
...Mau kau sebaik apapun takkan mengubah rasa benci seseorang padamu. ...
Liza semakin mengeratkan pelukannya pada Fariz. Sementara pria itu diam mematung merasakan dekapan hangat istrinya.
"Jangan tinggalkan aku, aku janji akan melupakannya. Tapi jangan pergi!" Liza menangis terisak-isak hingga Fariz bisa merasakan bagian belakangnya yang basah terkena air mata sang istri.
Fariz memejamkan matanya sejenak dan berbalik badan ke arah Liza. Wanita itu mendongak menatap suaminya dengan pelupuk mata yang penuh air mata. Bibir mungil itu tertutup rapat meredam suara isak tangis.
Tangan Fariz terulur mengusap lelehan air mata dari sudut mata Liza.
"Jangan pergi..." ucapnya serak. Liza kembali memeluk Fariz, mendekap tubuh hangat itu.
Pria itu membalas pelukan sang istri lebih erat.
"Mas, tidak akan pernah meninggalkan kamu, Liza. Tapi, tolong hargai Mas sebagai suamimu dengan tidak menghadirkan pria lain di hatimu," ucapnya tanpa melepaskan pelukannya pada Liza yang semakin terisak.
Fariz menguraikan pelukannya dan mengecup kening Liza singkat.
"A-aku akan menyimpan semua barang-barang mas Danu di gudang. Agar Mas Fariz lebih nyaman lagi."
Liza mengambil tas besar di samping lemari dan memasukkan semua barang-barang Danu ke dalam tas tersebut. Termasuk foto mendiang suaminya yang baru saja Fariz lempar ke bak sampah. Ia melirik Fariz yang terus memperhatikannya. Dan dengan berat hati Ia memasukkan foto tersebut ke dalam sana.
"Aku mencintaimu mas Danu, tapi aku tak ingin membuat Mas Fariz marah," gumam Liza.
*
*
"Kalian berdua kenapa?" tanya Syarifah setelah menata piring kosong di atas meja yang penuh beberapa hidangan makanan.
Fariz dan Liza saling pandang mendengar itu.
"Tidak kenapa-kenapa, Bunda," jawab Liza setelahnya mendudukkan diri di kursi dekat meja makan. Termasuk Fariz yang kini duduk di samping sang istri.
Muhsin menggedikkan bahunya kala Syarifah menatap ke arahnya. Wanita paruh baya itu kembali menatap anak dan menantunya yang sama-sama diam membisu.
"Liza..."
"Ambilkan makanan untuk Fariz," titah Syarifah menyerahkan piring kosong yang langsung di sambut Liza.
__ADS_1
"Kalau ada masalah, selesaikan dengan kepala dingin dan hati yang sudah tenang," ucap Muhsin buka suara membuat pasangan muda itu menatap ke arah pria paruh baya itu.
"Jangan membahas itu saat kita sedang makan, Yah," tegur Syarifah, tak suka dengan ucapan suaminya yang membuat anak dan menantunya semakin canggung.
"Lebih banyak lagi mengambil lauknya, Liz," titah Syarifah yang diangguki Liza.
"Setelah ini kalian langsung pulang?" tanya Muhsin menatap keduanya bergantian.
Fariz mengangguk."Iya, Yah. Karna ini sudah cukup malam. Jadi, setelah makan kami berdua langsung pulang."
Syarifah melirik sekilas jam dinding yang menunjukkan pukul 21: 00 malam." Bunda kira kalian akan menginap di sini."
"Lain waktu saja, Bunda. Tidak enak dengan umi dan abah, takutnya mereka menunggu kami berdua pulang," balas Liza setelahnya memasukkan makanan dalam mulutnya.
Syarifah hanya manggut-manggut mendengar jawaban Liza.
Semua orang yang ada di meja makan tampak tenang menikmati santapan mereka. Hanya suara dentingan sendok dan garpu yang mengudara di ruangan tersebut. Selebihnya, setelah selesai makan malam mereka hanya mengobrol ringan di ruang tamu sebelum Liza dan Fariz pulang ke rumah abah Hasan.
•
•
"Akhirnya kamu pulang, Riz. Dari tadi Aisyah menunggumu," ucap umi Fardah sengaja mengeraskan suaranya.
"Aisyah siapa, Mi?" tanya Liza penasaran.
Namun, wanita paruh baya itu tak menggubris pertanyaan menantunya. Ia langsung menarik tangan Fariz agar segera masuk ke rumah rumah, dan meninggalkan Liza yang terdiam di tempat menatap kepergian keduanya.
"Aisyah, lihatlah. Fariz sudah datang." Umi Fardah tersenyum lebar ketika dua orang itu saling adu pandang, membuat umi Fardah berharap besar.
"Fariz..." Aisyah bangkit dari tempat duduknya. Ia melangkah mendekat pada pria tersebut yang masih terfokus menatap ke arahnya.
"Sudah lama Aisyah menunggumu. Beruntung dia belum pulang." Umi Fardah menarik tangan Fariz agar semakin mendekat pada Aisyah.
Aisyah tertunduk dengan senyuman malu-malu. Pria yang sudah lama tidak Ia temui. Dan sekarang Fariz terlihat lebih tampan dan gagah.
"Aisyah belum menikah, Riz. Apa kamu tidak ingin menjadikan dia istri?" bisik umi Fardah membuat Fariz terkejut dengan ucapan yang wanita paruh baya itu lontarkan.
"Aku sudah mempunyai istri, Umi!" balas Fariz tegas. Dan tampak jelas pria itu menolak mentah-mentah usulan umi Fardah.
__ADS_1
"Sini, ikut Umi..." Umi Fardah menarik Fariz menjauh dari Aisyah. Agar gadis itu tidak mendengar apa yang mereka berdua bicarakan.
"Dengar, Aisyah wanita yang sangat cocok dan sempurna menjadi istrimu. Dia anak dari keluarga terpandang di desa ini dan juga wanita yang baik akhlaknya dan sangat cantik," papar umi Fardah memuji-muji Aisyah seolah Fariz akan luluh dengan semua kebaikan dan kelebihan yang gadis itu miliki.
Tidak jauh dari Fariz dan umi Fardah berdiri sekarang, Liza berdiri mematung dan merasakan nyeri di ulu hatinya mendengar ucapan umi Fardah.
"Liza..."
Suara Fariz membuat Liza tersadar dari lamunan yang beberapa detik mengambil kesadarannya. Wanita itu menatap sang suami yang melangkah mendekat ke arahnya dengan wajah yang terlihat cemas. Sementara Liza langsung mundur dengan perasaan tak karuan.
Umi Fardah mendengus menatap Liza.
"Sayang..." Fariz hendak menggapai tangan sang istri, namun langsung ditepis kasar oleh Liza.
Tidak ada suara yang keluar dari bibir Liza. Hanya air mata yang meluncur bebas dari sudut mata wanita bercadar tersebut. Dunianya seakan runtuh ketika mertuanya menawarkan seorang wanita pada suaminya. Sebenci itukah umi Fardah padanya? Apakah dirinya yang memang tidak pantas mendampingi Fariz?
Liza memegangi kepalanya yang terasa pusing dan perlahan kegelapan merenggut kesadarannya.
"Liza!" Fariz menggapai tubuh sang istri yang hampir limbung ke lantai." Liza...!" Fariz menepuk-nepuk pipi wanita tersebut berharap Liza merespon.
Panik dan khawatir mendekap perasaan Fariz sekarang. Ia langsung menggendong tubuh ringkih Liza dan segera membawa ke kamar.
Umi Fardah menyusul putranya.
Entah Liza memang benar-benar pingsan atau hanya kebohongan belaka yang wanita itu ciptakan, pikir umi Fardah.
"Umi, tolong telpon kan dokter Agni," pinta Fariz seraya membaringkan Liza di atas kasur.
"Dia hanya pingsan saja. Tidak usah memanggil dokter. Kamu terlalu berlebihan."
Fariz menatap marah pada umi Fardah yang tampak tidak peduli dengan istrinya.
"Umi kenapa seperti ini? Terlihat tidak peduli dengan Liza?"
"Kamu tidak usah bertanya alasan Umi tidak menyukai Liza. Yang pasti wanita ini belum mampu memberikan kamu anak. Bukankah itu sebuah kecacatan?"
"Kami baru menikah dua bulan!" bentak Fariz membuat umi Fardah terkejut dengan bentakkan yang putranya berikan.
"Kamu mulai berani membentak Umi, Fariz!"
__ADS_1