
...Allah memberikan sesuatu yang kau butuhkan bukan yang kau inginkan. Karna dia tahu apa yang terbaik untukmu. Jangan pernah menyalahkan takdir yang terkadang tidak berpihak padamu....
"Padahal Liza janda, bekas orang!" Aisyah blak-blakan mengatakan itu membuat Fariz langsung memberikan kilatan tajam yang tersirat amarah pada wanita itu.
Aisyah meneguk ludahnya kasar dan langsung menundukkan kepalanya kala Fariz menatap menusuk padanya. Padahal yang Ia katakan memang sebuah fakta.
"Pakaianmu tidak sesuai dengan sikap dan ucapan yang keluar dari mulutmu," desis Fariz menatap sengit pada Aisyah.
Suami mana yang rela istrinya di jelek-jelekan meski itu memang sebuah kebenaran. Dan cara Aisyah mengatakan tentang istrinya seperti merendahkan.
"Ta-tapi itu memang sebuah fakta, Liza memang bekas pria lain!" Aisyah memberanikan diri membalas ucapan Fariz walaupun dalam hati Ia sangat takut.
"Berhenti mengatakan itu!" bentak Fariz dengan wajah yang tampak memerah dan emosi yang sudah di ubun-ubun."Kamu terlalu terpaku pada masa lalu istriku dan menganggap masa lalu Liza sebuah kesalahan besar. Kamu harus ingat, setiap kata-kata buruk yang kamu ucapkan pada istriku akan berbalik padamu!"
Aisyah memalingkan wajahnya dan diam merespon ucapan Fariz. Mulutnya tiba-tiba terbungkam dengan hati yang perih melihat bagaimana Fariz memberikan pembelaan pada Liza.
"Kalian sedang apa?" tanya Liza yang berjalan menghampiri keduanya.
Fariz langsung mengubah ekpresi wajahnya yang semula penuh emosi kini terlihat berbinar menatap istrinya.
"Tidak apa-apa, Sayang. Sudah membeli minumannya?" Fariz balik bertanya.
Liza mengangguk seraya memperlihatkan es boba yang baru saja Ia beli.
Sedangkan Aisyah mengepalkan kedua tangannya dan menggeram penuh emosi serta cemburu. Seharusnya Ia yang berada di posisi Liza sekarang.
"Aisyah kenapa ada di sini, ingin membeli minuman sepertiku juga?" Liza menatap Aisyah yang memberikan tatapan yang menyiratkan sesuatu.
"Tidak!" Aisyah membalas dengan ketus membuat Liza mengernyitkan keningnya, heran.
__ADS_1
"Sekarang naik motor, Sayang. Jangan pedulikan dia," timpal Fariz dan Aisyah menggeram kesal.
Dengan patuh Liza naik ke jok motor. Wanita itu menatap Aisyah yang memandangnya sinis.
"Mas, Aisyah kenapa tadi? Kenapa dia terlihat marah denganku?" tanya Liza sedikit mengeraskan suaranya dari kebisingan mesin motor yang melaju dengan kecepatan sedang.
"Tidak usah memikirkan hal yang tidak penting!" balas Fariz seadanya. Liza menghela napas pelan dengan respon suaminya. Ia yakin pasti ada sesuatu, rasa penasaran ini membuat Ia kepikiran.
"Kita tidak pulang ke rumah umi?" tanya Liza kala Fariz membelokkan motornya ke jalan lain.
Pria itu melirik sekilas istrinya dari kaca spion motor." Kita ke rumah orang tuamu dulu. Ada sesuatu yang ingin Mas bicarakan."
"Bicara apa?"
"Nanti kamu akan tahu." Fariz mengusap lembut tangan Liza yang melingkar di pinggangnya.
Kini, motor yang Fariz kendarai sudah sampai di depan pekarangan rumah Muhsin. Liza lebih turun dari motor.
"Assalamu'alaikum!" Suara keras Fariz membuat sepasang suami istri yang tengah duduk santai di depan televisi menyahut dan menatap ke arah pintu masuk yang menampilkan sosok Fariz dan Liza.
"Waalaikumsalam..." Syarifah bangkit dari tempat duduknya dan berjalan ke arah keduanya." Bunda kira kalian tidak ke sini lagi..." ucap Syarifah seraya memeluk Liza.
"Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan," ucap Fariz, membuat Muhsin maupun Syarifah menatap dengan penuh penasaran.
"Kamu ingin membicarakan apa, Riz? Semuanya baik-baik saja, kan?" Entah mengapa Syarifah takut hal yang ingin dibicarakan adalah kabar yang tidak mengenakan.
"Suruh mereka duduk dulu, Bun. Jangan langsung di tanya seperti itu," ucap Muhsin geleng-geleng kepala dengan sikap sang istri.
Syarifah mengajak keduanya duduk di sofa panjang yang mengarah ke televisi.
__ADS_1
"Langsung ke intinya saja, Riz," ucap Syarifah kala Fariz hendak membuka suara.
Semua orang yang ada di sana tampak penasaran dan tak sabaran dengan hal yang ingin Fariz bicarakan.
"Aku ingin mengabarkan kalau...," Fariz menjeda ucapannya dan menatap semua wajah yang menunggu kelanjutan ucapannya."Liza hamil."
Syarifah membekap mulutnya mendengar itu, sementara Muhsin tersenyum lebar dengan binar kebahagiaan di wajahnya.
Liza terlihat melongo tak percaya mendengar kabar bahagia tersebut. Wanita itu terdiam seperkian detik.
"A-aku hamil?" Liza menatap Fariz berkaca-kaca.
"Iya, Sayang. Sekarang kamu akan menjadi ibu dari anakku," balas Fariz setelahnya memeluk Liza yang tidak bisa menahan tangis kebahagiaan bercampur haru.
Ia tidak menyangka akan mendapatkan kejutan tak terduga ini. Ia kira akan sangat sulit untuk kembali mengandung.
Semua orang yang ada di sana diselimuti kebahagiaan yang begitu besar. Kehadiran nyawa kecil yang akan menjadi anggota baru dari keluarga mereka.
"Alhamdulillah, akhirnya anak Bunda hamil." Syarifah memeluk Liza yang masih dengan tangisannya.
"Akhirnya calon cucu pertama Ayah akan segera hadir," timpal Muhsin yang di balas kekehan ringan oleh Fariz.
"Kamu harus sehati-hati mungkin menjaga kandungan kamu, Liza," ucap Syarifah setelah menguraikan pelukannya.
"Iya, Bunda. Aku akan menjaganya dengan baik."
_____________
Hei girl! Terima kasih sudah mampir
__ADS_1
Dan jangan lupa tinggalkan jejak dengan memberikan like dan komen.
See you di part selanjutnya:)