Suami Jalur Perjodohan

Suami Jalur Perjodohan
Part 6: Istri ku tersayang


__ADS_3

...Buatlah orang menyukai dirimu karna keindahan akhlak mu bukan hanya keindahan wajahmu~Abah guru Zuhdi~...


Setelah sah menjadi seorang istri beberapa jam yang lalu. Liza memilih tetap berada di dalam kamar dan tidak menemui anggota keluarga besar lainnya yang kini tengah berkumpul di ruang keluarga. Wanita itu hanya duduk bersandar dikepala ranjang, tatapan matanya hampa. Ia tidak bisa berkata-kata lagi dengan semua yang telah terjadi sekarang.


Sementara Fariz tengah mengantarkan umi Fardah pulang ke rumah. Wanita paruh baya itu sangat kelelahan setelah acara pernikahan  yang di mulai dari pagi hari hingga sore menjelang magrib. Liza memejamkan matanya dan perlahan air mata keluar dari sudut matanya.


Wanita itu turun dari atas ranjang dan melangkahkan kakinya ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu. Sedangkan makanan yang Fariz berikan tidak wanita itu makan. Ia benar-benar tidak berselera makan di saat suasana hatinya diselimuti kesedihan.




"Umi, aku balik dulu ke rumah Liza. Besok aku akan ke sini mengambil koper dan beberapa barang ku," ucap Fariz yang turun dari atas motor beatnya.


"Kenapa harus besok baliknya ke kota, Riz? Umi masih sangat merindukanmu, kau baru saja menikah," balas umi Fardah raut wajah sedih.


Fariz tersenyum tipis." Aku sudah seminggu di sini, Umi. Dan sekarang aku harus kembali lagi ke kota untuk bekerja dan sekarang aku sudah memiliki istri yang harus di nafkahi."


"Khaliza kau bawa juga ke sana?"


"Iya, Umi. Sekarang Liza istriku dan dia harus ikut ke mana pun aku pergi. Karna dia sekarang menjadi tanggung jawab ku."


Umi Fardah menghela napas berat dan mengangguk lemah, membenarkan ucapan putranya tersebut. Sementara abah Hasan dan Asty adik perempuan Fariz sudah ada di dalam rumah.


"Kalau begitu aku pamit, Mi." Fariz meraih tangan umi Fardah yang sudah mulai keriput dan mencium permukaan punggung wanita paruh baya itu.


"Kalau kau sudah sampai di kota nanti, jangan lupa kabarin Umi." ucap umi Fardah serak dan memeluk erat tubuh besar Fariz.


Hatinya sangat berat melepaskan putranya kembali pergi, walau ini bukan kali pertama Fariz meninggalkan dirinya dengan waktu yang cukup lama.


Tubuh wanita paruh itu bergetar sempurna dengan isak tangis yang tidak bisa Ia tahan lagi. Bukan hanya kepergian putranya yang membuat Ia sedih. Tapi hatinya masih belum bisa menerima pernikahan antara Fariz dan Khaliza.


Fariz melepaskan pelukan umi Fardah dan mengusap sisa air mata di pipi wanita paruh baya itu.


"Sekarang Umi masuk ke dalam rumah, dan selama aku pergi ke kota, Umi jaga kesehatan dan jangan banyak pikiran ya."


Umi Fardah hanya mengangguk lemah dan menatap sendu putranya tersebut. Setelah berpamitan, Fariz kembali menaiki motornya. Sebelum pulang ke rumah mertuanya Ia akan ke apotek terlebih dahulu membelikan obat untuk sang istri.


Beruntung apotek yang ada di desa ini tidak terlalu jauh.


*


*


"Assalamu'alaikum..."

__ADS_1


Liza yang tengah duduk di lantai dan tengah bersandar di sisi ranjang mendongak menatap Fariz yang masuk ke dalam kamar. Pria itu membawa kantong kresek bening berisi obat-obatan. Fariz melepaskan jaket yang melekat di tubuhnya dan menyangkutkannya di belakang pintu.


"Kenapa diam? Dosa tidak menjawab ucapan salam," ucap Fariz menatap istrinya.


"Waalaikumsalam..." cicit Liza yang menundukkan kepalanya dan sesekali melirik suaminya.


"Kau sudah sholat magrib?"


Hening.


Liza diam, tidak menjawab pertanyaan suaminya. Matanya terfokus pada tasbih yang terus bergulir di jemarinya. Lantunan suara zikir yang terdengar sangat pelan keluar dari  bibir mungil dibalik kain penutup tipis di wajahnya.


"Besok kita akan pindah ke kota Bandung karna lusa Mas harus masuk kerja," ucap Fariz sembari membuka tas miliknya yang berisi beberapa pakaian ganti. "Jadi, kamu harus mempersiapkan pakaian  dan barang-barang yang akan kamu bawa ke kota."


Liza menggelengkan kepalanya." Aku tidak mau pindah, aku mau tetap tinggal di sini!" balasnya.


Di Rumah ini memiliki banyak kenangan bersama suami pertamanya. Dan Ia juga tidak ingin berjauhan dari kedua orangtuanya. Ia sudah sangat nyaman tinggal di sini.


Fariz menghela napas berat. Ia melangkahkan kakinya mendekati Liza dan duduk di hadapan wanita itu.


"Mas tahu, sangat sulit untukmu meninggalkan rumah ini. Tapi sekarang kau istri Mas dan sudah seharusnya kau ikut bersama Mas." Fariz kembali melontarkan ucapannya untuk memberikan pengertian pada sang istri dengan nada suara yang lembut.


Liza memalingkan wajahnya. Hatinya benar-benar sangat berat meninggalkan tempat ini, dan makam suaminya berada di desa ini dan tentunya akan membuat Ia sulit untuk mengunjunginya seperti biasa. Fariz mengenggam kedua tangan Liza yang tampak tersentak kaget. Ia menoleh dan menatap lekat netra hitam milik Fariz.


"Istri wajib taat pada suami termasuk wajib mengikuti ke manapun suami pergi membawa kamu, ketaatan ini hadir atas dasar karena Allah SWT."


"Jadi besok kau harus sudah bersiap-siap. Sekalian besok pagi kita berziarah ke makam suami pertama mu sebelum pergi ke kota," ucap Fariz tersenyum tipis.


Pria itu seakan tahu apa yang tengah dipikirkan istrinya. Dan itu pasti berhubungan dengan mendiang suami pertama Liza. Mertuanya, Muhsin, sudah menceritakan semuanya tentang Liza yang sangat mencintai mendiang suami pertamanya hingga menolak beberapa lamaran dari pria lain.


Fariz bangkit dari tempat duduknya dan segera masuk ke kamar mandi untuk mengambil membersihkan badan sekalian mengambil air wudhu. Sementara perasaan Liza tak karuan saat ini.


*


*


"Kenapa cadar di wajahmu tidak dilepas?" tanya Fariz yang baru saja selesai sholat Isya dan kini menatap ke arah Liza yang duduk bersandar di bahu ranjang. Seperti biasa, wanita itu menghabiskan malamnya dengan membaca buku sebelum beranjak tidur.


Liza meneguk ludahnya kasar."Aku belum siap memperlihatkan sesuatu yang aku sembunyikan selama ini, aku hanya butuh waktu."


"Tapi sampai kapan? Mas sudah menjadi suamimu dan___"


"Tolong beri aku waktu, aku hanya belum siap bukan berarti tidak mau memperlihatkan wajah ku!" Liza meninggikan suaranya membuat Fariz terdiam. Wanita itu tampak tidak bisa mengontrol emosinya.


Liza memejamkan matanya sejenak menetralisir emosi yang tak bisa di bendung.

__ADS_1


"Maaf..." ucap Liza pelan seakan sadar ucapan yang Ia lontarkan tadi sudah sangat keterlaluan, walaupun Ia tidak berniat untuk meninggikan suaranya pada suaminya, Fariz.


"Iya, tidak apa-apa. Mas mengerti." Setelah mengucapkan itu Fariz bangkit dari tempat duduknya sembari melipat sajadah dan meletakkan ke tempat asalnya.


Fariz duduk di sisi kasur memunggungi sang istri. Sementara Liza meletakkan guling ditengah-tengah kasur untuk menjadi pembatas diantara mereka berdua. Merasa semuanya sudah selesai Liza membaringkan badannya dan membiarkan dirinya sedikit kesulitan bernafas karna cadar yang masih menempel diwajah.


"Lepaskan saja cadarmu, Mas takut kau kesulitan bernafas tidur seperti itu. Melihat wajahmu tidak akan membuat Mas berbuat macam-macam. Mas akan sabar menunggu sampai kamu benar-benar menerima Mas." ucap Fariz menyakinkan Liza yang memunggungi dirinya.


Hening.


Liza perlahan membalikkan tubuhnya dan bangun dari tempat tidurnya. Tatapan wanita itu tampak sayu karna rasa kantuk yang mulai mendera. Fariz tersenyum lembut menatap sang istri.


Kedua tangan Liza terulur melepaskan cadar yang melekat di wajahnya. Kali ini Ia memilih menuruti ucapan suaminya,  Ia sudah benar-benar lelah bila harus berdebat dan tenaganya sudah habis setelah seharian berdiri di pelaminan untuk menerima ucapan selamat dari orang-orang.


Fariz menatap lekat lekuk wajah sang istri yang kini tidak tertutup apapun. Pipi yang berisi serta tampak kemerah-merahan dan bibir bawah yang terbelah.


"MasyaAllah, kau sangat cantik Liza," puji Fariz.


Pria itu tampak kagum menatap kecantikan rupa yang dimiliki sang istri. Liza meremas kuat selimutnya ketika Fariz menyentuh wajahnya.


"Katanya tidak akan macam-macam..." cicit Liza mengerucutkan bibirnya. Mengingat janji pria tersebut tidak akan menyentuh dirinya sedangkan saat ini pria itu membelai pipi kanannya.


"Memangnya salah kalau seorang suami menganggumi kecantikan yang di miliki istrinya? Semoga saja Mas bisa membimbingmu, walaupun pemahaman Mas tentang agama masih kurang dan masih harus belajar lagi. Tapi insyaallah Mas akan membimbingmu menjadi istri sholehah dan kita sama-sama meraih ridho Allah dari pernikahan yang insyaallah penuh keberkahan di dalamnya."


Liza terdiam tak mengeluarkan suara. Ada rasa haru dan sedih yang mendekap benaknya saat ini ketika mendengar itu. Ia hanya mengangguk lemah.


Benda kenyal dan lembab menempel sempurna di kening Liza yang tampak begitu terkejut menerima sebuah ciuman yang diberikan Fariz. Aroma maskulin yang menguar dari tubuh Fariz menusuk ke indra penciuman Liza. Jarak keduanya kali ini begitu dekat hingga bisa menghirup aroma tubuh masing-masing.


"Sekarang kau tidur, lah, Mas keluar dulu ingin menemui ayah."


Fariz bangkit dari atas kasur. Pria itu terlihat biasa saja setelah memberikan sebuah kecupan di kening sang istri yang mampu membuat tubuh Liza membeku dan jantung yang berhenti berdetak beberapa detik.


"Belum tidur kau, Riz?" ucap Muhsin sekedar basa-basi pada menantunya.


"Belum, Yah. Aku ke sini ingin bicara serius," balas Fariz.


Pria yang mengenakan baju koko coklat itu mendudukkan dirinya di sofa yang berhadapan langsung dengan Muhsin.


"Kau ingin membicarakan apa?"


"Besok aku akan membawa Liza ke kota, Yah."


"Ayah kira Liza di tinggal di sini," ucap Muhsin terkekeh pelan.


Fariz tersenyum menanggapinya." Sekarang Liza sudah menjadi tanggungjawab ku. Jadi sudah seharusnya dia ikut dengan ku."

__ADS_1


Muhsin manggut-manggut."Yang terpenting kamu jaga putri Ayah dengan baik-baik. Dan Ayah mohon bila dia melakukan kesalahan jangan di bentak."


"InsyaAllah."


__ADS_2