
Sepanjang perjalanan menaiki motor, Liza memeluk pinggang suaminya begitu erat dan menyandarkan kepalanya dipunggung kokoh Fariz. Setelah sholat zhuhur keduanya berencana pergi ke rumah Syarifah dan Muhsin, kedua orangtua Liza. Perjalanan menuju ke rumah orangtua Liza menghabiskan waktu 15 menitan.
Wanita itu tampak menikmati waktunya saat ini bersama suaminya.
"Ingin mampir beli es krim?" tawar Fariz seraya menunjuk penjual es krim yang mangkal dipinggir jalan.
Liza langsung menatap ke arah yang ditunjuk suaminya. "Boleh. Tapi nanti kita mampir juga ke toko sembako ya?"
"Iya, Sayang..."
Fariz memberhentikan motor milik abah Hasan tidak jauh dari penjual es krim itu berjualan. Liza segera turun dari jok motor. Seolah tak sabaran ingin mencicipi es krim yang dijual beraneka rasa. Liza segera melangkah mendekat pada sang penjual.
Sementara Fariz tengah memarkirkan motornya.
Terlihat di sana beberapa anak kecil dan orang dewasa tengah mengantri membeli es krim termasuk Liza.
"Eh..."
Liza tersentak kaget kala seseorang menarik pergelangan tangannya hingga menubruk dada kokoh.
"Kebiasaan. Baru dilepas sudah hilang," gerutu Fariz menggeleng pelan.
Liza hanya tersenyum malu-malu.
"Kamu tunggu di motor saja, biar Mas yang membelikannya. Mas tidak suka kamu berdesak-desakan," ucap Fariz menatap beberapa pria yang menunggu giliran membeli es krim.
Dengan patuh Liza menuruti apa yang suaminya perintahkan. Ia kembali ke motor, berdiri di sisi kendaraan roda dua itu. Matanya tak lepas memandang Fariz yang tengah membelikan es krim untuknya.
"Ini..." Fariz menyerahkan es krim yang baru saja Ia beli pada Liza yang langsung menyambutnya dengan mata berbinar.
Wanita itu sedikit menyampingkan cadar yang Ia kenakan dan menjilat es krim rasa coklat tersebut dengan nikmat. Sementara Fariz berdiri dihadapan Liza, hingga tubuh mungil itu tertutup tubuh besarnya. Meski begitu, Liza semakin leluasa memakan es krim nya.
Sungguh, menikah dengan Fariz membuat Liza merasa bebas ke manapun pergi tanpa harus takut mendapatkan gangguan dari pria lain atau menjadi bahan ledekan. Karna suaminya selalu berada di sampingnya.
"Pelan-pelan makan es krim," tegur Fariz menatap Liza yang tampak tergesa-gesa menghabiskan es dalam corong tersebut.
"Nanti mencair kalau lambat penghabiskannya," sahut Liza menatap Fariz sekilas."Mas, ingin mencoba." Liza mendekatkan benda dingin itu pada bibir suaminya.
__ADS_1
"Tidak. Kamu habiskan saja."
Liza manggut-manggut dan kembali melahap es krim yang mulai mencair itu.
"Kita menginap di rumah orangtua Mas saja ya?"
Tubuh Liza langsung mematung sejenak. Ia menatap Fariz yang tengah menunggu jawaban nya.
"Aku terserah Mas saja," balas Liza. Namun, terlihat jelas ekpresi berbeda wanita itu dan Fariz menyadari hal tersebut.
"Bila kamu keberatan, kita menginap di rumah orang tuamu saja. Mas, tidak ingin membuat kamu tidak nyaman. Jadi, katakan saja sesuatu yang mengganjal dalam hatimu, jangan dipendam," ucap Fariz. Karna Ia tahu betul bagaimana sikap wanita itu.
Walaupun hubungan mereka sudah dekat, Liza masih belum sepenuhnya menaruh kepercayaan penuh padanya. Wanita itu masih meletakkan tembok pembatas diantara mereka berdua yang wanita itu ciptakan.
Liza menggeleng."Aku tidak masalah, Mas. Ayo kita lanjutkan perjalanan."
Wanita langsung memutuskan kontak matanya. Termasuk menyudahi obrolan mereka berdua.
"Maaf, aku berbohong. Tidak semua yang aku rasakan kamu harus tahu, Mas." batin Liza.
Fariz menatap wanita tersebut dengan percikan kekecewaan. Bahkan Ia belum mengetahui apakah wanita itu mencintainya atau tidak.
•
•
"Liza..." Syarifah langsung memeluk putrinya. Tangis wanita paruh baya itu langsung pecah kala memeluk Liza. Sama halnya dengan Liza yang tidak bisa menahan air matanya untuk menetes.
"Bagaimana kabarmu, Nak? Apa Fariz memperlakukanmu dengan baik di sana?" Pertanyaan itu langsung meluncur dari bibir Syarifah.
"Tentu Fariz memperlakukan Liza dengan baik," sahut Muhsin.
Syarifah hanya melirik suaminya sekilas dan tidak menghiraukan ucapan Muhsin.
"Alhamdulillah aku baik, Bun. Mas Fariz selalu memperlakukan ku dengan baik," jawab Liza menatap sekilas ke arah suaminya yang kini berdiri di belakang sang bunda.
"Sekarang masuk dulu ke dalam. Tidak enak dilihat tetangga," ucap Muhsin.
__ADS_1
"Ya sudah, sekarang kita masuk dulu ke dalam. Bunda sudah membuatkan makanan untuk kalian berdua."
Liza maupun Fariz mengangguk.
Kini, keempat orang itu masuk ke dalam rumah bercat putih tersebut dengan aura kebahagiaan yang terpancar dari wajah keempatnya.
"Bagaimana pekerjaanmu di sana, Riz?" tanya Muhsin ketika mereka sudah duduk berkumpul di ruang tamu.
"Alhamdulillah semuanya baik, Yah. Hanya saja minggu kemarin aku harus pulang larut malam karna lembur," balas Fariz sopan.
Muhsin manggut-manggut.
"Lalu, bagaimana dengan Liza? Bunda takut Liza kenapa-kenapa kalau ditinggal sendirian," sahut Syarifah terlihat khawatir.
"Bunda tidak usah khawatir. Di sana daerahnya aman," balas Liza menyentuh tangan wanita paruh baya itu."Mas Fariz pulang kerja tidak terlalu larut malam."
Syarifah mengangguk dan tersenyum kecil. Setidaknya jawaban Liza sedikit membuat hatinya lega.
"Fariz ini pria yang bertanggung jawab. Dan Ayah tidak salah memilih dia sebagai menantu.Termasuk menjaga Liza," timpal Muhsin menatap bangga pada menantunya tersebut.
Sementara Fariz tampak tersipu mendengar pujian mertuanya tersebut.
"Kamu menginap di sini, kan, Liza?" tanya Syarifah.
Liza melirik suaminya sekilas dan kembali menatap sang bunda.
"Tidak, Bunda. Aku menginap di rumah umi Fardah. Bagaimanapun aku akan mengikuti ke manapun suamiku pergi."
Syarifah menghela napas kecil."Ya sudah tidak apa-apa. Yang penting besok kamu ke sini lagi ya?"
Liza mengangguk.
"Memangnya kalian berapa hari menginap di sini?" tanya Muhsin menatap keduanya bergantian.
"Seminggu, Bah. Itu waktu yang cukup menghabiskan waktu di sini," jawab Fariz.
"Liz, kemarin kamar kamu Bunda bersihkan. Semua pakaian Danu Bunda simpan di gudang. Sebenarnya ingin Bunda bagikan ke orang-orang."
__ADS_1
Raut wajah Liza langsung berubah mendengar penuturan Syarifah.