Suami Jalur Perjodohan

Suami Jalur Perjodohan
Part 28: Kepergian


__ADS_3

Hari berganti hari dan bulan berganti bulan. Kini, usia kandungan Liza sudah memasuki usia sembilan bulan. Jika pasangan yang lain tak sabar menyambut kelahiran buah hati mereka, maka berbanding terbalik dengan Fariz yang sangat cemas dan kalut dengan bertambahnya usia kandungan Liza.


Selama kehamilan Liza hanya mengeluh perut terasa nyeri yang tiba-tiba datang. Sebisa mungkin Fariz membawa Liza ke rumah sakit untuk mencek kondisi kandungan sang istri termasuk menyakit yang di derita Liza. Pria itu selalu dihantui rasa ketakutan, takut Liza meninggalkan dirinya. Seperti yang dokter Indri jelaskan bila hanya 80% kemungkinan istri akan selamat saat melahirkan nanti.


"Kau langsung pulang?" tanya Doni ketika Fariz tengah membereskan meja kerjanya.


"Iya, aku tidak ingin terlalu lama meninggalkan istriku," jawab Fariz menatap sekilas pada teman satu divisi nya.


"Sayang sekali, padahal malam ini ada pesta perusahaan."


Fariz hanya tersenyum tipis merespon ucapan Doni. Karna yang lebih penting adalah Liza saat ini.


"Aku pulang duluan." Fariz menepuk bahu Doni dan setelahnya meninggalkan pria tersebut.


Tidak terlalu memakan banyak waktu bagi Fariz untuk sampai ke rumah kontrakan nya yang tidak jauh dari perusahaan tempat Ia bekerja. Kerutan muncul di kening Fariz ketika melihat beberapa orang berdiri di depan rumah kontrakan.


Ia mempercepat langkah kakinya dengan jantung yang bertalu-talu. Mendadak firasat buruk mulai merambat dalam dadanya.


"Ada apa? Kenapa kalian berkumpul di sini?" Fariz langsung menodong pertanyaan ketika semua orang kini menatap ke arahnya.


Ibu Dini yang merupakan penghuni kontrakan yang berdampingan dengan rumah kontrakan Fariz, maju ke depan mendekat pada Fariz yang menatap penuh tanda tanya.


"Istrimu dilarikan ke rumah sakit. Kami sudah menghubungimu tapi kau tidak mengangkatnya."


Kedua kaki Fariz langsung melemas. Ia tampak shock.


"Apa yang terjadi dengannya?" Fariz kembali menuntut pertanyaan pada ibu Dini meski saat ini badannya tiba-tiba terasa lemas.


"Kami tidak tahu seperti apa kejadian mulanya, tapi istrimu sudah tergeletak di teras rumah dengan darah___"


"Hentikan," sela Fariz memotong ucapan ibu Dini." Sekarang di rumah sakit mana istriku di bawa?" tanya Fariz tak ingin membuang waktu lagi untuk menemui Liza.


"Rumah sakit Permata."

__ADS_1


Setelah mendengar jawaban ibu Dini, Fariz segera menaiki motornya menuju ke rumah sakit yang di maksud. Jangan tanyakan bagaimana perasaan Fariz saat ini yang diselimuti rasa takut dan khawatir.


Ia hanya memohon agar semuanya baik-baik saja terutama pada Liza.




Awan hitam menggumpal di langit dan menutupi cahaya matahari menembus menerangi bumi yang kini tampak menggelap di sertai rintik-rintik hujan.


Di bawah hujan gerimis tersebut, semua orang tengah berkumpul di sebuah pemakaman. Sudah dua minggu wanita itu meninggalkan semua orang yang sangat terpukul atas kepergiannya yang begitu mendadak. Wanita yang kini sudah terbaring dalam gundukan tanah yang basah.


Fariz menatap penuh kesedihan pada gundukan tanah yang kini tampak cantik dengan taburan bunga yang baru saja Ia tabur.


Umi Fardah menahan isak tangisnya. Rasa bersalah bersarang dalam dadanya pada wanita tersebut. Sekarang hanya tinggal menyesalan yang begitu mendalam. Belum sempat minta maaf tapi Ia sudah pergi.


"Mertuamu tidak ikut ke sini?" tanya abah Hasan menatap Fariz di sampingnya.


"Mungkin dia sangat merindukan Liza."


Wajah Fariz semakin menekuk sedih mendengar ucapan yang abah Hasan lontarkan.


"Sekarang kita pulang, Mi." Abah Hasan mengusap punggung istrinya yang bergetar dengan isak tangisnya.


"Semoga kau tenang di sana." ucap Fariz mengusap batu nisan tersebut dengan penuh kesedihan.


Kematian adalah hal yang pasti dan datangnya tidak terduga.


Fariz, abah Hasan dan umi Fardah serta beberapa orang lainnya mulai meninggalkan pemakaman yang tampak becek. Sudah beberapa hari ini hujan terus turun.


"Assalamu'alaikum..."


"Waalaikumsalam..."

__ADS_1


Syarifah segera membuka pintu, wanita paruh baya itu begitu sibuk mengurus cucu perempuannya yang tak henti-hentinya menangis.


"Liana masih nangis, Bun?" Fariz langsung melontarkan pertanyaan ketika sudah masuk ke dalam rumah betonan itu.


"Iya, Riz. Sudah Bunda kasih susu formula tapi dia terus menolak," balas Syarifah dengan raut wajah yang penuh kekhawatiran.


"Sini, biar aku yang menggendongnya."


Fariz mengambil alih putrinya dari gendongan mertuanya. Tangisan Liana sedikit mereda meski sedikit sesegukan. Tangan mungil bayi itu mencengkram baju koko Fariz.


"Aku bawa ke kamar dulu. Terima kasih sudah menjaga putriku."


"Tidak masalah. Dia juga cucu Bunda jadi kau tidak perlu sungkan seperti ini."


"Apa kau akan balik ke kota?" tanya Syarifah sebelum mengakhiri obrolannya dengan menantunya tersebut.


Fariz mengangguk."Iya, mungkin satu minggu lagi aku akan ke sana."


"Kenapa tidak tinggal di sini saja, Riz? Kau buka usaha di sini, Bunda sedikit keberatan bila kau kembali ke Jakarta dengan membawa Liana."


Fariz terdiam menimang-nimang ucapan yang baru saja mertuanya lontarkan.


"Akan aku pertimbangan."


Senyuman muncul di wajah Syarifah dengan balasan Fariz. Setelah mengucapkan itu Farid melangkahkan kakinya menuju kamar yang dulu di tempati Liza.


"Berbaring di sini dulu ya, Nak." Dengan penuh ke hati-hatian Fariz membaringkan putri kecilnya di kasur.


Liana terlihat sedikit tenang yang sebelumnya menangis tanpa henti. Bayi mungil dengan rupa yang mirip dengan Liza menatap liar pada ruangan bercat biru tersebut. Fariz tersenyum memandangi wajah cantik Liana.


___________


Hei girl! Terima kasih sudah mampir:)

__ADS_1


__ADS_2