Suami Jalur Perjodohan

Suami Jalur Perjodohan
Part 24: Kenyataan menyakitkan


__ADS_3

Dua hari berlalu, dan tepat hari ini Fariz dan Liza akan kembali ke kota Bandung.


Liza terlihat sibuk mengemas barang-barangnya. Raut wajah wanita itu tampak berbinar-binar dan begitu semangat memasukkan semua pakaian miliknya ke dalam koper. Jika dulu Ia berat meninggalkan kampung halaman nya, kini Ia begitu tak sabaran untuk kembali ke kota kembang tersebut.


Ternyata lebih nyaman tinggal di kota. Alasannya sederhana, Ia tidak nyaman dan kurang bebas bila harus tinggal satu rumah dengan mertuanya apalagi sikap ketidaksukaan umi Fardah tampak jelas diperlihatkan padanya.


"Sudah selesai?"


Suara serak dan basah Fariz membuat Liza menoleh. Senyuman wanita itu mengembang, Ia melangkah mendekat pada suaminya yang kini tengah berdiri di ambang pintu.


"Kapan kita segera pergi?" tanya Liza seraya memeluk suaminya. Senyuman tak pernah luntur dari bibir wanita itu.


"Tunggu sebentar lagi, mobil yang Mas sewa untuk mengantarkan kita ke kota belum datang," balas Fariz. Ia mengusap pucuk kepala Liza yang tertutup hijab lebar.


"Sembari menunggu, coba kau cek lagi barang apa saja yang belum kau bawa. Umi juga mempersiapkan kue kering dan beberapa cemilan untuk kita bawa ke kota."


Liza mengernyitkan keningnya. Baru kali ini mertuanya memperhatikan tentang makanan yang akan dibawa. Ah, Ia lupa bila sesuatu yang umi Fardah berikan ataupun barang yang diberikan tentu untuk suaminya. Fariz adalah anak lelaki kesayangan mertuanya.


"Kenapa, hmm?" Fariz mencium sudut bibir Liza yang langsung membuyarkan lamunannya.


Suaminya sangat suka sekali memberikan kecupan saat dirinya tengah melamun.


"Tidak apa-apa. Aku hanya ingin segera pulang. Pasti rumah kontrakan kita sudah sangat kotor."


"Dan Mas tidak akan membiarkanmu membersihkannya," sambung Fariz seraya melingkarkan tangannya di pinggang sang istri.


"Kata umi aku harus banyak bergerak."


"Jangan terlalu dengarkan ucapan umi bila itu membahayakan kandunganmu. Mas tidak ingin anak kita kenapa-kenapa."


Liza tertegun. mimik wajahnya langsung berubah dan itu membuat Fariz menarik satu alisnya dengan tatapan heran.


"Apa ucapan Mas salah?"

__ADS_1


Liza menggeleng."Tidak. Ah, aku lupa ingin memasukkan selimut ke dalam koper."


Wanita itu melepaskan kedua tangan Fariz yang melingkar di pinggangnya. Ia tidak ingin terlalu banyak bicara bila itu membahas tentang kehamilannya.


"Kalian berdua hati-hati di sana. Terutama kau, Liza." Umi Fardah menatap ke arah menantunya."Kau sedang mengandung, jadi jaga sebaik mungkin kandunganmu. Bisa saja kau keguguran lagi seperti kemarin."


Ucapan umi Fardah yang cukup menusuk meski terdengar lembut ketika masuk ke dalam telinga Liza. Andai tidak ada kedua orang tuanya tentu umi Fardah tidak mungkin menjaga sikap seperti ini.


"Bunda sudah menyiapkan makanan untuk kalian berdua. Biasanya wanita hamil cepat lapar." Syarifah memberikan papper bag coklat berisi makanan buatannya.


Liza tersenyum lebar, hanya sang bunda yang paling tulus atas segala perhatiannya. Jauh sekali dengan mertuanya yang selalu melontarkan ucapan sindiran dan selalu mencari-cari kesalahannya.


Kini, Liza sudah duduk manis di jok mobil belakang setelahnya disusul oleh Fariz yang baru saja memasukkan koper ke bagasi mobil.


Syarifah melambaikan tangannya kala mobil yang membawa putrinya mulai menjauh dari pandangan matanya. Air mata tak sanggup wanita paruh baya itu bendung. Ia berdoa semua Allah selalu menjaga putri dan menantunya. Sementara umi Fardah memilih kembali masuk ke dalam rumah.


Abah Hasan menatap sekilas kepergian istrinya. Ia menghela napas berat. Setelah Fariz menikah, istrinya terlihat berubah dari sikap maupun dari tingkah lakunya.


"Semoga kak Liza dan kak Fariz selalu baik-baik di sana," ucap Asty menoleh ke arah abah Hasan.


"Tidurlah," ucap Fariz seraya membenarkan cadar Liza yang hampir terlepas.


"Aku tidak mengantuk. Aku ingin menikmati perjalanan ini," balas Liza tanpa mengalihkan pandangan matanya dari bangunan-bangunan yang di lewati.


"Maaf atas sikap umi padamu. Mas tahu kau tersakiti atas ucapan yang umi ucapkan dan Mas tidak bisa menyanggah dan bertindak tegas pada orang tua Mas sendiri."


Liza langsung menegakkan tubuhnya dan menatap suaminya dengan tatapan yang menyendu.


"Aku memang sakit hati atas ucapan umi, tapi mau bagaimana lagi. Statusku yang dulu akan terus menjadi masalah dan dianggap sebelah mata. Mungkin dari sudut pandang beberapa orang, seorang janda tidak pantas bersanding dengan pria lajang. Dan seorang janda tidak pernah lepas dari prasangka dan ucapan buruk orang-orang. Dan aku paham akan hal itu."


Fariz semakin bersalah mendengar itu.


__ADS_1



Liza mengikat kedua tali tipis hingga cadarnya terpasang semakin erat di wajahnya. Setelah suaminya pergi bekerja, Liza bersiap-siap untuk segera pergi ke rumah sakit.


Wanita itu terlihat tergesa-gesa mengunci pintu rumahnya. Ia tersenyum tipis kala berpapasan dengan para tetangga kontrakan yang sudah mengenal dirinya sebagai istri Fariz.


Liza menghela napas berat dengan perasaan tak karuan ketika sudah menginjakkan kakinya di area rumah sakit. Terlihat ramai orang-orang keluar masuk ke dalam rumah sakit yang tidak jauh dari rumahnya. Dengan penuh keyakinan Ia melangkah masuk ke dalam.


Sebelum memeriksakan dirinya ke dokter kandungan, Ia harus mendaftar dan mengambil nomor antrian terlebih dulu karna begitu banyak para wanita ingin memeriksakan kandungannya atau sekedar konsultasi.


"Atas nama Khaliza!"


Suara keras seorang suster membuat Liza menegakkan tubuhnya. Ia bangkit dari tempat duduknya dan melangkah mendekat pada suster yang memasang wajah ramahnya.


"Silahkan masuk," ucap suster tersebut. Liza segera masuk ke dalam. Aroma obat-obatan langsung merasuk ke indra penciuman Liza yang tampak tak suka dengan bau-bauan yang membuat kepalanya pusing.


"Silahkan duduk, Bu." Seorang dokter wanita menyambut ramah kedatangan Liza.


"Apa anda ingin memeriksakan kandungan atau sekedar konsultasi?"


"Saya ingin memeriksakan kandungan saya dan..." Liza menjeda ucapannya sejenak." Dan memeriksakan kondisi saya yang beberapa hari ini selalu merasakan sakit di perut dan bagian pinggang."


Dokter wanita dengan name tag Indri tersebut mengkerutkan keningnya.


"Apa anda pernah atau sering mengalami bercak darah keluar dari area sensitif anda?" tanya dokter tersebut dan langsung diangguki Liza.


Dokter wanita itu terdiam.


"Kalau begitu, mari saya periksa." Dokter itu bangkit dari tempat duduknya dan diikuti oleh Liza.


Wanita itu berbaring di brankar sesuai dengan instruksi oleh dokter Indri. Setelah melalui serangkaian pemeriksaan, kini Liza kembali duduk ke kursi dan menunggu hasil dari dokter yang memeriksanya. Ia berharap semuanya baik-baik saja. Dan ini kali pertama Ia seorang diri memeriksakan kandungan tanpa suami yang menemani.


"Bagaimana kondisi kandungan saya?" Liza langsung melontarkan pertanyaan pada dokter Indri yang menatap selembaran kertas di tangannya dan tidak lama dokter wanita itu menghela napas pelan.

__ADS_1


"Mohon maaf sebelumnya, tapi sepertinya anda harus menggugurkan kandungan anda."


Liza mengerjapkan matanya mendengar ucapan dokter Indri.


__ADS_2