
...Selama masih bernapas dan selama berpijak di muka bumi, ujian akan terus datang sampai kematian itu datang....
Setelah dokter Agni selesai memeriksa Liza dan berpamitan pulang, Fariz segera masuk ke dalam kamar untuk menemui istrinya.
Sorot tajam pria itu langsung mengarah pada Liza yang duduk di kursi rias dan terlihat melamun. Kaki Fariz bergerak mendekati Liza dan menyentuh pundak istrinya.
"Dokter Agni mengatakan apa saja tentang kondisi kandungan mu?" tanya Fariz, Ia menatap pantulan bayangan Liza di cermin.
"Aku hanya perlu banyak-banyak istirahat dan dokter Agni memberikan resep obat yang harus aku tebus," balas Liza yang kini mendongak menatap suaminya.
"Jika ada sesuatu yang terjadi dengan kandungan mu, tolong jangan rahasiakan dari Mas." Fariz bersimpuh di hadapan Liza yang menatap sendu suaminya.
Tangan wanita muda itu terulur menyentuh wajah Fariz."Mas tidak usah khawatir. Dia baik-baik saja di dalam sini sampai dia lahir nanti..." lirih Liza penuh keyakinan.
Sementara Fariz merasa janggal dengan ucapan Liza.
"Boleh aku memelukmu, Mas?"
"Tentu boleh, Sayang. Tidak ada yang melarang, Mas milikmu."
Liza segera memeluk tubuh hangat suaminya. Menyandarkan kepalanya dibahu Fariz. Perlahan rasa nyaman mulai merayap dalam benak Liza yang seakan tak ingin lepas memeluk suaminya.
Saat ini hatinya butuh pelampiasan atas ketakutan dan kecemasan yang saat ini melanda.
"Sekarang kau istirahat saja di kamar. Mas akan menyiapkan makan malam untukmu."
Liza menggeleng.
"Tidak. Aku tidak enak dengan umi dan abah. Aku akan bergabung makan malam dengan mereka. Tidak perlu mengkhawatirkan keadaanku, aku baik-baik saja."
__ADS_1
Fariz menghela napas berat."Liza...kali ini saja kau menurut dengan ku."
"Aku mohon Mas, jangan terlalu mengkhawatirkan ku." Liza bangkit dari tempat duduk dan Fariz membantu sang istri yang tampak kesusahan.
Genggam tangan wanita itu semakin erat pada tangan Fariz. Mendadak rasa sakit meremas perutnya, Ia terdiam sejenak berusaha tenang.
"Kau kenapa? Apa ada yang sakit?" tanya Fariz penuh khawatir kala melihat wajah Liza yang memucat.
"Ti-tidak. Ayo kita keluar," ucap Liza tersenyum kaku. Ia semakin erat menggenggam tangan suaminya.
"Besok Liza ikut Umi ke toko," ucap umi Fardah di sela-sela semua orang di meja makan tengah menikmati santapannya.
"Untuk apa Liza ikut ke toko?" tanya abah Husein penasaran.
"Abah kan tahu sendiri, toko kue kita tutup hampir seminggu dan mungkin kotor . Umi ingin mengajak Liza untuk bebersih." Umi Fardah menatap menantunya dan mengukir senyuman.
Liza diam merespon.
Umi Fardah memberengut."Kau terlalu berlebihan mengkhawatirkan, Liza. Padahal bagus untuk wanita hamil bila banyak bergerak! Jangan karna Liza hamil kau melarang dia melakukan aktivasi apapun!" balas umi Fardah sarkas.
"Aku tahu, tapi saat ini kandungan Liza sedang lemah__"
"Bukan kandungannya yang lemah, tapi Liza terlalu mudah mengeluh," sela umi Fardah memotong ucapan Fariz.
"Sudah! Jangan membuat keributan di sini," tegur abah Hasan."Umi, tolong jangan terus membuat keributan, pahami kondisi Liza sekarang," ucap abah Hasan berharap istrinya menyudahi keributan.
Wanita paruh baya itu menghela napas kasar dan menurut dengan ucapan suaminya.
Fariz mengenggam tangan Liza yang terlihat diam dengan kepala tertunduk.
__ADS_1
"Tidak apa-apa, kau tenang saja. Umi memang seperti itu," bisik Fariz di telinga Liza yang kini menoleh menatap suaminya.
"Habiskan makananmu." setelah berucap seperti itu Fariz mengecup singkat kening Liza yang melebarkan matanya.
Abah Hasan yang melihat pemandangan itu hanya menggeleng pelan.
•
•
"Aku ingin segera pulang ke kota," ucap Liza menatap suaminya yang tengah fokus menatap layar laptop. Ia sudah tidak tahan lagi bila terus diam saja dengan batin tertekan karna sikap mertuanya.
"Kenapa? Apa kau tidak betah di sini?" tanya Fariz, menoleh ke arah wanita yang kini tengah duduk di sisi kasur dan tengah menatap dirinya lekat.
Liza memejamkan matanya sejenak dan menghela napas panjang."Aku sedikit tidak nyaman bila terus berada di sini. Umi terlihat tidak menyukaiku. Dan aku tidak ingin melihat Mas terus ribut dengan Umi karna membelaku."
Fariz menatap sendu istrinya. Ia menyingkirkan laptop di pangkuannya dan bangkit dari tempat duduknya, mendekat pada Liza.
"Tunggu dua hari lagi. Setelah itu kita akan pulang. Dan maaf atas sikap umi yang membuatmu tidak nyaman seperti ini." Fariz menatap bersalah pada sang istri.
Pria itu duduk di samping Liza dan memeluk tubuh wanita itu dari samping. Aroma bunga sakura merasuk dalam indra penciuman Fariz yang semakin mengeratkan pelukannya sang istri.
Kecupan basah Fariz sematkan di pipi Liza yang langsung menoleh menatap suaminya.
"Bersabarlah sedikit lagi," ucap Fariz.
_____________
Hei girl! Terima kasih sudah mampir
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak dengan memberikan like dan komen.
See you di part selanjutnya:)