Sepanjang perjalanan tadi sang wanita yang sedang hamil itu terlihat akrab dengan Seonghwa. Wanita itu sebenarnya tadi menolak. Tapi karena perutnya sakit dan sepertinya susah berjalan, dikarenakan kandungannya yang sudah lumayan besar. Akhirnya wanita itu mau dan minta diantar ke toko bunga miliknya. Karena tujuan awal wanita itu memang toko miliknya.
Seonghwa membuka pintu toko bunga yang tertutup itu. Lonceng yang menempel di salah satu kusen pintu toko itu berbunyi.
Seonghwa memeriksa toko bunga ke setiap sudutnya. Yang pertama dia temukan adalah sepupu San. Bayi kecil itu sedang duduk di sebelah..
Seonghwa membelalakkan matanya.
Saena tertidur dengan baju penuh cairan merah. Cairan itu berasal dari perutnya. Di sebelah Saena juga ada banyak tanah berserakan yang keluar dari sebuah pot bunga yang sudah pecah.
Dia mematung. Air matanya perlahan mengalir dari pelupuk matanya.
Pandangannya kabur.
“Hyung!” Terdengar seruan Joonyoung.
“Lihatlah tangannya mulai bergerak!” Itu seruan Hongjoong.
“Noona kemarilah!” Itu suara Mingi.
Seonghwa mulai membuka matanya. Dilihatnya Saena tengah berdiri di samping brankarnya. Gadis itu menggendong sepupu San yang masih balita. Seonghwa berusaha bangkit. Pria itu meraih tangan Saena, lalu dia memeluk Saena dengan erat.
Apa yang terjadi pada Seonghwa?
Singkatnya, Seonghwa mengalami kecelakaan saat setelah pulang dari rumah keluarga Choi. Ayahnya hanya mengalami luka ringan. Sedangkan Seonghwa, pria itu sudah tidak sadarkan diri selama beberapa hari. Seonghwa mengalami koma lagi. Dan sepanjang itu dia bermimpi.
__ADS_1
Beberapa hari kemudian...
Seonghwa berdiri berdampingan dengan Saena. Keduanya mengenakan baju pengantin yang sangat serasi. Tentunya mereka berdua memasang senyum bahagia.
Beberapa hari sebelumnya, tepatnya setelah Seonghwa pulih.
“Menikahlah denganku.” Pinta Seonghwa pada Saena. Seonghwa sudah membulatkan keputusannya untuk menikahi Saena. Meskipun Helfan sudah tidak akan bisa menyentuh Saena, begitu juga dengan Kino. Tapi tetap saja ada rasa takut yang sangat besar dalam diri Seonghwa.
Saena masih diam. Gadis itu sepertinya sedang mempertanyakan kenapa pria yang ada di hadapannya menjadi tidak konsisten. Bukankah sebelumnya mereka sudah sepakat akan saling megenal dulu sebelum memutuskan ke jenjang yang lebih jauh?
“Setidaknya rasa percaya saja sudah cukup untuk memulainya. Menikahlah denganku, lalu kita akan menghadapi semua bersama.” Kata yang diucapkan Seonghwa sebenarnya terdengar lembut. Tapi bagi Saena itu terdengar tegas dan sangat mutlak. Sebuah perintah yang harus dikerjakan.
Memulai sesuatu yang baru, apalagi dengan orang baru itu memang sulit. Tapi apa salahnya kita percaya pada orang yang sudah pasti tulus.
Tapi tunggu. Kenapa Seonghwa bisa bermimpi melihat Saena terkapar dengan luka tembak di perutnya?
Seperti yang sudah diketahui. Mimpi itu adalah luapan emosi nyata sang pemilik mimpi. Jadi saat kita sangat takut dengan suatu hal. Hal itu bisa menjadi mimpi buruk kita. Jadi hal yang paling ditakuti Seonghwa adalah kehilangan Saena.
Tapi berlainan dari itu, sebenarnya ada hal lain yang harus diungkap.
Jika sebelumnya mereka berdua mengalami kecelakaan dan setelah itu koma. Mereka berdua juga mengalami mimpi yang sama. Kali ini. Seonghwa tidak koma dan juga tidak mengalami yang namanya kecelakaan.
Jangan bilang pada Seonghwa ya! Nanti dia marah jika tahu tentang ini.
Sebenarnya Kino maupun Helfan sudah berdamai dengan pihak naga merah, tanpa sepengetahuan Seonghwa. Dari situ muncul ide di benak ayah Seonghwa. Cara membuat agar putranya segera menikahi tunangannya.
Saena? Pecayalah, gadis itu tidak tahu apa-apa tentang rencananya. Dia benar-benar di culik dan seperti yang sudah tertulis sebelumnya. Saat di rumah kaca, Saena ditembak dengan obat bius oleh Joonyoung. Sebelum akhirnya pria itu mengatur tempat kerjadian agar terlihat seperti telah terjadi penembakan.
Suara tembakan.
Suara itu adalah suara tembakan asli. Joonyoung menembak pot bunga. Yang pasti si kecil sepupu San sudah disingkirkan terlebih dahulu dari tempat itu. Setelah penembakan selesai barulah balita itu didudukkan di sebelah Saena.
Saat Seonghwa masuk dan melihat Saena terbaring di bawah. Saat itulah Joonyoung menembakkan obat bius ke Seonghwa, obat sejenis dengan yang dia gunakan untuk melumpuhkan Saena tadi. Lalu mereka bekerjasama dengan salah satu rumah sakit dan melancarkan aksi mereka.
Saat Saena bangun. Mereka semua bilang jika Seonghwa mengalami kecelakaan dan sedang koma. Meskipun awalnya Saena tidak percaya jika dia pingsang saat mendapat kabar tentang Seonghwa yang mengalami kecelakaan. Tapi akhirnya gadis itu percaya-percaya saja dan menganggap penculikan yang sebenarnya kenyataan itu hanya bunga tidur buruk.
__ADS_1
Jadi bagaimana? Meskipun hanya rencana kotor tapi tetap berhasil kan?
END.