
Menjadi tawanan itu sedikit membosankan, tapi beruntungnya aku bisa dengan leluasa menjelajahi kastil. Kusebut kastil, karena memang tempatnya yang bagus seperti kastil kerajaan. Sebenarnya aku adalah tawanan mereka untuk memancing Seonghwa dan San. Tapi di sisi lain, aku adalah saudara dari salah satu anggota mereka. Karena itu aku dibebaskan di sini, sebenarnya aku bisa saja kabur. Tapi untuk apa kabur jika nanti akan ada orang yang menjemputku.
Dari kelima laki-laki di naga putih, hanya Xion yang menurutku ramah. Dia bercerita tentang apa yang sebenarnya terjadi di antara naga merah dan naga putih.
Hwanwoong pernah terjebak cinta segitiga dengan San dan seorang gadis, itu terjadi saat mereka sedang belajar di sebuah sekolah khsusu. Sebenarnya wanita itu sudah memiliki hubungan yang resmi dengan Hwanwoong, meskipun hanya pacaran. Tapi siapa sangka, sepertinya perempuan itu berubah pikiran dan jadi jatuh hati pada San. Lalu apa San dan perempuan itu menjalin hubungan? Entahlah aku tidak tahu. Ada Satu kata yang diucapkan Xion padaku, kata itu terus terngiang di kepalaku sejak tadi. Sebenarnya pencetus kata bukanlah Xion, pencetusnya adalah Hwanwoong sendiri.
“Sekali bekerja dua dendam terbalaskan.”
Jika balas dendam pada San dengan menculikku itu mungkin masuk akal, tapi bukankah nantinya aku juga akan diambil kembali? Rasanya aku ingin tertawa, apa mungkin mereka sengaja melakukan ini untuk memancing agar pihak naga merah meminta maaf? Xion bilang, Leedo juga memiliki dendam terhadap Seonghwa, itu ada hubungannya dengan adik perempuan Leedo yang bernama Yeji.
Karena dua dendam itu aku menjadi tawanan.
Saat ini aku sedang berada di lantai atas, sepertinya di bawah sana ada tamu. Aku sempat mengira tamunya adalah Kak Kino, tapi sepertinya bukan. Aku terkejut saat wajah tamu itu mulai terdeteksi oleh mataku, dia Wooyoung. Anak itu memang sudah tidak dianggap di naga merah, karena pengkhianatan yang dia lakukan. Tak kusangka ternyata dia kini seutuhnya menjadi bagian dari naga putih.
Karena dinding yang membuat suara mereka menggema, dan juga karena suasana rumah yang sepi membuatku bisa mendengarkan apa yang mereka bicarakan. Wooyoung datang untuk mewakili Kak Kino, ternyata tempatku berada saat ini bukanlah rumah. Tapi tempat ini memang kastil mereka, jadi anggota bebas keluar masuk dengan leluasa.
Dengan penuh keberanian aku mengikuti Wooyoung, aku ingin berbicara dengannya tentang Kak Kino. Tapi langkahku terhenti, karena Hwanwoong menarik tanganku.
“Kenapa?” Aku langsung melemparkan pertanyaan padanya.
“Wajar bagi kami jika takut tawanan kami lepas.” Dia tersenyum manis sambil melepaskan pegangan tangannya.
“Kami sudah memberimu kebebasan layaknya tamu, sebaiknya manfaatkan itu!” Kata Leedo, suara besarnya hampir membuatku tidak bisa menangkap apa yang dia katakan.
“Saena-ya, aku akan mengantarmu kembali ke kamar.” Xion mengulurkan tangannya padaku.
~~~
Tentu saja Wooyoung bermalam di sini, aku tadi bertemu dengannya saat makan malam. Dia sedikit terkejut melihat keberadaanku, tapi dia tidak mengatakan apapun padaku.
Aku belum bisa tidur dan masih terjaga, pikiranku melayang. Ingatan saat Seonghwa berhasil mendapatkan bunga membuat perasaanku buruk. Tunggu, jika membahas soal bunga, sepertinya milikku tertinggal di mobil Hongjoong. Tapi tentu saja bunga itu akan layu.
Lalu apa semua orang mencariku saat ini? Rasanya aku sama sekali tida bisa berpikir.
Tok! Tok! Tok!
Siapa yang mengetuk pintu kamar semalam ini? Bahkan ini sudah hampir masuk tengah malam. Aku beranjak dan segera membuka pintu, mataku terbelalak melihat Wooyoung yang berdiri di hadapanku saat ini.
“Ikutlah denganku, aku ingin menunjukkan sesuatu padamu.” Dia menarik tanganku.
__ADS_1
Lampu utama sudah padam semua, saat ini yang menerangi masing-masing ruangan adalah lilin yang bertengger di atas tempat klasik. Aku terus berjalan mengikuti Wooyoung, aku sengaja tidak memakai alas kaki agar langkahku tidak bersuara. Kastil ini terlalu luas dan juga terlalu gelap, mataku tidak mampu mendeteksi ruangan apa saja yang kami lewati.
Tapi yang pasti Wooyoung membawaku ke ruang bawah tanah, di sana banyak sekali penjara. Wooyoung membawaku masuk ke salah satu penjara, di sana ada seorang pemuda yang tidak kukenal. Namanya Joonyoung, Wooyoung bilang Joonyoung adalah teman baiknya. Wooyoung juga bilang jika Joonyoung adalah satu anggota naga merah yang menghilang, dia sudah lama ditawan oleh pihak naga putih.
Selama ini Wooyoung berkhianat karena hanya dia yang tahu keberadaan Joonyoung, mungkin jika tidak ada kak Kino. Wooyoung tidak akan bisa menyusup ke pihak naga putih, karena dia adalah anggota naga merah.
Joonyoung pernah terjebak sebuah cinta segitiga dengan Yeji dan Seonghwa, alasan itulah dia berada di penjara bawah tanah ini. Seonghwa sudah dijodohkan dengan Yeji oleh orang tua masing-masing, tapi Joonyoung malah merusaknya. Yeji jatuh cinta pada Joonyoung, perasaan seseorang sewajarnya pasti bisa berubah.
“Aku tidak yakin rencana kita akan berhasil, karena mereka sudah memiliki rencana tersendiri.” Wooyoung terlihat sangat putus asa.
“Seharusnya kau tidak usah mempedulikan diriku, karena sebenarnya memang tidak akan ada jalan jika sudah terjebak di sini.” Kata Joonyoung.
“Apa ini sebagian rencana untuk memaksa Seonghwa agar mau menikah dengan Yeji?” Aku bertanya tanpa ragu, fokusku bisa terganggu jika aku tidak melontarkan pertanyaan itu.
“Aku tidak tahu, yang pasti mereka tidak akan melepaskan kita semua yang telah terlibat dalam hal ini.” Jawaban yang diberikan Joonyoung membuatku tidak tenang.
“Sebaiknya kau bawa Saena kembali ke kamarnya, akan berbahaya jika salah satu dari mereka mengetahui hal ini.” Joonyoung ada benarnya. Akhirnya kami meninggalkan penjara itu, anehnya sama sekali tidak ada penjaga di sekitar penjara.
“Apa penjara tidak ada penjaganya itu aman?” Aku berpikir, sepertinya Wooyoung bisa dengan mudah membawa Joonyoung kabur.
“Tidak semudah itu, aku pernah mencobanya. Tapi aku gagal.” Mendengar penuturan Wooyoung, sepertinya aku tidak boleh meremehkan kastil ini.
Saat akan sampai di kamarku, kami hampir terpergok oleh Leedo. Beruntungnya Wooyoung menemukan tempat bersembunyi yang sangat efektif dan otakku ini masih seratus persen aktif. Aku masih bisa beralasan pergi ke kamar mandi.
~~~
Yeji yang mereka bicarakan selama ini adalah gadis yang bertemu Seonghwa, yang kulihat dengan mata kepalaku sendiri merebut bunga yang seharusnya menjadi milikku. Aku mengetahuinya, karena pagi ini dia datang mengunjungi kastil. Dia adalah adik Leedo, jadi dia memiliki kebebasan melakukan apapun di kastil. Termasuk yang sedang dia lakukan saat ini, menemaniku duduk bersantai di taman.
“Jadi kamu adik tiri San?” Dia masih saja menanyakan itu, mungkin ini sudah kesepuluh kalinya Yeji mengulang pertanyaan itu. Aku hanya menanggapinya dengan anggukan disertai dengan senyuman.
“Jadi kamu juga adik sepupu Ravn?” Dia tidak tahu jika aku berada di kastil ini adalah sebagai tawanan. Yang dia tahu aku berada di kastil ini, karen aku adalah adik sepupu Ravn atau Kino. Tadi pagi-pagi sekali Leedo memberiku peringatan, agar merahasiakan semua tentang alasanku berada di kastil ini.
“Sampai kapan kamu akan terus menanyakan itu?” Aku terkikik, mencoba menghangatkan hatiku.
Keberadaan Yeji semakin membuatku ingin menghilang dari bumi ini, karena kedatangan dialah takdirku jadi berubah. Leedo meminta padaku untuk merelakan Seonghwa bersama Yeji, dia ingin mengembalikan semua seperti semula. Aku baru tahu jika Yeji itu kekasih Seonghwa, secara tidak langsung mereka berdua masih terikat ikatan sampai sekarang.
Lalu aku, aku tunangan Seonghwa. Tapi mungkin harusnya sejak awal aku mundur, tentu saja Seonghwa pasti masih ada perasaan pada Yeji. Rasanya ini semua tidak adil, tapi sejak awal bukankah memang ini yang telah kupilih. Jadi bagaimanapun aku harus menerimanya.
Leedo bilang aku akan dijodohkan dengan Joonyoung, bisa dibilang kami berdua sama-sama menjadi pengganggu dalam hubungan Yeji dan Seonghwa. Tapi tanpa kami mungkin mereka berdua tidak akan kembali bertemu, karena itulah Leedo dan yang lainnya berterima kasih dengan cara menjodohkan kami berdua.
__ADS_1
Jujur, aku sangat keberatan. Tapi di sisi lain aku juga harus sadar diri, di posisi mana aku berdiri saat ini.
“Apa ada sesuatu yang mengganggumu?” Aku segera menggelengkan kepala.
“Apa ada yang membuatmu gelisah?” Dia kembali bertanya.
“Aku merasa sedikit tidak enak badan.” Jawabku asal.
Yeji dengan panik mengajakku masuk ke dalam kastil, dia berceloteh seperti yang biasa dilakukan nyonya Choi. Lihatlah bahkan ini adalah pertama kalinya kita bertemu, tapi dia sudah sebaik ini padaku. Hatiku menghangat, bukankah Yeji itu perempuan yang baik? Tentu aku akan berusaha melepaskan Seonghwa demi dirinya.
“Saena-ya, mentang-mentang punya teman baru kau jadi melupakanku.” Aku dan Yeji terkejut melihat Joonyoung yang berdiri satu meter dari kami.
“Yeji–ya, sudah lama kita tidak bertemu.” Joonyoung menyapa Yeji dengan sangat ramah. Sedangkan Yeji sendiri kini tengah kebingungan.
“Mana Seonghwa? Kapan kalian akan menikah? Aku dan Saena menunggu undangan dari kalian berdua.” Rasanya hatiku perih mendengar apa yang dikatakan Joonyoung. Sepertinya Joonyoung sengaja dibebaskankan agar melengkapi rencana mereka. Rencana mereka menyatukan Yeji dan Seonghwa.
“Tentu saja aku akan berpikir dua kali untuk menikah haha.” Tawa Yeji terdengar hambar.
“Terserah padamu, sekarang waktunya Saena bersamaku.” Joonyoung meraih tanganku dengan lembut. Kami berjalan meninggalkan Yeji.
Benar dugaanku, Joonyoung memang sengaja dibebaskan untuk pelengkap skenario.
“Sedalam apa perasaanmu pada Seonghwa?” Tanya Joonyoung padaku.
“Entahlah, selama ini aku berada di sisinya karena sebuah insiden.” Haruskah aku mengatakan yang sebenarnya pada Joonyoung?
“Apa itu artinya kau terpaksa bersamanya?” Pertanyaan Joonyoung membuatku menggelengkan kepala.
“Perlu kamu tahu, aku bukan anak sebatang kara. Aku punya keluarga kandung yang akan dengan senang hati membuka pintu saat aku pulang.” Tentu saja, untuk apa aku terpaksa berada di sisi Seonghwa? Bagiku itu hanya membuang-buang waktu.
“Apa yang akan kamu lakukan untuk tetap mempertahankan Seonghwa?” Apa ini sebuah wawancara? Kenapa sejak tadi Joonyoung terus membahas Seonghwa tanpa henti?
“Apa yang harus ku lakukan jika ternyata Seonghwa masih mengharapkan Yeji?” Aku menjawabnya dengan pertanyaan yang langsung membuat Joonyoung terdiam.
o0o
__ADS_1