
...Terkadang hal yang paling sulit adalah mengikhlaskan yang sudah pergi. Butuh waktu yang cukup lama untuk mengikhlaskan seseorang yang begitu banyak mengukir kenangan indah. ...
Liza mengusap air matanya yang meluncur bebas. Tangan kanannya mengusap-ngusap foto Danu.
"Liza takut tidak bisa bertahan menjalani rumah tangga ini, mas..." Wanita itu mengusap kasar sudut matanya.
"Liza tidak kenal dengan pria itu, tapi ayah sangat percaya dia bisa membahagiakan, Liza. Sedangkan bahagia Liza adalah bersama mas Danu."
Liza memejamkan matanya, merasakan lelehan air mata nan hangat mengalir di wajahnya. Wanita itu tak menyadari keberadaan Fariz yang sudah beberapa menit memperhatikannya. Sorot mata pria itu jatuh pada foto pernikahan Liza dan Danu.
Fariz menarik napas dalam dan mengetuk pintu kamar yang tidak tertutup rapat. Liza yang mendengar suara ketukan pintu segera menghapus air matanya dan menyembunyikan foto Danu di bawah bantal.
"Belum tidur, Liz?" ucap Fariz melangkah masuk ke dalam kamar.
Liza hanya diam dan membenarkan posisi bantalnya. Fariz menghela napas pelan, Ia mendudukkan dirinya di samping Liza.
"Kamu sangat mencintai suami pertama mu?" Tiba-tiba saja Fariz menanyakan hal itu membuat kening wanita itu berkerut.
"Sangat..." balas Liza tanpa menatap suaminya.
Fariz menipiskan bibirnya.
"Jangan terlalu besar mencintainya, sekarang kamu sudah memiliki suami baru. Yang juga harus kamu cintai," ucap Fariz terkekeh seolah tengah bergurau.
Satu alis Liza tertarik." Mencintai itu tidak semudah membalikan telapak tangan. Dan melupakan seseorang yang dicintai juga tidak mudah."
Senyuman Fariz langsung lenyap." Mas tidak meminta kamu langsung mencintai, Mas. Tapi, secara pelan-pelan kamu hadirkan perasaan itu. Karna pernikahan tanpa ada cinta di dalamnya akan berdampak buruk untuk ke berlangsungan pernikahan kita nantinya."
__ADS_1
Liza menundukkan kepalanya dengan perasaan yang tak karuan.
"Jangan terus terpaku pada seseorang dalam masa lalu mu. Itu akan membuat kamu terus mengharapkan seseorang yang sekarang tidak ada di dunia ini," sambung Fariz.
Liza menatap kedua tangannya di genggam oleh Fariz yang kini menatap lembut padanya. Ia tersentak kala pria itu mengusap sudut matanya yang basah oleh air mata.
"Belajar untuk membuka hati. Karna sudah kewajiban istri untuk mencintai suami bukan hanya patuh dengan perintahnya."
Liza terdiam. Fariz tersenyum.
Pria itu bangkit dan melangkah menuju ke lemari pakaian. Menyiapkan pakaian yang besok akan Ia kenakan besok. Ia masih sungkan meminta bantuan Liza.
"Tidurlah, Liza," ucap Fariz, menoleh menatap sang istri yang kedapatan memperhatikan dirinya." Ingin Mas bantu agar cepat tidur, hmm?" Fariz menatap Liza dengan tatapan mesumnya membuat wanita itu membelalakan matanya.
Liza langsung membaringkan tubuhnya di kasur. Takut bila pria itu benar-benar meminta haknya, meski itu sudah kewajibannya sebagai seorang istri. Tapi saat ini Ia belum siap.
Liza membiarkan hijab sebatas dada itu tetap sepasang di kepalanya, Ia masih malu untuk memperlihatkannya pada Fariz.
"Tolong, jangan peluk aku seperti ini. Aku tidak nyaman." Liza menyingkirkan tangan Fariz yang melilit di perutnya.
Tanpa berkata apapun Fariz langsung melepaskan pelukannya. Liza menggeser tubuhnya hingga berada di ujung kasur. Fariz menatap punggung sang istri seraya menghela napas panjang.
•
•
"Kamu hati-hati di rumah, bila ada apa-apa langsung telpon." Tanpa aba-aba Fariz menarik pinggang Liza dan mencium kening wanita itu.
__ADS_1
Sementara tubuh Liza langsung menegang ketika benda kenyal dan lembab itu menempel sempurna di keningnya.
"Baru kening, belum bibir..." ucap Fariz tertawa kecil melihat wajah tegang sang istri.
Liza memalingkan wajahnya dengan pipi yang bersemu.
"Ingin titip sesuatu, hmm?" tanya Fariz yang sudah menaiki sepeda motor beatnya.
"Tidak," balasnya datar.
"Ya sudah, Mas berangkat dulu." Fariz menjulurkan tangannya yang segera di sambut oleh Liza.
Perut pria itu terasa menggelitik ketika bibir mungil itu menempel di permukaan punggung tangannya.
Kini, motor yang dinaiki Fariz sudah berjalan menjauh. Liza menatap sendu kepergian suaminya. Kening wanita itu mengernyit ketika tak sengaja melihat dua wanita menatap ke arahnya.
•
•
"Hei, Bro!" Ari langsung merangkul Fariz yang baru sampai di ruang kerjanya."Hampir seminggu lebih kau tidak masuk kerja."
"Aku ada urusan keluarga. Yang penting aku tidak terlalu lama mengambil cuti," balas Fariz.
Ia meletakkan tasnya di atas meja kerja. Netra hitam pekat milik Fariz langsung bersitatap dengan Jessica yang sudah cukup lama duduk di kursinya. Keduanya bekerja di divisi yang sama dan satu ruangan.
Jessica menatap mantan kekasihnya tersebut dengan sorot mata penuh kesedihan. Sedangkan Fariz langsung memalingkan wajahnya, menatap ke arah lain.
__ADS_1
"Kau ada masalah dengan Jessica?" bisik Ari yang merasakan atmosfer berbeda di antara Fariz dan Jessica.
"Kami sudah putus. Dan tidak usah menyebut nama wanita itu lagi."