Suami Jalur Perjodohan

Suami Jalur Perjodohan
Part 17: Apakah aku penting?


__ADS_3

...Sangat sulit menjalani hubungan dengan seseorang yang belum selesai dengan masa lalunya. Dan lebih sulit lagi harus bersaing dengan seseorang yang sudah tidak ada didunia ini....


"Seharusnya Bunda izin dulu dengan ku sebelum mengeluarkan semua pakaian mas Danu dari lemari," ucap Liza yang sibuk memasukkan kembali beberapa pakaian mendiang suaminya ke dalam lemari.


"Tapi buat apa kamu menyimpan pakaian Danu? Dia sudah tidak ada lagi. Dan lebih baik pakaiannya di sumbangkan pada orang-orang yang membutuhkan," balas Syarifah menatap putrinya yang sibuk menyusun pakaian.


Liza berbalik badan dan menatap sang bunda."Barang-barang milik mas Danu sangat berarti bagiku. Setidaknya bisa meredakan kerinduanku pada dia."


Syarifah menggeleng pelan, tak setuju dengan ucapan Liza."Kamu salah Liza. Kerinduanmu sudah sangat berlebihan. Seseorang yang benar-benar mencintai akan mengikhlaskan yang dicintai pergi. Kalau begini, sampai kapanpun kamu akan tetap seperti ini. Terbelenggu masa lalu."


"Kamu harus ingat Liza, kamu sekarang sudah memiliki suami yang lebih berhak kamu cintai. Bunda takut sikap kamu yang seperti ini akan membuat Fariz kecewa. Bahkan menjadi masalah dalam rumah tangga mu," sambung Syarifah menasehati.


Liza menundukkan kepalanya sejenak."A-aku sangat sulit melupakan mas Danu..." lirihnya.


Syarifah melangkah mendekat pada putrinya dan memegang kedua bahu Liza dengan senyuman lembut.


"Belajarlah mencintai suamimu, Fariz, melebihi kamu mencintai Danu. Karna cinta yang baru perlahan akan mengikis cinta yang sudah lama tumbuh dihatimu." Wanita paruh baya itu menunjuk bagian dada Liza.


"Itu sedikit sulit untukku, Bunda..."


"Tidak, Sayang. Yang mempersulit kamu mencintai Fariz adalah diri kamu sendiri. Kamu masih belum membuka hatimu sepenuhnya untuk mencintai Fariz, pun sebaliknya cinta yang Fariz curahkan padamu sangat sulit masuk ke hatimu. Hingga kamu tidak merasakan cinta yang Fariz berikan."


"Bunda tahu dari mana bila mas Fariz mencintaiku?" Liza menatap bergulir pada Syarifah.


Wanita paruh baya itu tersenyum tipis."Bunda bisa melihat dari mata Fariz setiap memandangmu. Dan itu tidak bisa dibohongi."


Syarifah meraih kedua tangan Liza dan menggengamnya."Jangan sampai kamu kehilangan Fariz hanya karna cinta masa lalumu. Dalam menjalani biduk rumah tangga begitu banyak godaannya, termasuk kehadiran orang ketiga."


"Cinta itu datang karna terbiasa," sambung Syarifah.


Liza tertegun sejenak dengan segala pemikiran yang merasuk dalam kepalanya.


*


*


Fariz membaringkan badannya di kasur. Matanya menatap ke arah langit-langit kamar. Pria tersebut mengubah posisi tidurnya menyamping.

__ADS_1


Helaan napas panjang terdengar jelas dari Fariz kala menatap foto figura Danu di atas meja samping ranjang, membuat sesuatu dalam dadanya bergejolak. Ia bangun dari pembaringannya dan meraih figura itu.


"Kenapa ini masih disimpan?" gumamnya serak.


Brak!


Fariz membanting foto figura Danu ke bak sampah yang ada di kamar tersebut. Napas pria itu memberat dengan dada yang memanas dan raut wajahnya yang tak bersahabat.


"Mas..."


Panggilan lembut Liza yang memasuki kamar, membuat Fariz yang tengah duduk melamun langsung menatap ke arah sang istri.


"Ini aku buatkan teh untuk Mas." Liza meletakkan teh hangat di atas meja.


Fariz hanya diam dan melirik sekilas Liza yang tampak mencari sesuatu di atas meja.


"Mencari apa?" tanya Fariz seolah penasaran. Sedangkan Ia tahu apa yang istrinya cari.


Liza hanya diam membisu.


"Apakah pernikahan kita penting untukmu?" Pertanyaan Fariz membuat pergerakan tangan Liza terhenti.


"Aku sudah terbuka tentang orang di masa lalu ku padamu dan menjaga hatiku untukmu. Tapi kamu..., masih mengelu-elukan mantan suamimu yang sudah meninggal!"


Liza tampak terperangah melihat raut wajah marah Fariz padanya dan suara meninggi pria itu. Fariz yang selalu bertutur lembut padanya, kini terlihat berbeda saat ini.


"Kamu kira aku hanya suami figuran atau hanya pelindung mu? Bahkan kamu tidak menghargaiku! Bagaimana bisa kamu menyimpan foto pria lain dan tidak memikirkan perasaanku!"


Liza meneguk ludahnya kasar. Baru saja bunda menasehatinya, dan sekarang ini terjadi.


"A-aku hanya butuh waktu."


"Sampai kapan?! Apakah dua bulan masih belum cukup melupakan dia?"


Liza menundukkan kepalanya, meremas gamis yang kenakan sekarang. Rasa takut dan pedih perlahan merayap dalam dadanya.


Fariz menghela napas kasar dan bangkit dari kasur, membuat Liza mendongak menatap pria itu.

__ADS_1


"Bagaimana bisa pernikahan ini bisa berjalan dengan waktu yang lama, bila hanya satu orang yang mencintai sepihak."


Liza meringis mendengar ucapan Fariz.


"Dan bagaimana seorang suami tidak marah dan cemburu bila di dalam hati istrinya, masih tersimpan nama pria lain."


Liza mengigit bibir bawahnya kelu ketika Fariz kembali berucap. Hatinya terasa ngilu.


"Aku sudah tidak habis pikir denganmu. Entah sehebat apa Danu mencintaimu, hingga kamu sangat sulit melupakannya."


"Mas!" Liza melangkah cepat kala Fariz hendak keluar kamar.


"Jangan pergi!" Liza memeluk suaminya dari belakang. Menahan tubuh besar itu pergi dari ruangan tersebut. Untuk pertama kalinya wanita itu menangis karna Fariz.


"Kamu dengar?" tanya Muhsin pada Syarifah. "Apa mereka sedang bertengkar?"


Karna sayup-sayup terdengar suara pekikan Liza.


"Jangan berpikir macam-macam, Yah. Kalaupun mereka bertengkar itupun bukan urusan kita. Tidak ada rumah tangga yang selalu baik-baik saja. Biarkan saja mereka berdua," balas Syarifah seolah tak menghiraukan hal itu.




"Ke mana mereka berdua?" gumam umi Fardah menatap ke arah pintu keluar dengan wajah gelisah bercampur kesal.


"Tidak apa-apa, Umi. Aku langsung pulang saja. Mungkin Fariz sedang pergi jalan-jalan dengan istrinya," ucap Aisyah yang sedari tadi menunggu pria itu datang.


"Tunggu sebentar ya, Ais. Sebentar lagi Fariz pulang. Kasihan kamu jauh-jauh ke sini tapi belum bertemu Fariz," balas umi Fardah menahan gadis itu agar tidak pergi.


Bagaimana pun Fariz harus bertemu dengan Aisyah.


Aisyah, gadis itu tersenyum dan mengangguk tipis.


____________


Hei girl! Terima kasih sudah mampir

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejak dengan memberikan like, hadiah dan komen.


See you di part selanjutnya:)


__ADS_2