
"Kau mau ke mana?" tanya Anton kala Fariz bangkit dari tempat duduknya.
"Aku harus segera pulang," balas Fariz seraya melirik jam tangan yang melingkar di pergelangannya.
"Ini belum terlalu sore, Riz. Lebih baik kau tetap di sini. Sudah lama kita tidak berkumpul seperti ini." Anton membujuk sahabatnya tersebut agar tetap berada di kafe.
Fariz menggeleng."Aku tidak bisa, lain waktu saja kita berkumpul. Aku takut terjadi apa-apa dengan istriku."
"Kau tidak se-asyik dulu setelah menikah, Riz. Lagipula istrimu berdiam di rumah saja tidak ke mana-mana jadi untuk apa dikhawatirkan."
"Sudahlah, Ton. Nanti saja kita berkumpul. Assalamu'alaikum...."
"Waalaikumsalam..." Anton menatap kepergian Fariz hingga punggung lebar pria itu hilang dari balik pintu kafe yang tertutup.
Pria yang mengenakan kemeja hitam putih kotak-kotak itu menghela napas kasar. Sahabatnya, Fariz jadi lebih banyak menghabiskan waktu di rumah. Biasanya pria itu selalu menghabiskan waktu berkumpul di kafe atau tempat-tempat tertentu.
Fariz menyipitkan matanya ketika menangkap siluet seperti istrinya, Liza yang tengah berdiri di pinggir trotoar seperti menunggu seseorang. Pria itu semakin melajukan sepeda motornya agar lebih mendekat pada sosok yang sangat mirip dengan Liza.
"Liza..."
Liza terlihat terkejut ketika Fariz sudah berada di dekatnya. Pria itu mematikan mesin sepeda motornya dan turun dari kendaraan roda dua tersebut.
"Kenapa kau ada di sini? Siapa yang mengizinkanmu keluar?" Tampak jelas raut kemarahan dan khawatir dari wajah Fariz.
Liza mendongak menatap suaminya dan meremas tas yang Ia pegang sekarang dengan perasaan campur aduk. Ingin rasanya memeluk tubuh Fariz dan menangis sekencang-kencangnya meluapkan segala kesedihan yang menyesakkan dada saat ini.
"Maafkan aku yang pergi tanpa izin," Liza menundukkan kepalanya merasa bersalah."Aku hanya ingin memeriksakan kandungan ku," cicit Liza tanpa berani menatap wajah suaminya.
Wajah Fariz yang awalnya menegang kini terlihat mengendur dan menatap lembut sang istri.
Liza tersentak ketika merasakan usapan lembut di kepalanya. Fariz sedikit menundukkan kepalanya, menyelaraskan tinggi badannya dengan Liza yang hanya setinggi dadanya.
__ADS_1
"Lain kali jangan pergi sendirian, Mas khawatir kau kenapa-kenapa. Jangan diulangi lagi, lain kali bila ingin pergi ke manapun harus dengan Mas."
Liza mengangguk disertai senyuman tipis dari balik cadar tipisnya.
"Bagaimana keadaan anak kita?" tanya Fariz melirik perut Liza.
"Alhamdulillah, dia baik-baik saja, Mas."
Fariz manggut-manggut merespon ucapan istrinya.
"Kalau begitu ayo kita pulang." Fariz memasangkan helm pada Liza. Ia sengaja membawa satu helm lagi di jok motornya.
"Aku ingin makan sate," ucap Liza mengutarakan keinginannya.
"Iya, apapun yang istriku minta akan terkabul," balas Fariz setelah mencium kening Liza.
Senyuman tersipu tercipta di bibir manis Liza mendengar ucapan suaminya.
*
*
Setelah menghabiskan waktu berdua dengan suaminya sore tadi, kini Liza tengah berada di kamar dan saat ini Fariz berada dalam kamar mandi. Liza menatap ke arah kamar mandi yang terdengar suara gemericik air dan tentu Fariz masih dengan ritual mandinya.
Wanita itu mengeluarkan selembar kertas dari tasnya. Ini hasil dari pemeriksaan yang diberikan dokter tadi. Rasanya sakit sekali ketika kembali membaca setiap bait dalam tulisan kertas tersebut yang menyatakan bila Ia mengidap menyakit kanker serviks stadium satu.
Kenapa ujian tidak henti-hentinya menerjang dirinya yang baru saja bangkit dan kembali berjuang. Liza menarik napasnya dalam-dalam dengan rasa sakit yang meremas dadanya.
"Kau tenang saja, Umma tidak akan menggugurkan mu. Umma akan berjuang sampai kau terlahir ke dunia..." lirih Liza seraya mengusap perutnya.
"Jika anda kekeh mempertahankan janin itu, maka saya tidak menjamin anda akan selamat saat melahirkan nanti."
__ADS_1
Ucapan dokter Indri masih terngiang-ngiang di telinga Liza seperti kaset rusak. Jika cinta sudah tertanam sangat kuat dalam dada, apapun akan dilakukan demi sang tercinta.
"Apa ini?"
Liza terkejut ketika seseorang merebut kertas yang Ia pegang sekarang. Matanya membulat sempurna setelah berbalik badan dan mendapati Fariz membaca isi dalam kertas tersebut dengan serius.
"Apa maksudnya ini, Liza? Kau mengidap kanker?" Raut wajah Fariz tampak tak percaya dengan apa yang Ia lihat dan baca.
Hening.
Tidak ada sepatah katapun keluar dari bibir tipis Liza, hanya air mata yang merembes membasahi pipi wanita itu. Bibirnya terlalu kaku untuk menjawab suaminya.
"Izinkan aku tetap mempertahankan janin ini dan mengabdikan diriku padamu hingga kematian itu datang menjemput."
"Apa maksudmu, Liza!" Fariz mencengkram kedua bahu Liza yang berusaha menguatkan dirinya.
"Aku hanya ingin menjadi wanita sempurna dan melahirkan anak untukmu, Mas." Isak tangis tak sanggup lagi wanita itu bendung lagi.
Liza langsung memeluk tubuh suaminya dan menangis histeris. Sedangkan Fariz masih belum paham dengan apa yang istrinya bicarakan.
Dua jam berlalu dan kini Liza tertidur nyenyak dalam dekapan suaminya setelah menangis hampir tak bersuara lagi. Kedua mata wanita itu membengkak karna terlalu lama menangis.
Tangan Fariz setia mengusap punggung Liza. Sekarang Ia paham dan mengerti dengan semua penjelasan Liza meski istrinya menjelaskan sambil menangis tersedu-sedu.
Sedih, hal pertama yang Fariz rasakan. Ia di hadapankan dua pilihan yang sangat sulit Ia tentunya jawabannya.
___________
Hei girl! Terima kasih sudah mampir
Jangan lupa tinggalkan jejak dengan memberikan like dan komen.
__ADS_1
See you di part selanjutnya:)