Suami Jalur Perjodohan

Suami Jalur Perjodohan
Part 10: Kekecewaan Fariz


__ADS_3

...Laki-laki akan memilih pergi dan menjauh ketika kehadiran dan mengorbankannya tidak pernah di hargai. Jadi, jangan sia-siakan seseorang yang saat ini tengah memperjuangkanmu dengan ketulusan cinta yang dia miliki. ...


"Fariz!" Jessica menahan pergelangan tangan pria itu yang sudah menaiki motornya.


"Apalagi, Jes?!" tanya Fariz dengan raut wajah yang terlihat tak bersahabat.


"Aku ingin bicara serius dengan mu, ini tentang hubungan kita."


"Kita tidak memiliki hubungan! Dan berhenti terus mengejar ku!" sentak Fariz seraya menyalahkan mesin motornya.


"Sekarang kau berubah!" Mata Jessica berkaca-kaca.


Fariz mendengus."Aku berubah seperti ini karnamu! Dan menjauh dari ku!"


Pria itu segera menjalankan sepeda motornya meninggalkan Jessica di area parkir perusahaan. Semua pasang mata menatap ke arah Jessica yang terisak-isak dengan tubuh bergetar. Melihat Fariz pergi begitu saja meninggalkan dirinya.


Sementara sepanjang perjalanan Fariz mendatarkan wajahnya. Ia semakin mengeratkan tangannya pada stir motor seolah melampiaskan amarah yang bergejolak dalam dadanya. Pria itu menepikan motor yang Ia kendaraai di sebuah gerobak yang menjual kue cubit.




Sementara di rumah kontrakan, Khaliza sibuk membersihkan rumah. Terutama mencuci pakaian milik suaminya yang menumpuk di kamar mandi. Entah sudah berapa minggu pria itu tidak mencuci pakaian miliknya hingga menumpuk sangat banyak.


"Assalamualaikum, Khaliza...!!" Suara teriakan keras Fariz yang baru memasuki rumah, membuat Liza yang tengah berada di belakang hanya bisa geleng-geleng kepala seraya membalas salam suaminya dengan nada suara pelan.


"Ternyata kau di sini," ucap Fariz yang terlihat bernapas lega ketika mendapati sang istri berada di belakang rumah.


Liza hanya menoleh sekilas dan kembali melanjutkan aktifitasnya menjemur pakaian.


"Jadi seperti ini penyambutan seorang istri saat suaminya pulang?"


Liza kembali menatap Fariz yang secara terang-terangan menyindirnya. Ia langsung menghentikan aktifitasnya dan mencuci tangan di keran air sebelum mendekat pada Fariz.


"Mas, Ingin makan atau minun teh?" tanya Liza seraya mencium tangan Fariz yang dengan cepat mencium kening sang istri yang selalu menegang setiap mendapatkan sentuhan yang Fariz berikan.

__ADS_1


"Teh saja,"


"Seharusnya kau tidak perlu mencuci pakaian milik Mas yang sangat banyak itu," ucap Fariz melirik semua pakaian miliknya yang tengah di jemur.


"Ini sudah tugas istri," balas Liza setelahnya beranjak dari hadapan Fariz yang tampak terkekeh pelan.


Ia sedikit lucu melihat sikap dan tingkah Liza yang terlihat kaku dihadapannya.


*


*


Setelah membersihkan badan dan sholat Ashar, kini Fariz sudah duduk di depan televisi sambil menikmati kue cubit yang Ia beli di pinggir jalan tadi. Pria itu mendongak kala Liza datang membawa secangkir teh hangat untuknya.


"Duduk sini, Sayang." Fariz menepuk-nepuk lantai keramik di sampingnya.


Liza tampak tertegun mendengar sebutan sayang yang ditujukan padanya. Meski begitu Ia duduk di samping suaminya. Fariz tersenyum.


"Cobalah kue yang Mas beli tadi." Fariz menyodorkan kue cubit bekas gigitannya.


"Jangan menolak," ucap Fariz seolah Liza harus menerimanya.


"Biar aku makan sendiri." Liza hendak mengambil kue tersebut dari tangan suaminya. Tapi Fariz dengan cepat menjauhkannya.


"Tidak, langsung makan dari tangan Mas." Fariz semakin memajukan kue tersebut sampai bersentuhan dengan bibir ranum Liza.


Wanita itu menghela napas pelan. Ia membuka mulutnya menerima suapan yang suaminya berikan. Fariz terlihat sangat senang.


"Kamu tahu, istri yang menyenangkan hati suami akan mendapatkan pahala. Jadi, jangan pernah menolak apapun yang Mas minta, bila itu bukan hal yang melanggar dari aturan yang Allah larang," papar Fariz.


Liza mengangguk.


Fariz kembali memakan kue bekas gigitan Liza tanpa ada rasa jijik.


Liza yang melihat itu memalingkan wajahnya.

__ADS_1


"Apa kamu kelelahan setelah membersihkan rumah dan mencuci pakaian?"


Kening Liza berkerut mendengar itu."Aku sudah biasa membersihkan rumah, jadi tidak terlalu lelah."


Senyuman mengembang di bibir Fariz.


"Kalau begitu, malam ini Mas ingin meminta hak Mas, Sayang."


Pupil mata Liza membesar, terkejut. Wanita kembali menundukkan kepalanya dengan mata yang bergulir. Ia meremas gamis yang Ia kenakan sekarang.


"Aku sedang datang bulan," balas Liza tanpa ingin menatap netra hitam pekat milik suaminya.


Fariz tersenyum kecut." Kapan datang bulannya?"


Liza meneguk ludahnya kasar, Ia melirik suaminya sekilas dan kembali menatap ke bawah.


"Tadi malam."


"Ooh begitu. Tapi kenapa tadi pagi sholat shubuh."


Liza langsung mendongak menatap Fariz.


"Bila kamu tidak ingin memberikannya katakan saja. Tidak perlu berbohong," ucap Fariz yang tersirat kekecewaan dari raut wajahnya.


Pria itu bangkit dari tempat duduknya.


"Mas mau ke mana?" tanya Liza yang gelagapan saat Fariz keluar dari rumah tanpa berucap apapun.


Ia tidak berniat sedikit pun membuat suaminya marah. Ia hanya tidak ingin menyakiti perasaan Fariz atas penolakan. Ia masih belum siap menjalankan tugas sebagai istri sepenuhnya.


____________


Hei girl! Untuk sementara waktu aku update dua hari sekali ya. Setelah cerita satunya selesai baru daily update:))


Terima kasih yang sudah mampir

__ADS_1


See you di part selanjutnya:)


__ADS_2