Suami Jalur Perjodohan

Suami Jalur Perjodohan
Part 15: Hati yang terkikis


__ADS_3

Liza mendudukkan dirinya di sisi ranjang, terlihat jelas dari sorot matanya menampakkan kesedihan. Ucapan umi Fardah begitu menganggu pikiran dan perasaannya saat ini. Ia takut apa yang mertuanya ucapkan adalah kebenaran.


"Sayang, jangan dipikirkan ucapan umi tadi. Mungkin umi kelelahan hingga bicara asal seperti itu," ucap Fariz berusaha menghilangkan kekalutan sang istri. Tangan kanannya terulur mengusap kepala Liza yang tertutup hijab.


Liza tidak menjawab. Wanita itu menundukkan kepalanya sejenak dengan kedua tangan yang saling bertautan.


"Maafkan aku. Aku belum mampu memberikan anak..."


"Tidak. Jangan bicara seperti itu, Sayang." Fariz bersimpuh dihadapan sang istri dan mengenggam kedua tangan Liza."Mas tidak pernah menuntut kamu agar cepat memberikan Mas anak. Jangan menanamkan kesedihan atas sesuatu yang belum kamu dapatkan. Segala sesuatu ada dalam genggaman Allah. Termasuk keinginan kita berdua tentang anak."


Liza mengangguk. Wanita itu langsung berhambur memeluk suaminya. Ia terlalu terpaku pada rasa sakit hatinya hingga lupa dengan segala sesuatu dalam lingkaran takdir Rabb-Nya.


Pria itu mendekap tubuh mungil itu, beberapa menit kemudian Fariz menguraikan pelukannya.


"Kita pulang ke sini untuk mengobati rindumu pada bunda dan ayah. Bukan menangis seperti ini." Fariz mengusap sudut mata Liza yang tergenang air mata.

__ADS_1


Liza menatap dalam pada pria yang sebelumnya Ia tolak mentah-mentah kehadirannya. Dan sekarang pria itu menjadi pelindung dan selalu memperlakukan dirinya dengan segala kelembutan. Bolehkah Ia menaruh harapan termasuk cinta yang sangat besar pada Fariz.


Perlahan nama Danu sedikit demi sedikit mulai terkikis dalam hatinya.


"Kamu tunggu sebentar ya, Mas ambilkan air putih dulu."


Liza mengangguk.


*


"Mana istrimu, Fariz?" tanya umi Fardah kala mendapati putranya di dapur.


"Dia marah dengan ucapan Umi tadi?"


"Liza sama sekali tidak marah dengan ucapan Umi. Tapi aku mohon agar Umi lebih berhati-hati lagi berucap, apalagi menyinggung soal anak pada Liza."

__ADS_1


"Memang kenapa? Bukannya itu hal wajar. Apa kamu tidak sadar dengan umur kamu sudah mendekati kepala tiga tapi belum dapat anak! Bukan apa-apa ya, Riz, Umi hanya takut kamu salah cari bibit istri."


Fariz menghela napas berat mendengar ucapan pedas umi Fardah. Jika Liza ada di sini, Ia tidak menjamin istrinya tersebut tidak sakit hati dengan ucapan sang umi.


"Aku ke kamar dulu." Fariz memilih menjauh dibanding harus mendengar gerutuan umi tentang istrinya.


Sungguh, dadanya terasa nyeri setiap lontaran pedas yang keluar dari mulut orangtuanya tentang Liza.


"Sayang. Minum dulu." Fariz memberikan segelas air putih yang langsung disambut oleh wanita itu.


Pria itu tersenyum tipis menatap sang istri.


"Lebih kamu istirahat dulu di kamar. Sebelum zhuhur Mas akan membangunkan mu. Ucapan umi tadi jangan terlalu dipikirkan," ucap Fariz lembut disertai senyuman hangatnya.


Liza menggeleng."Aku tidak enak dengan umi, Mas. Lebih baik aku membantu umi di dapur atau membersihkan rumah. Aku takut umi berpikir aku menantu yang buruk."

__ADS_1


"Tidak, Liza. Umi pasti paham keadaan kamu. Bisa saja nanti kamu sakit karna terlalu memaksakan diri. Sekarang istirahat di kamar."


Liza menghela napas pelan. Ia terpaksa mengangguk. Tentu saja karna tidak ingin berdebat dengan Fariz. Sedangkan Ia ingin sekali keluar kamar, setidaknya membangun kedekatan dengan mertuanya terutama pada umi Fardah.


__ADS_2