
Fariz tersenyum menatap wajah mungil putrinya yang kini tertidur nyenyak. Selama Liza tidak ada di samping Liana, Ia yang akan menjaga dan mengurus Liana.
Pria itu bangkit dari kasur dengan hati-hati, tak ingin mengusik tidur putrinya yang setengah jam lalu baru tertidur. Kaki panjangnya melangkah keluar dari kamar dan tujuannya ke kamar sebelah.
"Sayang..."
Wanita yang duduk di kursi roda dan tengah melamun menatap ke arah luar jendela, kini menoleh menatap Fariz yang tersenyum lembut. Pria itu masuk ke dalam kamar yang sedikit lebih luas dibanding kamar yang di tempati putrinya.
"Kenapa, hmm?" tanya Fariz dan bersimpuh di hadapan Liza yang menghela napas panjang.
"Kapan aku bisa menjaga dan menggendong Liana?" Liza balik bertanya.
Tangan Fariz terulur mengusap pipi pucat sang istri.
"Setelah keadaanmu membaik. Dokter mengatakan kau harus istirahat yang cukup. Jadi, untuk sementara waktu Liana biar Mas yang menjaga."
Wajah Liza menekuk sedih.
Setelah melahirkan putrinya dan menjalani operasi pengangkatan kanker yang Liza derita agar tidak semakin menyebar. Dan sekarang Ia belum diperbolehkan menyentuh putrinya. Setelah kelahiran Liana Ia harus mengalami kelumpuhan sementara yang dokter sendiri tidak tahu pasti kapan Ia bisa berjalan normal seperti dulu.
"Bagaimana pemakaman tadi?" Liza kembali bertanya untuk sekedar basa basi dan mengobati rasa penasaran.
Padahal Ia ingin sekali ke makam Aisyah, tapi Fariz melarangnya ikut.
"Ya seperti itu. Mas, hanya tidak menyangka dia pergi begitu cepat," balas Fariz yang kini duduk di sisi kasur dan Liza mengubah posisi kursi roda yang Ia duduki menghadap ke arah suaminya.
"Apa cinta yang terlalu besar pada seseorang tidak begitu baik untuk orang tersebut? Aisyah meninggal setelah Mas menolak menikah dengannya hingga dia sakit-sakitan seperti itu."
__ADS_1
Fariz tersenyum tipis merespon ucapan Liza.
"Meninggal itu sebuah takdir. Tidak ada sangkut pautnya dengan cinta apalagi atas penolakan Mas menikahinya."
"Sekarang kau istirahat di kasur. Tidak baik terlama duduk di kursi roda."
Fariz bangkit dari sisi kasur dan mengangkat badan mungil Liza untuk Ia pindahkan ke kasur. Wanita itu melingkarkan kedua tangannya di leher sang suami. Netra coklatnya menatap lekat wajah Fariz yang berjarak sangat dekat dengannya.
"Bila butuh sesuatu kau panggil saja Mas. Apa kakimu masih sakit?" Fariz menatap Liza yang kini sudah berbaring di kasur. Tidak lupa pria itu menyelimuti tubuh Liza yang hanya mengenakan piyama.
"Hanya sedikit ngilu. Mungkin aku terlalu lama duduk di kursi roda."
"Lain kaki minta tolong Bunda untuk membantumu naik ke kasur."
"Tidak," Liza menggeleng."Aku tidak enak dengan bunda. Dia sudah menjaga anak kita dan aku tidak mungkin menambah pekeejaannya."
"Kenapa?" tanya Liza menatap heran suaminya.
"Tapi, kenapa kau tidak pernah sungkan meminta bantuan dengan Mas?" Fariz mengutarakan pertanyaan yang ingin Ia ketahui bagaimana respon istri itu.
"Karna Mas suamiku jadi sudah sewajarnya selalu ada untukku dan selalu membantuku."
"Jawaban yang tepat. Sekarang istirahat." Fariz mengecup bibir pucat Liza sebelum beranjak pergi.
"Mas, mau ke mana?" Liza menahan lengan Fariz, kala pria itu hendak menjauh darinya.
"Ke kamar sebelah. Kasihan Liana ditinggal sendiri."
__ADS_1
Wajah wanita itu seketika menjadi suram. Hampir seminggu Ia tidur seorang diri di kamar ini dan suaminya sibuk menjaga putri mereka.
"Setelah keadaanmu membaik baru kita bisa tidur berdua dan menuntaskan semuanya," ucap Fariz mengerlingkan matanya nakal.
"Mas Fariz!"
•
•
"Untuk apa Umi bersedih berlebihan seperti itu, toh yang meninggal bukan bagian dari keluarga," ucap Asty yang mulai jengah dengan tingkah orang tuanya tersebut.
Umi Fardah yang tampak merana karna kehilangan calon menantunya menatap sinis Asty.
"Kau tidak akan tahu bila tidak merasakan di posisi Umi. Aisyah itu wanita yang sangat baik dan pintar, tapi dia harus pergi meninggalkan kita setelah Fariz menolak mentah-mentah perjodohan waktu itu," balas umi Fardah ketus.
"Kak Fariz sudah memiliki kak Liza, buat apa menikah lagi. Seharusnya Umi bersyukur memiliki menantu seperti kak Liza, yang tidak terlalu banyak menuntut dengan kak Fariz. Selalu menerima apapun yang kak Fariz berikan," ucap Asty tersenyum mengingat bagaimana kakak lelakinya itu dengan sabar merawat dan menjaga Liza.
Umi Fardah memutar bola matanya malas.
"Dan satu hal yang harus Umi ketahuai, Aisyah meninggal karna sudah takdir bukan karna perkara cinta," lanjut Asty menceramahi umi Fardah.
"Putri abah memang sangat pintar."
Suara abah Hasan membuat kedua wanita beda generasi itu menatap pada pria paruh yang berdiri di ambang pintu. Asty tersenyum lebar menatap sang abah.
"Ucapan Asty memang benar, seharusnya kau bersyukur mendapatkan menantu seperti Liza, bukannya mencari yang baru. Dan satu lagi, Liza sudah memberikan kita cucu sampai rela menunda pengobatannya demi anak yang dia kandung," tutur abah Hasan lembut namun tegas.
__ADS_1
Umi Fardah tak menggubris ucapan suaminya. Bathinnya saat ini masih terpukul atas kematian Aisyah. Namun, tak menampik kebahagiaan atas kelahiran cucu pertamanya. Sebenarnya Ia ingin menjenguk dan menggendong cucunya, tapi egonya terlalu tinggi.