
Liza menatap punggung Fariz yang tidur membelakanginya. Ada rasa bersalah bergejolak dalam dadanya pada pria itu.
Wanita itu terus menatap suaminya dengan pandangan yang rumit. Selang beberapa menit, Liza memilih bangkit dari kasur lantai tersebut. Ia mengambil pakaian dalam lemari yang dulu pernah Ia kenakan saat bersama mendiang suami, pertamanya.
Liza masuk ke dalam kamar mandi dan mengganti pakaiannya.
Wanita itu menatap malu pada penampilannya sekarang di pantulan cermin kamar mandi. Liza menarik napas dalam-dalam, seolah menguatkan dirinya dan melawan rasa malunya menggunakan pakaian ini dihadapan Fariz.
Lingerie merah dengan kain tipis begitu menerawang, memperlihatkan lekuk tubuh indah Liza yang selalu tertutup dengan gamis tebal.
Karna tidak mungkin mereka berdua saling diam membisu dengan ego masing-masing. Harus ada satu orang yang mengalah, dan Ia memilih mengalah.
Ceklek
Saat keluar kamar mandi Fariz masih dengan posisi yang sama. Liza melangkah pelan menuju ke meja rias. Ia menyemprotkan wewangian pada bagian tubuhnya dan sedikit memoles liptint di bibirnya. Membiarkan rambut panjangnya tergerai.
"Mas..." Liza menyentuh lembut bahu Fariz. Namun, tidak ada respon dari pria tersebut.
Dengan ragu-ragu Ia memajukan kepalanya melihat wajah Fariz. Liza menghela napas pelan kala mendapati Fariz sudah tertidur.
Wanita itu menjauhkan dirinya dari Fariz. Entah Ia harus senang atau kecewa.
Beberapa menit duduk membelakangi suaminya, Liza hendak kembali bangkit. Namun...
Greb
Sepasang tangan kekar memeluknya dari belakang. Aroma maskulin merasuk ke indra penciuman Liza.
"Maafkan Mas, Liza," ucap Fariz serak yang ternyata hanya pura-pura tertidur."Seharusnya Mas lebih menyampingkan ego Mas dan bersabar."
Liza hanya diam mendengar setiap lontaran yang suaminya ucapkan.
__ADS_1
"Mas tidak salah. Sudah sewajarnya seorang istri melayani suaminya lahir maupun bathin. Aku terlalu terpaku pada bayang-bayang suami pertama ku." Liza menatap lurus dengan pandangan menerawang ke masa lalu.
"Jika kamu masih belum siap, Mas akan setia menunggu."
"Tidak," Liza menggeleng seraya menoleh pada Fariz."Sentuhlah aku, jadikan aku istri seutuhnya dengan menjalankan tugas ku. Biarkan aku menyenangkan hati suami ku dan melupakan segala jejak sentuhan yang dulu pernah mas Danu berikan."
Liza tak sanggup membendung air matanya setelah mengucapkan itu. Fariz mencium kelopak mata Liza yang terpejam rapat. Sepasang tangan kekar itu melingkar di pinggang ramping Liza.
"Jika kamu memang ikhlas melayani Mas. Sekarang kita berdo'a terlebih dahulu sebelum memulainya agar kita terhindar dari ganguan setan, Sayang," ucap Fariz serak dengan tatapan sayu nya.
Liza mengerjapkan matanya beberapa kali dengan jantung yang berdetak menggila.
"Aku lupa dengan do'a itu," cicit Liza yang tertunduk malu.
Dua tahun menyendiri membuat Ia lupa dengan do'a tersebut. Karna Ia mengira tidak akan menikah lagi.
Satu alis Fariz terangkat.
Liza mengangguk seraya mengusap kasar sisa air mata di pipinya.
Setelah selesai berdoa, Fariz mencium bergantian kelopak mata Liza, pipi chubby yang kemerah-merahan itu dan berakhir pada bibir mungil merah merona tersebut.
Kedua tangan Liza meremas kaos hitam yang Fariz kenakan. Ciuman yang awalnya melembut, kini berubah menjadi menuntut lebih. Liza mendorong dada kokoh suaminya ketika mulai kesulitan bernapas. Pria itu tampak tak rela ketika tautan bibir mereka berdua terlepas.
"A-aku..." Belum sempat Liza menyelesaikan ucapannya, Fariz mendorong tubuh sang istri hingga terlentang di kasur.
Dengan tidak sabaran pria itu melepaskan pakaiannya, dan menarik selimut untuk menutupi tubuh keduanya saat melakukan hubungan tersebut.
Malam ini akan menjadi malam yang panjang untuk keduanya. Saling berbagi kehangatan dan kenikmatan yang akan menjadi pengalaman pertama bagi Fariz.
*
__ADS_1
*
Fariz tak hentinya bersin-bersin dalam balutan selimut yang membungkus tubuhnya. Bahkan pria itu absen tak masuk kantor. Karna begadang sampai pukul tiga shubuh membuat pria itu terserang demam.
Pria itu terlalu terbuai dengan kenikmatan yang baru Ia rasakan dan sangat gencar meraih kenikmatan itu hingga Ia benar-benar puas.
"Di minum dulu teh hangatnya, Mas." Liza menyerahkan secangkir teh.
Pria itu bangkit dari pembaringannya dibantu oleh sang istri.
Dengan pelan-pelan Ia menegak teh hangat tersebut.
"Sekarang makan bubur dulu, setelah itu baru minum obat," ucap Liza penuh perhatian.
Fariz yang mendapatkan perhatian seperti itu tersenyum-senyum.
"Setelah minum obat, kini bercinta lagi ya? Mas ingin kamu cepat hamil."
Liza geleng-geleng kepala mendengar ucapan frontal suaminya. Meskipun begitu, ucapan Fariz berhasil membuat pipi wanita itu bersemu.
"Tapi Mas sedang sakit. Jadi, lebih baik istirahat."
Fariz menggeleng." Mas hanya demam, Sayang," sanggah Fariz yang tak mau keinginannya yang satu ini di tolak."Demam bukan berarti tidak bisa bergerak."
________________
Hei girl! Jangan lupa mampir ke instagram aku @windanor99
Aku selalu mengupdate informasi tentang cerita ini di instagram.
Terima kasih sudah mampir:)
__ADS_1