Sleeping Beauty

Sleeping Beauty
Euthanasia


__ADS_3

Aku sedang menjalankan shift malam, seperti biasa jika berjaga tengah malam seperti ini aku selalu berada di ruang rawat milik seorang gadis. Dea Asena, gadis yang sudah koma selama enam bulan. Dia tetap tertidur dengan damai, aku harap saat dia bangun nanti. Dia akan tetap damai seperti ini, tidak ada yang membuatnya sakit. Tapi aku ragu dengan hal itu, karena sebuah percakapan yang tak sengaja ku curi dengar siang tadi.


Seseorang masuk ke dalam ruangan, karena pencahayaannya cukup redup aku tidak bisa melihat orang itu. Yang pasti dia orang asing, karena di tengah malam seperti ini tidak akan ada tamu yang menjenguk. Orang tua ataupun sanak saudara gadis ini juga sangat tidak mungkin menginap untuk menjaganya. Aku tahu semua, karena aku sudah rutin setiap tengah malam mengunjunginya.


Aku bersembunyi di tempat yang tak terkena cahaya sambil terus memperhatikan orang yang baru saja masuk ke dalam ruang rawat Dea. Dia seorang laki–laki dengan pakaian serba hitam, wajahnya hanya bisa terlihat setengah karena dia memakai masker wajah. Pergerakannya sangat mencurigakan, dia mengambil bantal yang menyangga kepala Dea. Sebelum dia berhasil menyentuh selang dari ventilator mekanik yang terpasang pada wajah Dea, aku sudah berhasil menangkapnya.


“Siapa yang menyuruhmu?” Tanyaku sambil ku tekan tangannya yang kini tengah ku genggam. Dia sama sekali tidak menjawab, bahkan dia berusaha melawanku. Dengan cepat ku tekan tombol darurat yang ada di kamar itu, berharap seorang perawat atau rekan sesama dokter bisa membantuku.


Rekan kerjaku yang juga seorang dokter muda datang, dia begitu sangat panik saat melihat orang yang sejak tadi ku tawan.


“Cepat hubungi polisi!” perintahku pada dokter itu, dia menuruti kata–kataku tapi masih dengan ekspresi kebingungan. Saat itulah, karena aku lengah dia berhasil kabur. Aku dan temanku sudah berusaha mengejarnya, tapi dia terlalu cepat menghilang. Akhirnya kami melepaskannya dan memutuskan kembali ke ruang rawat Dea.


“Ini yang ketiga kalinya, keluarganya sama sekali tidak ada yang mau menjaga dia. Kasihan.” Kata dokter itu. Zidan, dia adalah teman seangkatanku, dia teman kuliahku dulu. Kami Lulus bersama dan diangkat jadi dokter bersama, entah takdir atau hanya kebetulan. Kami juga di tempatkan di rumah sakit yang sama.


Kejadian yang sama mungkin akan terulang kembali cepat atau lambat, karena hanya aku yang tahu pokok permasalahannya. Aku memutuskan untuk terus berada di rumah sakit walau jam kerjaku pada akhirnya habis. Selama ini aku belum pernah menemui orang yang setega itu pada anak merek, mengingat gadis itu masih sangat muda.


 


Matahari sudah mulai tinggi, bahkan orang tua gadis itu belum juga ke rumah sakit. Bukankah kemarin setelah kejadian, mereka langsung dihubungi. Kata Zidan, orang tuanya meminta agar pihak rumah sakit menjaga anak mereka dengan semestinya. Ini aneh, orang tua yang lain akan selalu ada untuk anaknya. Saat anaknya terbaring koma seperti ini bahkan mereka tidak akan bisa bernafas lega, tidak akan bisa pulang ke rumah, tidak akan bisa tidur bahkan mungkin juga tidak akan bisa makan.


Tapi gadis ini, bagaimana bisa dalam keadaannya yang seperti ini dia ditinggal? Sama sekali tidak ada yang peduli padanya, tidak ada yang menemaninya melewati masa–masa kritis.


 


 ~~~


Setelah memberikan keterangan tentang keadaan putrinya, aku juga menceritakan kronologi penyerangan yang terjadi pada anak gadisnya. Pria itu sama sekali tidak terlihat khawatir dengan kondisi putrinya, terlihat dengan jelas dari raut wajahnya.


“Dokter apa anda pernah mendengar tentang euthanasia?” Aku terkejut dengan pertanyaan dari laki–laki paruh baya yang saat ini ada di hadapanku.


“Saya pernah mendengarnya.” Tentu saja dalam dunia kedokteran hal itu terdengar tidak asing.


“Kau kelihatannya masih sangat muda, apa mungkin bisa melakukannya?” Jantungku berpacu sangat cepat, bagaimana bisa dia telah memiliki rencana B yang sangat matang? Setelah rencana A gagal, apa dia sangat ingin anaknya mati begitu saja?


“Saya rasa jika melakukan hal itu, saya akan dipecat. Karena telah melanggar sumpah.” Karena Indonesia bukan termasuk negara yang melegalkan praktik euthanasia.

__ADS_1


“Jika kau bisa melakukannya, aku akan menjamin keamananmu. Lagipula dia anakku, tidak mungkin ada orang diluar sana yang curiga dengan hal ini.” Laki–laki paruh baya di hadapanku meminta dengan sangat enteng, apa mungkin dia bukan orang tua kandung gadis itu?


“Tapi jika saya melakukan itu, itu artinya saya melanggar sumpah saya sebagai seorang dokter. Putri anda masih punya harapan yang besar untuk sadar dan kembali sehat.” Aku berusaha memberi keyakinan padanya bahwa sang putri masih ada harapan untuk sadar. Tentu aku tidak akan mau melakukan hal semacam euthanasia, karena itu perbuatan yang sangat bertolak belakang dengan sumpah yang telah ku ucapkan.


“Bagaimana jika kau melakukannya di Korea? Setelah melakukan itu kau bisa sekalian berlibur. Bukankah kau sangat rindu dengan kampung halamanmu itu?” Kata laki–laki itu dengan senyum remehnya.


“Apa anda mencoba membuat saya menjadi pembunuh di tanah kelahiran saya?” Mungkin setelah menolak ini aku akan mati, atau mungkin aku akan kehilangan pekerjaan yang telah lama ku impikan.


“Orang sepertimu mudah dihapus dari bumi ini hanya dengan selembar tisu!” Nadanya seperti sedang mengancam.


“Aku ingin kau melakukannya, hari ini juga kalian akan ku kirim ke sana. Aku ingin semua berjalan dengan rapi, aku ingin dia di kremasi.” Keinginan tentang kremasi membuatku membulatkan mata.


“Aku ingin mengabulkan permintaan putriku yang selalu ingin dibebaskan, pastikan kau menebarkan abunya di tempat yang indah!” Jika saja dia kerabatku mungkin aku sudah melayangkan tinju padanya. Bagaimana bisa seorang ayah meminta sepaket kematian putrinya? Memangnya dia tuhan?


“Aku sangat menyayanginya, jadi aku tidak ingin dia berlama–lama menderita di dunia ini. Aku ingin dia bebas dan damai.” Sekarang kata-katanya terdengar seperti seorang ayah yang sangat kehilangan putrinya.


“Tapi putri anda tidak menderita sakit keras yang mengharuskan untuk melakukan euthanasia.” Sebenarnya apa motif pria di hadapanku ini? Bagaiman bisa dia memintaku membunuh putrinya yang masih memiliki banyak harapan untuk hidup?


“Anggap saja dia sudah tidak memiliki harapan hidup. Aku mau semua berjalan dengan lancar! Jangan sampai terlewat, aku mempercayaimu!” Setelah mengatakan hal itu, dia keluar dari ruanganku.


Tidak menunggu waktu lama, aku segera ke ruangan di mana anak gadis pria itu dirawat. Namun disana sudah kosong, hanya ada beberapa perawat yang sedang melakukan pembersihan.


“Aku dengar kau akan pulang ke tempat kelahiranmu, apa kau akan bekerja disana?” Dia terus mengajukan pertanyaan yang membuatku semakin bingung. Tanpa mempedulikan dirinya, aku pergi dari tempat itu.


 


---


 


Kepalaku terasa sangat pening saat pertama kali membuka mata, hal terakhir yang bisa ku ingat ada seseorang yang memukulku. Hal itu terjadi saat aku baru keluar dari ruangan yang terakhir kali ku kunjungi. Aku mengedarkan pandangan, mencoba mencari tahu keberadaanku saat ini. Sepertinya aku sedang berada di sebuah jet pribadi, tak jauh dari tempatku ada sebuah brankar, di atasnya terbaring gadis yang selama ini menjadi tanggung jawabku. Gadis yang selalu tertidur dengan damai, yang selama ini wajahnya tak pernah lepas dari pandanganku.


Aku tersenyum hambar menatap ke depan, bagaimana bisa aku merenggut nyawa pasienku sendiri. Sebenarnya apa tujuan ayah Dea? Kenapa dia sangat menginginkan kematian putrinya sendiri. Ponselku berdering, sepertinya ayahku mengetahui kepulanganku dari kepala rumah sakit.


“Akhirnya kau mau pulang, kepala rumah sakit bilang kau berhenti menjadi seorang dokter. Apa kau berubah pikiran?” Bahkan aku belum bicara, beliau sudah menyela dengan pertanyaan itu.

__ADS_1


“Sepertinya.” Aku berjalan mendekati brankar tempat Dea terbaring.


“Iya sepertinya itu tidak mungkin ya? aku sedikit kecewa.” Entah kenapa suara ayah terdengar sangat kecewa.


“Sebenarnya apa yang dikatakan kepala rumah sakit pada ayah?” Aku merasa sepertinya ada yang salah dengan perbincangan kami.


“Kedengarannya kau tidak suka dengan percakapan ini.” Aku menghembuskan nafas panjang mendengar penuturan beliau. Aku curiga, apakah ayahku memanfaatkan hal ini untuk membawaku pulang?


“Apa ayah kenal dengan orang yang bernama Hardi?”


“Tidak.” Dengan cepat beliau menjawab.


“Apa ayah sengaja ingin menjodohkanku dengan Dea? Dengan menggunakan motif gadis koma yang sedang ditelantarkan orang tuanya?” Sepertinya itu adalah pertanyaan yang bodoh. Tapi jika tidak dipojokkan seperti ini, ayahku tidak akan mengakui perbuatannya. Aku menaruh kecurigaan padanya, karena beberapa hari yang lalu beliau tiba–tiba memintaku untuk pulang. Tapi aku menolaknya, karena aku sudah nyaman bekerja ditempatku.


“Apa yang kau bicarakan? Siapa Dea? Siapa Hardi? Sebenarnya apa yang terjadi?” Sepertinya memang benar ayah tidak mengerti apa–apa tentang Dea.


“Ku tutup dulu-”


“Jangan putuskan sambungannya dulu, tunggu! Aku sedang mencari sesuatu.” Aku yakin ayah akan menghubungi kepala rumah sakit setelah memutuskan sambungan kami. Aku mencari surat atau apapun itu yang berhubungan dengan pengunduran diri. Aku menemukannya, itu jelas bukan tulisanku, tapi lumayan terlihat mirip. Saat aku ingin meneruskan pencarianku, seorang pramugari memberikan sebuah amplop sambil berkata, “Ini dari bapak Hardi untuk anda.”


Aku membuka amplop tersebut, disana ada selembar kertas HVS yang dilipat dengan rapi. Saat kubuka lipatan itu, aku sedikit terkejut karena tulisannya bukan tulisan tangan. Melainkan tulisan hasil dari print out.


Melakukan euthanasia itu melanggar sumpahmu sebagai dokter.


Sekarang kau bukan lagi dokter, jadi tidak perlu khawatir.


Aku meremas kertas itu dan memberikan kembali pada sang pramugari, sejak tadi wanita itu menungguiku. “Mau diapakan kertas itu?” Aku sudah tahu jawabannya, tapi dengan sangat bodoh masih saja menanyakannya. “Akan saya bakar, sesuai perintah Pak Hardi.” Kata pramugari itu.


“Anda harus menjalankan tugas terakhir anda, semua perlengkapannya akan saya siapkan. Sebentar lagi kita akan mendarat, jadi sebaiknya lakukan sekarang. Sehingga saat mendarat nanti tinggal menuju rumah kremasi.” Jelas pramugari itu. “Baiklah.” Aku menyetujuinya, aku memutus sambungan telepon dan meletakkan ponselku lalu mengikutinya.


Aku tidak tahu jika pria itu akan menyertakan orang untuk menjadi saksi atas kematian anaknya. Sebenarnya aku tadi memiliki rencana untuk meminta bantuan pada Ayah, tapi tidak sempat. Suster itu memberiku sepasang handscoon dan peralatan suntik beserta obat berupa cairan. Aku menyuntikkan jarum pada tutup botol yang berisi cairan, untuk memindahkan cairan tersebut ke dalam tabung suntik. Dengan Sekali menarik nafas dan menghembuskan nafas, aku menyuntikkan cairan itu pada infus saline intravena yang terpasang pada lengan Dea.


 


o0o

__ADS_1


 


 


__ADS_2