
...Wanita hebat itu adalah mampu membalut luka dengan sebuah senyuman. Serta mampu menghilangkan rasa kecewa dengan sabar....
"Bunda, aku ke toilet dulu," ucap Liza bangkit dari tempat duduknya. Syarifah mendongak menatap putrinya dan mengangguk.
"Iya, tapi kamu hati-hati saat masuk ke toilet. Baru saja Bunda bersihkan dan mungkin lantainya sedikit licin," peringat Syarifah yang dibalas anggukkan oleh Liza.
Wanita muda itu melangkah menuju ke toilet yang berada di dapur.
Sedangkan Fariz dan Muhsin tengah asyik mengobrol di teras rumah.
Mata Liza mengerjap kala menatap darah segar menetes dari bagian bawahnya. Ia segera mengenakan celananya setelah buang air kecil. Wajahnya mendadak cemas dan terlihat pucat. Ia segera memencet tombol di closed tersebut hingga darah tersebut hilang dari permukaan.
"Tidak mungkin aku datang bulan sedangkan aku tengah hamil," gumam Liza yang diliputi rasa cemas dan takut.
Trauma akan keguguran yang Ia alami dahulu berputar-putar dalam kepalanya mengingat hal itu. Mata Liza memanas, Ia takut hal buruk itu kembali terjadi. Sedangkan ini merupakan anak pertamanya dengan Fariz.
Dan bila itu terjadi, sudah pasti ini akan menjadi peluang untuk umi Fardah menjodohkan suaminya dengan Aisyah karna perkara anak.
"Liza! Apa kamu baik-baik saja di dalam, Nak?!" Suara keras Syarifah yang menggedor-gedor pintu membuat Liza menatap ke arah sumber suara.
"Tunggu sebentar, Bunda!"
Liza merapikan pakaiannya dan menetralkan raut wajahnya agar terlihat biasa saja.
"Kenapa lama sekali di toilet? Fariz mencarimu," ucap Syarifah setelah Liza membuka pintu toilet.
"Maaf Bunda." Wanita itu muda itu tersenyum tipis menutupi sesuatu yang membuat Ia cemas.
"Kamu sakit, Liza?" Syarifah menyentuh kening Liza yang tampak tersentak dengan sentuhan sang bunda."Kamu berkeringat dingin dan wajahmu pucat."
__ADS_1
"Ini mungkin karna efek aku sedang hamil. Aku sering mual dan kepala sering pusing." Liza membalas ucapan Syarifah sekenanya. Ia tidak mungkin mengatakan sebenarnya. Biarkan Ia memastikannya terlebih dahulu.
"Ooh begitu, nanti Bunda buatkan teh jahe untukmu." ucap Syarifah."Ayo kita ke ruang tamu."
Kini, keduanya segera menuju ke ruang tamu dan di sana Fariz tengah duduk di sofa sembari menunggu sang istri.
"Fariz, ini orang yang kamu cari sudah datang," ucap Syarifah dengan nada gurauannya.
Liza hanya tersenyum tipis menanggapi ucapan orang tuanya, sama halnya dengan Fariz yang bangkit dari tempat duduknya.
"Sekarang kita pulang, besok ke sini lagi," bisik Fariz di telinga Liza yang kini berdiri di sampingnya.
Wanita itu mengangguk dengan sebuah senyuman manis yang tersungging bersamaan dengan rasa cemas yang semakin menjadi-jadi dalam benak Liza. Entah kenapa kebahagiaan yang sempurna sangat sulit Ia gapai, baru saja bahagia karna kehadiran janin di perutnya. Tapi itu tidak bertahan lama.
Setelah berpamitan pulang dengan kedua orang tuanya, Liza hanya diam sepanjang perjalanan dan semakin erat memeluk suaminya yang tengah fokus mengendarai motor.
"Kenapa, Sayang?" Sebuah pertanyaan meluncur dari mulut Fariz yang terlihat heran dengan kebisuan istrinya.
Sebelah alis Fariz terangkat mendengar itu."Apa ada sesuatu yang terjadi dengan kandungmu?"
"Tidak, hanya saja aku sering mual. Aku ingin berkonsultasi dan meminta resep obat agar tidak terlalu merasa mual," balas Liza meredam rasa gugup.
Pria itu bernapas lega. Ia kira sesuatu terjadi dengan kandungan Liza.
"Setelah Isya Mas akan meminta dokter Agni ke rumah."
Fariz mengusap lembut tangan Liza yang melingkar di perutnya.
•
__ADS_1
•
"Jadi apa Keluhanmu?" tanya dokter Agni menatap Liza yang meremat kedua tangannya.
"Baru saja darah keluar dari bagian sensitif ku dan bagian pinggulku terasa sangat sakit. Aku hanya takut terjadi apa-apa dengan kandung ku," jelas Liza menatap lekat dokter Agni dan berharap semuanya baik-baik saja, meski itu kecil kemungkinan.
Dokter wanita itu diam sejenak." Apa sering merasakan perut mules?"
Dengan cepat Liza mengangguk membenarkan ucapan dokter wanita itu.
"Sebaiknya kamu langsung berkonsultasi dengan dokter spesialis kandungan di kota. Saya takut dugaan saya salah nantinya," ucap dokter Agni menampilkan wajah cemasnya.
"Memangnya aku kenapa, Dok? Katakan saja, aku tidak masalah," balas Liza mendesak.
Dokter Agni menggeleng."Tidak, saya tidak bisa memberitahunya. Kamu bisa periksakan langsung dengan dokter spesialis. Semoga kandungan mu baik-baik saja."
Liza semakin cemas dengan respon dan ucapan dokter Agni.
"Kamu sedang apa?"
Fariz terlihat terkejut ketika umi Fardah menyentuh bahunya. Pria itu tengah berdiri di depan pintu kamarnya.
"Aku sedang menunggu dokter Agni. Dia sedang memeriksa Liza."
"Memangnya istrimu kenapa?"
"Liza mengeluh sering mual."
"Namanya juga orang hamil, ya pasti mual dan pusing, Fariz! Padahal sudah pernah hamil! Dia itu terlalu manja dan lemah!" Ucapan pedas umi Fardah membuat Fariz hanya bisa menghela napas berat.
__ADS_1
"Mungkin rasa mual Liza sedikit lebih parah, Mi. Dan aku mohon jangan terus menyudutkan istriku."
Umi Fardah merespon ucapan Fariz dengan wajah masam nya.