Suami Jalur Perjodohan

Suami Jalur Perjodohan
Part 20: Ucapan membawa petaka


__ADS_3

...Tetap berbuat baik meski tidak semua orang mengapresiasi apa yang kau lakukan. Setiap perbuatan yang dilakukan akan mendapat balasan. ...


"Kalian mau ke mana?" Umi Fardah menatap Fariz dan Liza yang terlihat rapi dengan pakaian yang mereka kenakan.


"Aku ingin membawa Liza ke makam Danu, Mi. Tiga hari lagi kami berdua akan kembali ke kota jadi ingin berziarah ke sana," jawab Fariz melirik sekilas pada Liza yang menunjukkan tatapan berbinarnya dan senyuman tipis dari balik cadarnya.


"Bukannya Umi melarang. Tapi, buat apa kalian ke sana. Dan kamu, Liza, sudah menikah dengan Fariz tapi masih saja mengingat suami pertamamu itu!"


Liza memundurkan langkahnya dan kini berdiri dibelakang Fariz. Ia semakin erat mengenggam tangan suaminya seolah menyalurkan perasaan yang Ia rasakan setelah mendengar ucapan umi Fardah yang cukup ketus dan begitu menggores dalam benaknya.


"Umi..., jangan bicara seperti itu. Aku tidak masalah Liza ke makam suami pertamanya, karna pria itu pernah menjadi bagian dari hidup Liza," balas Fariz meluruskan agar umi Fardah tidak semakin menyudutkan istrinya.


"Terserah kamu saja!" Wanita paruh baya itu mendengus dan bangkit dari tempat duduknya meninggalkan dua orang tersebut yang berdiri di ruang tamu.


"Mas..." Liza mendongak menatap Fariz setelah umi Fardah benar-benar menghilang dari balik tembok dapur.


"Tidak apa-apa, Sayang. Umi memang seperti itu dan semoga kamu betah jadi menantunya," Fariz terkekeh pelan dengan gurauan yang Ia ucapkan.


Liza mengangguk disertai senyuman.


"Ayo kita pergi." Fariz menarik lembut tangan mungil Liza, menggiringnya keluar rumah.


"Anak muda zaman sekarang semakin sulit diatur," gerutu umi Fardah kala melihat kepergian Fariz dan Liza dari jendela dapur.


"Umi, kenapa?"


"Astagfirullah, Asty!" Umi Fardah memekik kaget kala Asty, putri bungsunya sudah berdiri di sampingnya.


"Tidak apa-apa. Lain kali jangan membuat Umi kaget. Kamu ini kebiasaan!" marah umi Fardah menatap Asty yang hanya tersenyum lebar.


"Abah kapan pulang, Mi?" tanya Asty yang memfokuskan tatapannya pada umi Fardah yang sibuk mengeluarkan sayuran dari kulkas.


"Besok."


"Asyik! Aku ingin menitip banyak oleh-oleh dengan abah." Asty tampak memekik kegirangan. Umi Fardah hanya geleng-geleng kepala melihat tingkat putrinya.


"Semoga saja nasib putriku tidak seperti Liza," gumam umi Fardah dalam hati.

__ADS_1


"Kamu jangan terlalu dekat Ihsan," peringat




"Hati-hati, Sayang."


ucap Fariz ketika Liza turun dari motor setelah sudah sampai di pemakaman umum di kampung tersebut. Perasaan Liza langsung bergejolak dengan rasa haru ketika menginjakkan kakinya ke tempat yang sudah lama tidak Ia sambangi lebih dari dua bulan.


"Mas, tunggu di sini saja. Biar aku yang ke makam mas Danu," ucap Liza yang langsung di tolak Fariz.


"Tidak, Liza. Mas ingin ikut menemanimu."


"Aku mohon, Mas. Aku ingin sendiri." Liza menatap memohon pada Fariz yang pada akhirnya mengalah melihat wajah memelas Liza.


Pria itu menatap Liza yang melangkahkan kakinya menjauh darinya. Wanita itu berjalan menuju ke makam yang tidak jauh dari tempat Ia berdiri sekarang.


"Mas Danu. Maaf sudah lama Liza tidak berkunjung ke sini..." Mata Liza langsung berkaca-kaca dan dada yang terasa sesak. Apalagi kondisi makam suami pertamanya yang ditumbuhi rumput liar dan tak terurus.


Fariz masih setia berdiri di luar pagar pemakaman. Sorot matanya tidak lepas dari Liza yang terlihat mencabuti rumput liar di makan tersebut.


Rindu. Kata yang tepat menggambarkan perasaan Liza saat ini. Ia sangat merindukan suami pertamanya meski sudah ada Fariz di sampingnya. Sangat sulit melupakan seseorang yang sudah lama menetap di hati dan menjadi cinta pertama.


"Sekarang kamu tidak usah khawatir, Mas. Aku sudah bahagia dan aman bersama Mas Fariz. Mungkin pertemuan kita hanya sebatas mengukir kenangan indah yang pada akhirnya berpisah. Maaf tidak bisa menepati janjiku agar selalu setia padamu." Liza menyeka air mata yang hendak menetes dari sudut matanya.


Ia kira akan tetap setia dan mencintai Danu sampai akhir hayatnya. Tapi nyatanya salah, Tuhan memiliki rencana lain dan pada akhirnya menyatukan dirinya dengan Fariz melalui jalur perjodohan. Meskipun begitu, Ia tetap bahagia karna kembali merasakan jatuh cinta kedua kalinya dan merasakan perhatian dari seseorang yang menganggap dirinya bagian terpenting dari seorang Fariz.


"Ini..."


Selembar tissu yang disodorkan membuat Liza mendongak menatap Fariz yang kini berdiri di sampingnya. Dengan ragu-ragu Ia mengambil barang tipis itu dan mengusap sudut matanya.


"Jangan berlebihan menangis seseorang," ucap Fariz yang ikut berjongkok di samping Liza.


Pria itu menepis rasa cemburu yang perlahan merambat di hatinya. Melihat Liza menangisi pria lain sudah membuat percikan cemburu itu muncul tanpa bisa di kendalikan.


"Aku tidak menangis, hanya bersedih saja," elak Liza membantah ucapan suaminya.

__ADS_1


"Sama saja, Sayang."


"Iih Mas, jangan panggil aku seperti itu." Liza tampak tak suka dengan panggilan yang pria sematkan padanya.


Fariz manggut-manggut paham dengan maksud istrinya.


"Sudah berdo'a?"


Liza menggeleng. Fariz tersenyum tipis.


"Kirimkan do'a pada Danu agar dia semakin tenang di sana," ucap Fariz yang setelahnya mengalihkan pandangan matanya ke arah keramik yang membungkus makam tersebut.


Liza terdiam sejenak menatap lekat Fariz yang mulai berdo'a. Sebuah senyuman tercipta dari bibir tipisnya.


*


*


Aisyah yang tengah melangkahkan kakinya menyusuri jalanan langsung menghentikan langkah kakinya ketika netra coklatnya tak sengaja menangkap sosok Fariz yang tengah duduk di sepeda motor, seperti menunggu seseorang.


"Mas Fariz..." gumam Aisyah menatap binar pada pria tersebut. Dengan hati yang tampak senang Ia segera melangkahkan kakinya menghampiri Fariz.


"Mas Fariz sedang apa di sini?" tanya Aisyah ketika sudah berdiri di dekat Fariz yang tampak terkejut dengan kehadiran wanita itu.


"Menunggu Liza," jawab Fariz seadanya dan kembali menatap sang istri yang tengah memesan es boba yang beberapa hari ini banyak di gandrungi anak kecil termasuk orang dewasa.


Aisyah hanya manggut-manggut mendengar jawaban pria itu. Matanya menatap lekat Fariz yang kini hanya mengenakan kaos hitam tipis dan celana trening abu-abu. Pria itu sangat tampan di tambah kumis tipis yang membuat Aisyah semakin gemas melihatnya.


"Mas Fariz kenapa mau menikah dengan Liza?"


Pertanyaan Aisyah tak di gubris Fariz yang masih fokus menatap Liza yang tengah duduk mengantri di kedai tersebut. Wanita itu tampak mendengus dengan sikap cuek Fariz.


"Padahal Liza janda, bekas orang!" Aisyah blak-blakan mengatakan itu membuat Fariz langsung memberikan kilatan tajam yang tersirat amarah pada wanita itu


__________


Hei girl! Terima kasih sudah mampir

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejak dengan memberikan like dan komen.


See you di part selanjutnya:)


__ADS_2