
“Menikahlah denganku, maka semua akan selesai.” Kata pria itu dengan senyum miringnya.
Saena masih terpaku menatap pria yang berdiri di depannya saat ini. Bagaimana bisa pria itu melamarnya dengan sangat tidak sopan. Apalagi alasan keberadaan Saena di situ adalah karena dia diculik.
“Aku penasaran! Apa kamu sudah menjaga putramu dengan baik? Tentunya kamu tidak mau putra kesayanganmu bernasib sama seperti bayi ini bukan?” Kata Saena penuh penekanan.
“Semuanya akan tetap aman, asalkan kamu menikah denganku.” Kata pria itu. Saena merasa geli mendengar perkataan pria itu.
“Menikah denganmu? Apa kamu bercanda? Itu sama saja seperti bunuh diri!”
“Bukankah menikah dengan Seonghwa juga seperti itu?” Helfan menaikkan satu alisnya.
“Jelas berbeda, jika menikah denganku. Anak dan istrimu akan musnah!” Saena mengatakannya tanpa rasa ragu sedikitpun.
“Sepertinya sikap sarkas Kino menular padamu.” Kata pria itu pada Saena.
“Katakan saja apa maumu. Pasti ada alasan khusus kau ingin menikahiku bukan?” Kata Saena singkat.
“Sepertinya menikahimu lebih baik daripada membunuhmu.” Kata pria itu, masih dengan senyum yang sama.
“Pikirkan anak dan istrimu. Menikahiku sama dengan membunuh mereka!” Saena mengulangi perkataannya dengan maksud yang sama tapi pemilihan katanya berbeda. Gadis itu berekspresi datar. Gadis itu benar-benar menirukan ekspresi Kino saat bicara. Ya, setidaknya saudara sepupunya itu meskipun tidak baik. Tapi sikapnya sangat dibutuhkan di saat seperti ini.
Pria yang ada di depan Saena saat ini adalah pria yang sudah membuat hidup Saena berantakan. Dan dia adalah orang yang menggagalkan kerja pertama Saena. Bahkan tadi Saena sempat mengingat saat di mana pria itu berpura-pura suka padanya dan menjebaknya. Iya, dia Helfan.
“Tentu saja itu tidak akan terjadi. Di dalam dunia mafia, permasalahan soal wanita itu siapa cepat dia dapat.” Helfan terlihat santai menanggapi Saena.
“Apa kamu mau mengatakan jika kamu adalah tunangan Seonghwa?” Helfan mendahului Saena yang sepertinya akan mengatakan sesuatu.
__ADS_1
“Bagus jika kamu tahu.” Kata Saena dengan tetap tenang.
“Pertunangan hanya formalitas. Dan pertunangan sangat jauh berbeda dari pernikahan.” Helfan tersenyum miring menatap Saena.
Saena masih dengan ekspresi dinginnya menatap ke arah Helfan. Dalam benaknya muncul banyak pertanyaan. Helfan mengajak Saena menikah sepertinya berhubungan dengan bisnis yang lelaki itu miliki.
“Aku akan menjelaskan semua padamu. Agar semua terlihat lebih masuk akal.” Kata Helfan sebelum akhirnya pria itu berbicara panjang lebar.
Tentu Saena masih ingat jika dirinya pernah menemukan sebuah berkas. Berkas itu berisi rekapan obat terlarang atas nama perusahaan milik Helfan yang akan di kirim ke naga putih. Dalam perkumpulan empat naga, setiap kelompok memiliki peranannya masing-masing.
Naga putih yang menguasai bagian utara memiliki kuasa di bidang obat terlarang. Untuk naga merah yang menguasai bagian selatan memiliki kuasa atas perdagangan senjata api. Naga perak yang menguasai bagian timur sedikit berbeda. Mereka memiliki kuasa atas perdagangan manusia. Ah kenapa kedengarannya seram sekali haha. Lebih halusnya, mereka mengumpulkan semua remaja yang kabur dari rumah dan menjadikan mereka budak.
Intinya para remaja itu harus mencari uang untuk disetorka ke bos besar naga perak. Dan yang terakhir adalah naga emas yang meguasai bagian barat. Kelompok naga emas sedikit elit, karena mereka bergerak di bidang hiburan. Pimpinan naga emas mendirikan sebuah agensi.
Helfan bilang jika dirinya mendapat pilihan dari naga putih. Jika ada yang mengetahui tentang bisnis kotornya itu. Orang yang bersangkutan harus dibunuh. Namun ada pengecualian, jika bisa orang tersebut harus dijadikan bagian dari mereka.
“Dengan siapa wanita itu menikah. Maka pria itulah yang telah dipilihnya. Jadi sepertinya Seonghwa juga tidak akan bisa berbuat apa-apa.” Kata Helfan dengan senyum remeh yang menjadi penutup cerita panjangnya.
“Tapi aku sudah menjadi bagian dari kalian. Aku sudah berada di sisi Seonghwa dan juga menjadi adik San.” Saena masih tetap mencoba membela dirinya. Bukankah alasan yang diberikan Helfan itu aneh?
“Lalu bagaimana jika aku yang ingin memilikimu?” Helfan tersenyum penuh arti.
“Sepertinya menjadikanmu istri tidak terlalu merugikan. Malah mungkin menguntungkan.” Kata Helfan lagi.
Seorang pria masuk ke dalam ruangan itu. Dia menodong Helfan dengan senjata api. Saena yang melihat hal itu membulatkan matanya. Pria itu menempelkan mulut tempat keluarnya peluru tepat di pelipis Helfan. Pistol yang digunakan adalah desert eagle, pistol semi-otomatis dengan kaliber besar.
Saena menghalangi pandangan balita yang sejak tadi masih berada di gendongannya.
__ADS_1
“Sebaiknya berhentilah mengusik Dea. Atau kau mau kepalamu ini hancur?” Kata pria itu dengan perkataannya yang selalu saja sarkas.
Pria dengan kata-katanya yang selalu sarkas, kejam dan selalu membuat orang yang mendengarnya begidik ngeri. Siapa lagi jika bukan Kino. Saena hanya bisa mematung melihat kakak sepupunya yang terkenal sadis itu.
“Apa kau sudah gila? Naga putih akan mendapatkan masalah jika kau membunuhku!” Gertak Helfan.
“Menyingkirkan bangkaimu mudah sekali” kata Kino.
Tanpa mereka berdua sadari, Saena meninggalkan ruangan itu. Tentu saja gadis itu bisa kabur, karena dia sama sekali tidak diikat. Memangnya tokoh utama tidak boleh membebaskan dirinya sendiri? Tentunya Saena juga berpikir jika dia terbebas dari Helfan, Kino akan membawanya. Dan itu akan sangat merepotkan. Bagi Saena kedua pria yang dia tinggalkan itu sama saja. Sama-sama merepotkan.
Saena bisa memastikan jika dia saat ini masih berada di Korea. Karena melihat banyak sekali papan nama ruko bertuliskan Hangeul. Saena berjalan sambil berpikir keras. Bagaimana cara dirinya pulang. Dan jangan sampai lupa, bayi laki-laki kecil lucu nan comel masih berada di gendongan gadis itu.
Apa ada yang berharap Seonghwa tiba-tiba datang dan memberhentikan mobilnya di depan Saena? Iya, seperti adegan di film. Si wanitanya berjalan tanpa arah. Lalu tiba-tiba ada mobil yang hampir menabrak dirinya. Tidak disangka ternyata yang mengemudikan mobil itu sang tokoh utama prianya.
Tentu saja tidak akan seperti itu. Hei, ini bukan cerita klise yang mengandalkan takdir.
Jika ada yang mengusulkan Saena untuk memakai ponsel miliknya. Saena mana pernah membawa ponsel. Dia buka anak jaman sekarang yang setiap detiknya tidak bisa lepas dari benda logam persegi panjang yang pintar itu. Kalung pembereian Wooyoung? Jam tangan hadiah dari Yeosang?
Tentu saja kedua benda itu tidak menempel di tubuh Saena.
Jika saja ini Indonesia. Mungkin Saena bisa meminjam ponsel orang yang lewat untuk menghubungi keluarganya. Saena merasa lelah, dia menghampiri sebuah bangku yang berada di pinggir jalan.
“Maafkan noona ya? Kata-kata kasar tadi pasti membuat telinga kecilmu jadi ternodai.” Saena meminta maaf pada bayi kecil yang saat ini dia pangku.
Mari kembali lagi ke tempat di mana Kino dan Helfan berada.
Helfan sedang duduk santai. Begitu juga dengan Kino. Kedua pria itu duduk saling berhadapan. Menatap diri satu sama lain dengan emosi masing-masing. Kino mengeluarkan sebuah benda persegi panjang dari kantung celananya. Setelah sedikit diotak-atik, pria itu menempelkan benda itu ke telinganya.
__ADS_1
“Cepatlah bergerak! Cari Saena sebelum dia jauh!” Kino memberi perintah pada ponsel pintarnya. Ah bukan. Dia memberi perintah pada orang yang berada di seberang sana.