Sleeping Beauty

Sleeping Beauty
Bayi


__ADS_3

Saena ditemani Yeosang dan San ke sebuah pusat perbelanjaan. Saena sudah mencatat semua kebutuhan yang akan dia beli. Sejak tadi gadis itu terus mencari barang. Saat sudah menemukan barang itu, dia akan langsung memasukkannya ke dalam kereta dorong yang dikemudikan Yeosang.


Kemana Seonghwa? Kenapa Saena tidak ditemani Seonghwa?


Sejak dijemput ayahnya kemarian dan sampai saat ini. Pria itu tidak ada kabarnya sama sekali. Mungkin seharusnya Saena menanyakan hal itu pada San atau Yeosang. Tapi haruskah seperti itu? Saena mencoba berpikir positif. Mungkin saja Seonghwa sibuk dengan urusan dunia bawahnya.


Barang sudah terkumpul di kereta dorong, saat ini Saena dan kedua pria yang menemaninya tengah menempati antrean menuju kasir. Antreannya cuku panjang, karena tempat perbelanjaan yang saat ini mereka singgahi cukup besar dan sangat lengkap.


Saena menitipkan kereta belanja dan pembayarannya pada San dan juga Yeosang. Karena gadis itu akan pergi ke kamar mandi. Saena mulai berjalan mendekat ke arah kamar mandi, yang pasti setelah itu Saena masuk ke dalam kamar yang di diami air itu.


Selang beberapa menit Saena keluar dari kamar mandi. Tapi seorang pria yang tidak dia kenal memaksanya menggendong bayi. Jika diperhatikan orang yang ada di sekitarnya pasti mereka mengira jika sang bayi adalah anak dari Saena dan pria yang entah siapa itu.


“Ayo kita pulang!” Kata pria itu dengan senyuman di wajahnya. Dia tampak kesusahan dengan bayi di gendongan tangan kanannya dan juga kantung belanjaan di tangan kirinya. Ah bukan bayi, tapi balita yang kira-kira usianya dua tahun. Berjenis kelamin laki-laki, pipinya terlihat seperti bakpao. Telihat sangat menggemaskan.


“Kenapa kamu hanya diam saja? Bantu aku!” Kata pria itu, pria itu kembali memajukan badannya. Membuat gerakan agar Saena mau menggendong bayinya.


Bayangkan jika kalian jadi Saena. Baru keluar dari kamar mandi langsung mengetahui fakta jika ternyata kalian sudah berkeluarga. Sepertinya itu terdengar sedikit konyol. Intinya ada yang mengaku sebagai bagian dari anggota keluarga kalian. Yang pasti kalian akan bingung bukan? Sama seperti Saena saat ini. Karenanya dia hanya menatap sang pria dan bayinya dengan tatapan bingung.


“Maaf, anda siapa?” Saena mencoba bersikap baik, barangkali laki-laki itu hanya salah orang. Mungkin saja. Ya bisa saja kan ibu sang bayi mirip sekali dengan Saena.


“Astaga! Apa penyakitmu kambuh lagi? Jangan lagi.” Gerutu pria itu.


Tapi tiba-tiba saja bayi laki-laki itu menangis. Dan..


“Hei kau sedang apa, anakmu menangis. Tenangkan dia!” Seru seorang wanita yang mungkin seumuran dengan nyonya Choi. Saena yang masih bingung menatap wanita itu.

__ADS_1


“Kenapa malah menatapku? Kau ini sebenarnya ibu macam apa?” Cibir wanita itu. Kenapa mulutnya sangat pedas sekali haha.


“Maaf, istri saya memiliki permasalahan dengan ingatannya” Pria itu membela Saena.


“Sayang gendong mama ya.” Kata pria itu sambil menyerahkan si bayi pada Saena. Balita mungil yang sedang menangis itu meluluhkan hati Saena. Akhirnya Saena menggendong balita laki-laki lucu itu.


“Sebaiknya kamu pakai ini. Agar bayi kita hangat” kata pria itu sambil memakaikan coat yang sejak tadi menutupi tubuhnya pada Saena. Setelahnya pria itu memegang kedua bahu Saena dan mendorong gadis itu agar berjalan ke arah yang sesuai dengan kemauannya.


“Kenapa? Apa sekarang kamu sedang bingung? Tenanglah, aku tidak akan membunuhmu!” Bisik pria itu pada Saena. Saena membulatkan matanya, dia ingin melepaskan pegangan pria itu pada bahunya. Tapi sepertinya pria itu terlalu kuat.


“Sudah santai saja dan menurutlah. Maka bayi itu akan selamat.” Bisik pria itu lagi. Saena mengerutkan kedua alisnya menatap bayi yang kini berada dalam dekapannya. Sepersekian detik Saena baru ingat jika bayi yang ada dalam gendongannya saat ini adalah anak dari salah satu kerabat San. Ya, tentu Saena masih sangat mengingat waktu saat bayi itu bersama dengan kedua orangtuanya berkunjung ke rumah keluarga Choi.


Bagaimana bisa bayi itu ada di tangan seorang pria yang tidak dikenal? Apa ini penculikan?


Mungkin sejak awal hubungan Seonghwa dan Saena hanya karena sebuah kerumitan jalan cerita. Tapi bukankah sejak awal sudah sering diucapkan? Jika jalan hidup manusia itu penuh liku.


Bisa saja, lagipula Seonghwa juga manusia biasa sama seperti kita. Tapi mungkin dia terlalu lengah. Musuh yang seharusnya sudah dia hancurkan sejak awal itu menyerang. Padahal kemarin dia dan ayahnya baru membincangkan soal penjebakan yang akan mereka lakukan pada sang musuh.


Tapi tidak disangka musuh lain ikut bergerak. Baru beberapa menit yang lalu Seonghwa sudah siap bergerak. Tapi tak disangka dia malah mendapatkan berita yang sangat mengejutkan. Saena menghilang. Tidak hanya itu, Sepupu San yang masih balita juga diculik.


Bagaimana bisa keduanya menghilang di hari yang sama?


Dengan ini pekerjaan Seonghwa akan terhambat. Dalam sehari harus bekerja menangani tiga masalah. Yang pertama menangkap Helfan, yang kedua mencari sepupu San dan yang ketiga mencari calon istrinya.


Saena tidak mungkin melarikan diri. Atau menghilang tanpa alasan. Pasti ada seseorang yang membawa gadis itu pergi. Untuk sepupu San. Bisa saja itu adalah perbuatan saingan bisnis kedua orang tua balita kecil itu. Atau balita itu memang sudah diincar penculik. Pada umumnya para penculik akan memeras uang para orangtua yang anaknya mereka sandera.

__ADS_1


Untuk Saena. Mungkinkah Kino yang membawa gadis itu pergi?


Kino memiliki perasaan terhadap Saena. Jadi wajar jika Seonghwa mencurigai pria itu. Apa lagi sebelumnya bukankah pria itu juga yang menculik Saena? Ah sepertinya bukan. Tapi Saena sendiri yang menyerahkan diri pada pria itu. Tapi bukankah sama saja? Menyerahkan diri atau tidak. Saena akan tetap diambil kembali oleh Kino.


Tempat yang asing..


Saena masih setia menggendong saudara San. Yang pastinya balita laki-laki mungil itu juga saudara Saena. Entah berada di mana mereka saat ini. Yang pasti mereka berdua sedang berada di tempat yang sangat asing dan cukup kumuh.


Balita itu kembali menangis. Saena dengan sigap berdiri. Biasanya bayi akan diam jika si penggendong berdiri dan sedikit menggerak-gerakkan tubuhnya. Ya saat ini itulah yang Saena lakukan.


“Kenapa berisik sekali?!” Seru laki-laki yang baru saja masuk ke dalam ruangan Saena dan bayi itu berada. Saena hanya diam tidak merespon. Dia masih fokus menenangkan sang bayi.


“Sebenarnya kau ini wanita atau bukan? Kenapa menenangkan bayi saja tidak becus?!” Cibir pria itu dengan nada marah.


“Apa kau tidak bisa diam?! Suaramu membuat tangisan bayi ini semakin keras!” Bentak Saena tak mau kalah. Saena saat ini terlihat lebih mirip seperti seorang ibu yang marah-marah karena putranya terus diusik.


“Kau! Kau berani melawanku?!” Pria itu sudah siap melangkah maju.


“Apa?! Apa kau akan membunuhku?! Coba Saja!” Gertak Saena, gadis itu memelototi pria yang menculik dirinya.


“Hentika! Ada apa ini?!” Seru seorang laki-laki dari ambang pintu. Laki-laki itu berhasil menghentikan sang penculik yang sudah siap memukul Saena dengan tongkat kayu yang ada di tangannya. Saena membulatkan matanya, tentu dia mengenali pria yang saat ini tengah berjalan mendekat ke arah dirinya.


“Aku tidak menyuruhmu membunuhnya!” Kata pria itu pada Sang penculik. Dia membuat bahasa isyarat dengan menggerakkan kepalanya. Itu membuat sang penculik cepat-cepat meninggalkan ruangan.


“Saena bersiaplah, aku sudah memutuskan hal yang baik untuk dirimu dan aku.” Kata pria yang kini sudah berdiri tepat di depan Saena.

__ADS_1


“Menikahlah denganku, maka semua akan selesai.” Kata pria itu dengan senyum miringnya.


__ADS_2