
Helfan berhenti membaca dengan lantang, dia malah membacanya dalam hati.
“Apa ada masalah?” Nenek mendekat ke arah Helfan.
“Teks-”
“Kalian seharusnya bersyukur, aku memberi kalian kesempatan melakukannya di sini. Apa kalian mau disuruh membaca di depan para tamu undangan?” Nenek berbicara dengan senyum dan nada yang lembut.
“Maaf Ibu, tapi bukankah mereka ini termasuk orang asing?” Mama memprotes sambil mengacungkan jari telunjuknya pada San dan Yeosang.
“Bagimu mereka memang asing, tapi bagiku dan bagi ayahnya Dea mereka bukanlah orang asing. San sudah menjadi kakak angkat Dea, sedangkan Yeosang juga berjasa karena sudah merawat Dea selama koma.” Nenek masih terlihat tenang dengan senyum ramahnya.
“Kalian mau membacanya? Atau mau ku serahkan pada pihak berwajib yang sudah ku siapkan di luar?” Rasanya aneh, nenek mengatakannya dengan senyum ramahnya.
Linda merebut kertas yang ada di tangan Helfan.
Aku dan Linda memang sengaja menjebak Dea, gadis itu sudah terlalu jauh tahu tentang perusahaan.
“Saya sudah membacanya, apa kami sudah boleh pergi?” Tanya Linda.
“Tunggu, dengarkan Dea. Ada yang ingin cucuku sampaikan pada kalian semua.” Nenek mendekatiku. Memintaku membaca naskah yang ku bawa.
Saat aku mati, berapa orang yang akan bersedih karena merasa kehilangan, berapa orang yang akan bernafas lega karena merasa tidak ada lagi beban. Aku selalu ingin mati, aku selalu memanjatkannya setiap berdo’a. Tapi tidak pernah terkabul, karena umur yang ditetapkan tuhan untukku sepertinya cukup panjang. Pernah sekali aku berpikir untuk mengakhiri hidupku sendiri, tapi sepertinya hal itu tidak akan merubah apapun. Sepertinya hal itu juga hanya akan membuat perjuanganku selama beberapa tahun ini menjadi sia–sia.
Tapi takdir berkata lain.
Aku berada di antara keduanya, aku di tempatkan di ambang kematian. Aku hidup tapi tidak sadarkan diri, aku benar–benar berada di antara hidup dan mati. Entah aku akan bangun lagi atau tidak, aku sudah pasrah. Karena tidak ada lagi orang yang ingin ku temui.
Karena aku sepertinya juga telah mengalami gangguan mental, aku jadi takut saat bertemu orang banyak. Mereka selalu melayangkan kata–kata seperti, “Dasar *******, mati saja.”
__ADS_1
Bahkan ada kata– lkata lain yang lebih menyakitkan dari itu. Ini sungguh tidak adil, disini aku korban tapi kenapa semua orang memandangku sebagai pelaku. Andai mereka tahu yang sesungguhnya.
“Sudah cukup, sisanya setelah Linda dan Helfan pergi.” Kata nenek sambil mengusap pundakku. Air mataku jatuh tak tertahankan, Seonghwa juga berusahan menenangkanku. Aku tidak tahu seperti apa situasi di sekitarku, yang jelas aku terlalu terbawa perasaan.
“Maafkan aku Dea.” Itu suara Linda.
“Apa kamu mau memaafkannya?” Nenek bertanya padaku. Aku mengangguk, Linda berlari ke arahku. Dia menumpu tubuhnya dengan kedua lutut sambil memohon padaku dengan isakan. Aku bangkit dan membantunya berdiri, aku memeluknya. Kami berdua terisak tanpa peduli mereka semua yang memandang kami.
“Biarkan saja dia lari, tentang produksi ilegal ku serahkan padamu.”
Ternyata Helfan lari, Linda sudah pasrah dan mau menerima konsekuensi yang akan terjadi padanya. Dia bahkan bersedia membantu nenek, dia akan andil dalam pesta ini.
~~~
Selama ini harusnya aku bersyukur karena nenek selalu ada bersamaku, seharusnya aku juga tidak pulang ke rumah. Tapi maksud nenek baik, beliau menyuruhku pulang karena tidak ingin ayah melupakanku. Tapi nyatanya saat aku pulang, ada satu kenyataan yang semakin mendorongku ingin bunuh diri.
Air mataku jatuh begitu saja melihat mereka dengan mesra berciuman. Badanku terbalik, Kak Kino yang melakukan hal itu. Dia memelukku dan membiarkanku menangis tanpa suara dalam dekapannya. Aku tidak bisa marah, aku bingung harus bagaimana. Aku tidak bisa mengatakannya pada siapapun, kak Kino terus menawarkan bantuannya. Alih–alih dengan kak Kino, aku tetap percaya pada nenek. Aku menceritakan semua padanya, nenek bilang jika beliau akan melakukan sesuatu untukku.
“Terima kasih sayang, nenek akan melanjutkannya.” Kata nenek, beliau mengangkat naskah milikku.
Saat itu cucuku menceritakaannya lewat e–mail, belum sempat aku bergerak. Sudah lebih dulu ada kabar buruk yang terjadi padanya, mungkinkah ada orang yang lancang membaca pesan kami berdua?
“Selanjutnya anakku yang akan membaca naskahnya.” Kata nenek sambil menatap ayah.
Malam itu aku pulang lebih awal, aku sengaja tidak mengucapkan salam. Karena aku ingin sedikit memberi kejutan pada anak dan istriku, tapi justru sebuah bencana yang ku dengar.
Aku tidak sengaja mendengarkan istriku berbicara pada anak kandungnya. Mereka membahas tentang terpergoknya perselingkuhan yang dilakukan Angga. Angga mengkhianati putriku, dia memiliki hubungan dengan putri tiriku. Putri tiriku mengakui perbuatannya jika dia sudah mendorong putri kandungku. Bukankah kemarin mereka sendiri bilang jika Dea sudah kesekian kalinya berusaha bunuh diri. Apa ini bagian dari rencana mereka?
Aku tidak berbuat apa–apa, aku memang pengecut. Aku hanya diam dan malah ikut ke dalam rencana mereka. Tapi aku juga masih punya perasaan, aku memiliki rencana lain untuk putriku. Aku sengaja menyuruh dokter itu untuk melakukan suntik mati terhadap putriku. Aku yakin dia tidak akan sanggup melakukan hal itu.
__ADS_1
Aku merasa sepertinya Kinan juga tidak sejalan dengan ibunya, aku mengajaknya berbincang. Akhirnya dia mau membantuku, itu kesempatan bagus untuk memperbaiki kesalahan yang dia perbuat pada putriku.
“Dea maafkan ayah.” Ayahku memang bukan orang yang mudah menangis, tapi suasana hati beliau dapat dibaca dari ekspresi wajahnya.
“Anak muda sekarang giliranmu, apa yang ingin kamu sampaikan pada calon istrimu?” Nenek memberi kesempatan pada Seonghwa. Tentu saja naskah miliknya kosong.
Awal pertemuan kita berdua, mungkin kamu tidak akan mengingatnya. Tapi itu adalah peristiwa yang sangat mengesankan untukku, sejak saat itu aku jadi bersimpati padamu. Kembali bertemu denganmu di rumah sakit adalah hal yang luar biasa, meskipun saat itu kamu tidak sadarkan diri. Ku rasa itu adalah takdir kita.
Kertas naskahnya kosong, tapi Seonghwa bisa membuat seolah dia sedang membaca sebuah naskah. Apa aku pernah bertemu dengannya? Tapi dimana?
“Apa kamu ingat dulu, kamu pernah berteriak pada seorang laki–laki? Kamu marah padanya karena laki – laki itu terus memperhatikanmu.” Pipiku memerah, aku mengingatnya. Itu terjadi di lapangan basket, Angga suka sekali bermain basket. Aku selalu mengikutinya kesana bersama dengan Linda juga, seperti anak ayam.
“Baiklah, saya selaku pembuat naskah akan menutupnya.” Kata nenek.
Penggalan naskah yang baru kita bacakan adalah potongan dari kisah seorang gadis. Gadis yang tertidur selama satu tahun penuh, karena perbuatan seseorang.
“Berlainan dengan itu, nenek ingin meminta maaf pada kalian semua. Mungkin jika nenek tidak memisahkan Kinan dan mamanya, ini semua tidak akan terjadi.” Tutup nenek. Kemudian nenek kembali melanjutkan membaca naskah.
Saat putraku bilang akan menikah lagi, aku sangat senang. Karena akan ada wanita yang mengurus hidupnya dan juga hidup cucuku. Tapi saat aku tahu jika dia akan menikahi janda dengan satu anak perempuan, aku mulai berubah pikiran. Tentu saja aku takut wanita itu membedakan kasih sayangnya antara putrinya sendiri dengan cucuku. Tentu sebagai nenek aku tidak akan membiarkan cucuku hidup seperti Cinderella.
Penyelesaiannya, kami semua saling meminta maaf.
Perlu kalian ketahui, jahatnya seseorang pasti ada pemicunya.
Jika ada orang yang berbuat tidak seharusnya padamu, sepertinya kamu perlu mengingat apa yang sudah kamu lakukan padanya. Memang sulit menjadi orang yang peka, tapi semua orang memiliki kesempatan untuk meminta maaf dan memperbaiki diri.
o0o
__ADS_1