Suami Jalur Perjodohan

Suami Jalur Perjodohan
Part 30: Akhir


__ADS_3

"Masuk, Mi." Fariz membuka lebar pintu kamar yang kini di tempati Liza.


Wanita paruh baya itu melangkah masuk ke kamar yang sudah di suguhi tangisan bayi mungil. Senyuman kecil muncul di bibir umi Fardah, gejolak kebahagiaan tidak bisa Ia sembunyikan dari raut wajahnya. Sama halnya dengan Liza yang tersenyum hangat menyambut kedatangan mertuanya.


"Bagaimana keadaanmu?" tanya umi Fardah pada Liza.


"Alhamdulillah, baik Mi," balas Liza sedikit kikuk. Ia masih canggung dengan mertuanya meski pernikahannya sudah berjalan kurang lebih satu tahun dengan Fariz.


"Umi, ingin menggendong Liana?" tawar Fariz.


Umi Fardah tersenyum. Fariz menyerahkan Liana pada sang umi Fardah dengan hati-hati.


"Dia cantik. Mirip seperti Liza."


Liza yang mendengar itu tersenyum dan tersipu dengan ucapan umi Fardah.


"Tentu, Liana memiliki kecantikan yang menurun dari Liza. Dan aku tidak salah memilih istri." Ucapan Fariz seperti menjunjung istrinya di hadapan orang tuanya, dan membuat raut wajah umi Fardah berubah.


"Iya, kau memang tidak salah memilih istri dan Umi akui itu. Kalau begitu, Umi ingin membawa Liana ke luar."


Tanpa menunggu respon dari keduanya wanita paruh baya itu membaca cucunya keluar dari kamar tersebut.


"Sepertinya Umi sudah sadar." Fariz terkekeh ringan.


"Semoga saja. Mungkin kelahiran Liana mengubah pandangan Umi tentangku, Mas." Liza mendongak menatap suaminya dan kembali berkata."Aku ingin hubunganku dengan umi terjalin dengan baik karna itu keinginan semua menantu."


Ya, Liza ingin hubungannya dengan umi Fardah berjalan dengan baik tanpa mengungkit dan mempermasalahkan masa lalunya.


"Di mana Fariz?" tanya abah Hasan kala sang istri keluar dari kamar.

__ADS_1


"Mereka masih di kamar." Umi Fardah mencium gemas pipi berisi cucunya yang menguar aroma wangi khas bayi. Sedangkan Liana menggeliat dengan mulut yang mengecap-ngecap.


"Abah ingin menggendong dia."


"Tidak, aku baru saja menggendongnya. Sebaiknya abah duduk saja di sofa." Umi Fardah membawa menjauh Liana dari suaminya. Ia tak rela menyerahkan bayi mungil ini pada suaminya meski sekejap.


Abah Hasan menghela napas kasar dan menurut dengan titah sang istri. Meski begitu Ia tetap bahagia melihat istri dan cucunya.


"Mas, pelan-pelan." Liza terlihat meringis kala Fariz kembali membaringkan nya di kasur. Ia baru saja buang air kecil dengan bantuan suaminya. Dan kakinya masih terasa ngilu.


"Ini sudah pelan-pelan, Sayang. Sekarang kau ganti baju dulu, karna tidak mungkin hujan-hujan seperti ini aku memandikanmu," ucap Fariz.


Liza mengangguk. Ia menatap sekilas ke arah jendela kaca yang berembun karna air hujan. Sudah beberapa hari ini hujan terus turun dengan angin yang berhembus cukup kencang. Mungkin karna sudah memasuki akhir tahun.


"Nanti kita keluar ya Mas? Aku bosan di rumah terus." Liza menatap Fariz yang tengah sibuk mencari pakaian yang cocok dan nyaman untuk sang istri.


"Boleh, setelah hujan reda."


"Nanti kalau kita balik ke kota siapa yang menjaga Liana?" tanya Liza, mengingat dirinya masih belum sepenuhnya bisa berjalan.


"Sepertinya kita tidak akan kembali ke kota. Tunggu keadaanmu benar-benar pulih."




Liza tersenyum senang ketika Fariz menepati janjinya. Pria itu mendorong kursi roda sang istri, membawanya ke tempat-tempat yang Liza inginkan. Sudah hampir dua minggu wanita itu terkurung di rumah.


"Sudah lama aku tidak keluar rumah. Pemandangan di tempat ini sedikit berbeda," ucap Liza mendongak menatap Fariz.

__ADS_1


Keduanya tengah berada di sebuah danau yang tidak jauh dari rumah. Biasanya danau ini menjadi tempat memancing dan berkumpulnya para anak muda atau sepasang kekasih di sore hari. Fariz bersimpuh di hadapan Liza yang masih terlena dengan danau yang biasanya Ia datangi dengan almarhum suaminya.


"Bagaimana perasaanmu saat ini?" tanya Fariz menatap lekat Liza.


"Perasaanku saat ini benar-benar senang," jawab Liza tanpa memudarkan senyumannya.


"Lalu, dengan pernikahan ini, apa kau bahagia?"


Liza terdiam sejenak dan menatap lekat suaminya.


"Tentu aku bahagia, walaupun awalnya aku menolak kehadiranmu. Tapi sekarang aku sangat mencintaimu." Liza memeluk Fariz yang berada di hadapannya.


Fariz tersenyum lebar mendengar pernyataan sang istri. Ia lebih erat lagi memeluk Liza.


"Mas berharap kau tetap di samping Mas, dan menjalani rumah tangga ini sampai maut memisahkan. Begitu banyak ujian yang harus kita lalui untuk mempertahankan pernikahan ini," ucap Fariz menatap Liza begitu dalam.


Kedua tangan pria itu terulur mengusap pipi Liza.


Pernikahan karna perjodohan ini akhirnya berakhir bahagia meski tidak begitu mudah untuk keduanya menjalani semuanya. Semakin bertambah usia pernikahan maka semakin besar pula ujiannya, dan itu tergantung bagaimana kedua pasangan menyikapinya.


Dan untuk umi Fardah. Wanita paruh baya itu perlahan melunakkan hatinya pada sang menantu. Mulai menerima kehadiran Liza meski saat awalnya Ia menolak kehadiran Liza. Terkadang status janda selalu di pandang sebelah mata oleh beberapa orang.


Fariz bukan hanya mengajak Liza ke danau tapi juga mengajak kepasar malam setelah mereka berdua kembali untuk sholat magrib sebelum ke sini. Sementara Liana tengah di jaga oleh umi Fardah dan abah Hasan. Kedua orang tua itu seolah memberikan kebebasan untuk Fariz dan Liza menghabiskan waktu berdua.


"Enak, Mas. Ingin coba?" Liza menyodorkan es krim pada Fariz untuk dicicipi.


"Tidak. Kau habiskan saja. Sekarang kau ingin ke mana?" tanya Fariz.


"Sebaiknya kita makan dulu. Aku lapar." Liza mengusap perut.

__ADS_1


"Baiklah. Apapun yang istriku minta akan terpenuhi."


Fariz mendorong kursi roda yang diduduki Liza ke sebuah tempat makan yang ada di pasar malam tersebut yang begitu banyak dipenuhin mengunjung.


__ADS_2