Suami Jalur Perjodohan

Suami Jalur Perjodohan
Part 13: Marahnya seorang istri


__ADS_3

"Assalamu'alaikum, Sayang...!!" Suara keras Fariz bersamaan dengan pintu yang tertutup membuat Liza hanya menoleh sekilas ke arah sumber suara. Dan membalas salam suaminya dengan suara pelan.


Wanita itu kembali fokus membaca bukunya tanpa ada niat menghampiri suaminya, seperti biasa yang Ia lakukan beberapa hari ini.


Kening Fariz mengernyit kala Liza hanya menatapnya sekilas. Wanita itu tampak nyaman duduk bersandar di tembok tanpa ingin melakukan pergerakan menghampirinya.


"Kamu kenapa?" tanya Fariz seraya meletakkan tas miliknya di atas meja.


Lagi, Liza hanya menatap Fariz seperkian detik dan diam membisu. Namun, terlihat jelas sorot mata wanita itu menyiratkan sesuatu yang Fariz sendiri sulit mengartikannya.


"Kamu marah?" Fariz menyentuh pergelangan tangan Liza. Pria itu ikut duduk di samping istrinya.


"Aku buatkan teh dulu untuk Mas." Liza bangkit dari tempat duduknya, lebih tepatnya menghindar. Saat ini Ia sedang menenangkan hatinya yang bergejolak tak karuan dengan segala pemikiran yang membebani.


"Liza!" Fariz menarik pergelangan tangan sang istri cukup kuat, hingga tubuh mungil itu limbung jatuh ke pangkuan Fariz.


"Lepaskan aku Mas..." Liza berusaha menyingkirkan tangan Fariz yang melingkar di pinggangnya, tapi itu sia-sia.


"Kamu kenapa?"


"Aku tidak kenapa-kenapa," balas Liza tanpa menatap suaminya, namun wajah wanita itu terlihat merengut."Lepaskan tangan Mas di pinggang ku. Aku ingin menyiapkan makanan."


Fariz menggeleng." Tidak. Kamu tidak akan ke mana-mana. Kecuali menjawab pertanyaan Mas terlebih dahulu." Ia mendekap tubuh mungil Liza sangat erat. Menikmati aroma harum tubuh wanita itu.


"Terserah!" balas Liza dengan galak seraya membuang muka


Pria itu tampak tersenyum melihat wajah merengut Liza. Baru kali ini wanita itu terlihat marah-marah.


"Beberapa hari menikah dengan mu sudah membuat Mas sedikit mengenal sikap mu. Kamu yang pendiam, memdadak marah-marah tidak jelas hari ini."


"Aku marah seperti ini karna Mas!" Liza menoleh ke arah suaminya dengan mata melotot.


Senyuman Fariz semakin lebar." Hayo, marah kenapa dengan Mas, hmm?"


Liza mengerjapkan matanya. Ia tersudut oleh ucapannya sendiri.


"Kenapa? Coba cerita. Mas tidak bisa baca pikiran kamu, Liza. Jadi jangan seperti ini."

__ADS_1


Liza terdiam sejenak. Matanya menatap lekat wajah teduh Fariz.


"Apa sebelumnya Mas memiliki hubungan dengan wanita lain?" tanya Liza sedikit ragu.


Fariz mengantupkan bibirnya rapat, terdiam sejenak."Kenapa kamu bertanya seperti itu Liza? Apa ini yang membuatmu marah dengan Mas?"


"Jawab jujur! Tidak usah membahas hal lain!" ucap Liza tegas.


Fariz menghela napas berat. Kedua tangannya menyentuh pundak Liza.


"Kalau Mas jujur, apakah kamu akan menerima segala masa lalu buruk Mas?"


Liza mengangguk yakin." Tentu, semua orang memilki masa lalu yang kelam. Dan seharusnya kita sebagai suami istri saling terbuka agar tidak menimbulkan kesalah pahaman."


Fariz menarik napas dalam-dalam, seolah membutuhkan banyak oksigen untuk menceritakan itu semua.


"Sebelum menikah dengan kamu, Mas memiliki kekasih. Namanya Jessica. Hubungan kami berdua berjalan selama kurang lebih dua tahunan," Fariz menjeda ucapannya sejenak.


"Lalu?" Liza tampak penasaran dengan lanjutannya.


"Kamu tahu, Liz. Mas harus mengakhiri hubungan kami berdua, lebih tepatnya Mas yang mengakhirinya. Sudah beberapa kali orangtua Jessica datang dan memperingatkan Mas untuk meninggalkannya. Segala ancaman Mas dapatkan sampai keluarga Mas menjadi taruhan. Mengingat Jessica bukan orang biasa, dia wanita yang terlahir dari keluarga kaya raya. Sedangkan Mas hanya pria biasa.".


Fariz langsung menggeleng cepat."Tidak, Liza. Kejadian itu sudah beberapa bulan yang lalu. Mas sudah tidak menaruh perasaan ataupun harapan pada Jessica. Sekarang ada kamu. Mas hanya mencintaimu."


Pria itu mengecup mesra kedua tangan Liza bergantian. Membuat wanita itu tertegun.


"Kenapa secepat itu Mas mencintaiku?"


"Mencintai yang dinikahi adalah kewajiban."


Kening Liza mengernyit.


"Eh..."


Liza terperanjat kaget dan refleks mengalungkan kedua tangannya dileher Fariz.


"Mas! Turunkan aku!" Liza berusaha turun dari gendongan suaminya.

__ADS_1


"Tidak. Sekarang kita ke kamar. Panen pahala!" ucap Fariz dengan semangat disertai tawa ringan.


Liza menggeleng cepat dengan wajah memelas."Aku tidak mau. Aku lelah setiap hari keramas!" keluh Liza yang tak dihiraukan pria itu.


Kini, pintu kamar itu tertutup rapat dan dikunci dari dalam. Entah apa yang mereka berdua lakukan.




Disebuah cafe, dua orang saling duduk berhadapan. Saling beradu pandang satu sama lain. Jika Jessica memandang Fariz dengan penuh kerinduan dan cinta. Lain lagi halnya dengan Fariz yang menatap Jessica tanpa menyiratkan perasaan apapun.


"Aku langsung bicara keintinya saja. Tolong jangan pernah lagi mengusik rumah tangga ku termasuk pada Liza, istriku," ucap Fariz tegas dan penuh penekanan.


Sementara, dibawah meja kedua tangan Jessica terkepal. Wanita itu meneguk ludahnya kasar bersamaan dengan rasa sakit yang menghujam dadanya. Mata Jessica sudah terasa memanas.


"Kenapa kamu berubah? Dan tiba-tiba saja sudah menikah dengan wanita lain? Wajar aku marah dan menyerang wanita pelacur itu! Karna pasti dia penyebab hubungan kita putus!" sentak Jessica.


"Jangan pernah membawa-bawa nama Liza dalam masalah ini dan mengatakan hal buruk padanya!" balas Fariz yang terlihat tidak suka dengan tuduhan yang Jessica layangkan pada istrinya


"Aku sangat mencintaimu. Hubungan kita sebelumnya baik-baik saja dan tiba-tiba saja kamu memutuskan hubungan kita sepihak..." lirih Jessica berusaha menahan air matanya yang hampir tumpah.


"Kita berdua sudah tidak cocok lagi. Dan aku sudah tidak memiliki perasaan apapun padamu. Jalani kehidupan kita masing-masing, tidak usah terus mengejar ku. Karna itu percuma," balas Fariz setelahnya memalingkan wajah ke arah lain.


Sedangkan Jessica menangis terisak-isak. Rasa sedih dan marah memeluk erat dirinya yang sangat membutuhkan dekapan hangat Fariz.


"Aku rasa semuanya sudah selesai. Dan aku harap kau bisa menerima ini semua." Fariz bangkit dari tempat duduknya. Jessica mendongak menatap pria itu.


"Fariz! Fariz...!!" teriak Jessica memanggil Fariz yang terus mengayunkan kakinya menjauh.


Jessica memukul meja dengan sekuat tenaga, meluapkan segala gelojak yang ada dalam perasaannya. Wanita itu mengusap kasar wajahnya yang basah oleh air mata.


_______________


Hei girl! Terima kasih sudah mampir


Jangan lupa mampir ke Instagram ku @windanor99 untuk mengetahui info terupdate tentang cerita ini.

__ADS_1


See you di part selanjutnya:)


__ADS_2