
Satu persatu pakaian Liza masukkan ke dalam koper. Sungguh hatinya sangat berat harus meninggalkan rumah yang memiliki begitu banyak kenangan dengan almarhum suaminya. Di tambah Ia tidak ingin berjauhan dari kedua orangtuanya.
"Andai pernikahan ini tidak terjadi pasti aku akan tetap tinggal di sini..." gumamnya lirih dengan napas tercekat.
Liza mengusap kasar air mata yang mengalir membasahi pipinya. Ada rasa sesak, perih dan sakit menghantam dadanya.
Ceklek
Suara pintu kamar terbuka membuat perhatian Liza teralihkan. Iris coklat berairnya menatap netra hitam pekat milik Fariz yang berdiri mematung di ambang pintu. Wanita itu langsung memutuskan kontak matanya dengan sang suami.
"Kita sarapan dulu setelah itu baru kembali mengemasi barang-barang," ucap Fariz yang kini berdiri di samping Liza.
Liza yang tengah duduk di lantai mendongak menatap Fariz."Kenapa kita harus pindah? Apa aku tidak bisa tetap tinggal di rumah ini?"
Fariz berjongkok seraya menatap lekat Liza." Sekarang kau istri Mas, Liza. Jadi ke manapun Mas pergi kau harus ikut. Mas tahu, ini berat untukmu tapi bagaimana pun sekarang kau bukan hanya jadi bagian dari hidup Mas tapi menjadi tanggungan Mas."
Liza tertunduk lesu mendengar itu.
"Ayo kita keluar," ajak Fariz seraya menyentuh tangan kanan Liza yang tampak tersentak kaget.
"Jangan sentuh aku!" Marah Liza menatap tak suka pada suaminya. Sementara Fariz hanya tersenyum tipis.
*
*
"Jangan melamun terus Liza, layani suamimu." Suara Syarifah membuyarkan lamunan Liza. Wanita itu menoleh ke arah Fariz yang duduk di sampingnya.
Kini, pasangan pengantin baru itu tengah berada di ruang makan.
"Liza!"
"Jangan diam saja, cepat layani suamimu! Ambilkan nasi dan lauk untuknya!" titah Muhsin dengan suara yang cukup keras dan tegas.
"Tidak apa-apa, Yah. Aku bisa mengambilnya sendiri. Mungkin Liza belum terbiasa untuk melakukan ini," sahut Fariz melirik Liza yang hanya diam tertunduk.
Jujur, Liza sangat takut bila mendengar suara keras yang tersirat kemarahan dari sang ayah, Muhsin. Bukannya Ia tidak mau melayani Fariz di meja makan hanya saja bayangan saat Ia melayani mendiang suaminya setiap akan makan selalu berputar-putar dalam ingatannya.
*
*
"Ayah, Bunda, aku izin membawa Liza ke kota. InsyaAllah setiap bulan aku dan Liza akan ke sini," ucap Fariz mencium bergantian tangan kedua mertuanya.
__ADS_1
"Iya, Nak Fariz. Ayah titip Liza. Jaga dia baik-baik. Dia satu-satunya putri Ayah," balas Muhsin.
"Itu pasti Ayah."
Sementara Syarifah memeluk erat Liza yang tidak bisa menahan air matanya untuk menetes. Ia masih belum sanggup harus berpisah dari kedua orangtuanya.
"Jaga diri kau baik-baik, Nak. Ingat pesan Bunda, jangan buat Fariz marah dan patuhi perkataan suami mu. Jaga marwah mu sebagai seorang istri untuk suamimu," ucap Syarifah penuh nasehat. Liza hanya mampu menganggukkan kepalanya. Mulutnya tak sanggup untuk berkata apapun.
Fariz memasukkan barang-barang miliknya dan Liza ke dalam mobil. Syarifah mengusap kasar air mata yang tidak bisa Ia tahan lagi untuk meluruh.
Liza masuk ke dalam mobil dan di susul oleh Fariz. Sebelumnya wanita itu sudah menyambangi makam mendiang suami pertamanya sebelum berangkat ke kota. Entah kapan Ia bisa kembali berziarah ke makam Danu.
"Ini..."
Fariz menyerahkan selembar tissu pada sang istri. Tanpa menatap suaminya, Liza mengambil tissue tersebut dan mengusap kasar sudut matanya yang terus mengucur air mata. Ia menatap spion mobil yang menampilkan pantulan bayangan kedua orangtuanya yang melambaikan tangan pada mobil yang Ia tumpangi sekarang.
"Mas janji akan menjagamu sebaik mungkin. Jangan menangis lagi, Mas tahu ini berat untukmu, tapi seiring berjalannya waktu kau akan terbiasa berjauhan dari ayah dan bunda. Dan terbiasa selalu bersama Mas." Fariz menarik tangan kanan Liza ke pangkuannya. Ia mengusap-ngusap punggung tangan Liza lembut.
Sementara wanita itu menghentikan tangisnya dan terdiam merasakan usapan lembut pada tangannya. Iris coklat berair Liza menatap Fariz yang menatap lurus ke depan dengan mulut komat-kamit sepertinya tengah berzikir.
"Jika kau mengantuk, tidur saja. Nanti bila sudah sampai Mas bangunkan," ucap Fariz.
"Kita tidak ke rumah orang tua Mas?" cicit Liza memberanikan diri menanyakan hal itu.
"Untuk berpamitan,"
"Tidak usah, kemarin kita sudah berpamitan dengan umi dan abah. Sebaiknya kamu tidur ya, karna perjalanan ke kota Bandung cukup jauh," ucap Fariz.
Lagi-lagi Liza hanya diam.
Mobil yang di tumpangi keduanya melesat begitu cepat membelah jalanan tol. Liza menatap ke arah luar jendela dengan segala pemikiran yang memenuhi kepalanya. Entah bagaimana pernikahan Ia dengan Fariz ke depannya. Bagaimana pun Fariz merupakan orang asing baginya.
"Kita mampir dulu ke mesjid. Sholat Zuhur," ucap Fariz buka suara membuat Liza yang sibuk dengan lamunannya kini menoleh menatap suaminya.
"Iya..." jawabnya serak dan hampir tidak terdengar.
"Pak, kita mampir dulu ke mesjid yang ada di dekat sini," ucap Fariz pada sopir yang mengendarai mobil yang mereka tumpangi.
"Baik Mas," balas pak Manto yang langsung berbelok ke arah kanan di mana terdapat sebuah mesjid dekat jalan raya. Terlihat di halaman mesjid terparkir beberapa motor dan mobil.
"Ayo kita turun," titah Fariz pada Liza yang diam bergeming.
"Tapi..." ucapan Liza terjeda. Sorot matanya mengarah pada sekumpulan para pria yang duduk di tangga mesjid. Ia hanya malu harus melewati mereka.
__ADS_1
Seakan tahu isi pikiran sang istri, Fariz berucap. "Tidak apa-apa. Ada Mas sayang. Tidak perlu takut dengan mereka. Sekarang kamu sudah punya Mas yang akan selalu menjaga kamu."
Sepertinya Fariz harus sabar dengan sikap pemalu istrinya. Mengingat perkataan mertuanya, Muhsin, bila Liza sangat jarang keluar rumah kecuali menghadiri mengajian atau berziarah ke makam suami pertamanya.
Fariz mengenggam erat tangan kanan Liza ketika mereka berdua keluar dari mobil dan melangkahkan kaki menuju ke tempat wudhu. Suara azan menggema nyaring dari toa mesjid.
•
•
"Mobil siapa itu?"
"Mungkin si Fariz baru pulang dari kampungnya. Kan kemarin dia balik ke kampung."
"Ooh, pantesan sepi sekali kemarin rumahnya. Ternyata pulang kampung."
Bisik-bisik para tetangga kontrakan ketika melihat mobil kijang putih berhenti tepat di depan rumah kontrakan Fariz. Iya, pria itu memang belum memiliki rumah sendiri tapi masih mengontrak. Apalagi Ia hanya orang kampung yang bekerja di kota Bandung.
Fariz keluar dari mobil lebih dulu dan membukakan pintu mobil sebelahnya. Seorang wanita berpakaian serba hitam serta kain tipis hitam yang menutupi wajahnya keluar dari mobil dan itu mengundang rasa penasaran para ibu-ibu yang tengah berkumpul di salah satu teras kontrakan. Biasalah bila mereka berkumpul sudah pasti bergosip atau curhat tentang rumah tangganya. Entah masalah keuangan atau tentang anak.
"Ayo kita masuk." ucap Fariz." Pak tolong turunkan barang-barang saya dari mobil."
"Baik Mas," balas sopir yang berusia empat puluh tahunan itu.
"Assalamu'alaikum..." ucap Fariz ketika masuk ke dalam rumah kontrakan yang sudah Ia tinggal selama dua minggu.
Mata Liza langsung mengedar memandangi rumah kontrakkan suaminya. Menurutnya rumah ini tidak terlalu besar ataupun kecil.
"Bila kau lelah, kau bisa beristirahat dulu di kamar."
Liza menggeleng"Aku tidak kelelahan."
"Fariz...!!" Suara pekikan suara wanita yang cukup keras membuat perhatian Fariz dan Liza teralihkan.
Jessica, wanita itu langsung berhambur memeluk Fariz yang diam membeku. Sementara Liza terlihat kaget dengan apa yang wanita itu lakukan pada suaminya.
Pria itu melirik Liza yang terlihat sangat terkejut.
______________
Hei girl! Terima kasih sudah mampir
Jangan lupa meninggalkan jejak dengan memberikan like, komen dan vote.
__ADS_1
See you di part selanjutnya