
Tatapan hampa dan raut kesedihan tampak jelas dari wajah Liza. Kakinya tak tentu arah melangkah menyusuri jalanan aspal yang cukup padat dilewati oleh para pengendara. Tangan kanannya sibuk mengusap perutnya yang terasa nyeri.
Setelah perdebatannya dengan Fariz, Ia memilih pergi meninggalkan pria itu di rumah sakit. Biar saja Fariz kelimpungan mencarinya.
Hatinya sudah sangat sakit menelan rasa perih yang bersarang dalam dadanya.
Sorot mata Liza mengarah pada sekumpulan ibu-ibu yang tengah berkumpul di luar pagar sekolah, menjemput anak-anak mereka. Dan apakah Ia bisa seperti itu?
"Naik."
Suara seseorang membuat lamunan Liza buyar, Ia menatap Fariz yang kini berada di sampingnya.
"Ayo naik, Liza."
Sekali lagi Fariz berucap agar Liza menaiki motornya. Sedangkan wanita itu masih bergeming dengan wajah merengutnya. Percikan amarah masih bergejolak dalam dada wanita itu pada suaminya.
"Jangan menghilang seperti ini, Mas khawatir," ucap Fariz seraya menarik tangan Liza lembut agar semakin mendekat padanya.
Lagi, Liza tak mengeluarkan sepatah katapun, namun menurut dengan perintah Fariz untuk menaiki motor.
"Kau marah dengan ucapan Mas tadi?" tanya Fariz seraya menjalankan kendaraan roda duanya. Ia melirik kaca spion motor, memandang pantulan bayangan istrinya di sana.
"Mas, minta maaf karna sudah bersikap kasar dengan mu. Mas, sangat sulit mengendalikan emosi tadi."
"Sudah bicaranya?" sela Liza, dan Fariz mengantupkan bibirnya saat ingin melanjutkan ucapannya.
"Jangan membicarakan masalah ini saat di perjalanan. Fokuslah mengendarai motornya." Setelahnya Liza menatap ke arah lain. Menghindari bersitatap dengan Fariz melalui kaca spion.
Mungkin agak kurang ajar dan tidak sopan bicara acuh seperti ini pada suaminya. Tapi perasaan marah ini meletup-letup dalam dadanya.
__ADS_1
Sepanjang perjalanan keduanya diam. Tidak ada lagi Fariz yang mengeluarkan suara untuk sekedar basa-basi. Sedangkan Liza tampak menikmati perjalanan yang entah ke mana suaminya akan membawa.
"Kenapa berhenti?" tanya Liza heran.
Pasalnya Fariz menghentikan sepeda motornya di tempat yang Liza sendiri tidak tahu. Terlihat beberapa pasangan tengah duduk berteduh di bawah pohon rindang, menghindari sengatan matahari yang hari ini sangat panas.
"Kita istirahat dulu di sini. Mas, ingin bicara sesuatu denganmu," ucap Fariz menatap sendu istrinya.
Liza mengikuti langkah Fariz yang menuntunnya ke tempat yang sedikit jauh dari keramaian. Segala pertanyaan muncul di kepalanya, entah apa yang ingin Fariz bicarakan. Tapi, Ia yakin pasti pria itu akan membahas soal tadi. Mengingat masalah yang tadi saja sudah membuat Ia malas membahasnya karna pada ujungnya mereka berdua akan kembali berdebat.
"Duduklah. Kau tunggu di sini, Mas ingin membeli sesuatu." Setelah mengucapkan itu, Fariz beranjak pergi meninggalkan Liza.
Wanita itu menatap sekitar dan mendudukkan dirinya di sana. Hembusan angin menerpa wajah Liza yang begitu menikmatinya. Di tambah posisinya sekarang berada di bawah pohon akasia.
Sepuluh menit berlalu.
Iris coklat Liza bergerak liar mencari sosok suaminya yang tidak muncul-muncul. Tidak mungkin pria itu meninggalkan dirinya di sini.
Liza terperanjat kaget ketika Fariz sudah berada di sampingnya. Pria itu menyodorkan es krim cup di hadapannya.
"Kata orang bila seorang wanita marah berikan saja dia makanan yang manis-manis. Contohnya es krim."
Fariz terkekeh setelah mengucapkan itu. Ia mendudukkan dirinya di samping sang istri. Liza acuh tak acuh mengambil es krim yang suaminya sodorkan.
"Lepaskan saja, di sini tidak ada orang," ucap Fariz kala melihat Liza mengenyampingkan cadarnya.
"Tidak mau!"
Fariz menghela napas dengan respon Liza yang bernada ketus. Walaupun begitu, kedua tangannya bergerak melepaskan cadar di wajah wanita itu. Bibir mencebik menjadi pemandangan yang Fariz lihat.
__ADS_1
"Makanlah," ucap Fariz menatap lekat Liza.
Tanpa membuang waktu wanita itu mencicipi es krim rasa coklat tersebut.
"Nanti kita beli susu untukmu, agar anak kita sehat di dalam sini."
Fariz mengusap perut datar istrinya yang tertutup pakaian gamis tebalnya.
Sementara Liza mengernyitkan keningnya."Bukannya Mas tidak menginginkan anak ini. Dan bukannya Mas ingin aku menggugurkannya?" Ucapan Liza yang penuh sindiran membuat pergerakan tangan Fariz terhenti.
"Siapa bilang? Anak itu rezeki dan anugrah. Mas, hanya khawatir dengan keadaanmu. Apa yang kau rasakan, Mas pun juga merasakannya. Tapi saat ini kita di hadapan pilihan yang sangat sulit. Sekarang Mas terserah kau saja, jika ini sudah takdir Mas tidak bisa berbuat apa-apa, kecuali berdo'a yang terbaik untukmu dan anak kita."
Meski wajah Fariz terlihat tenang, mata pria itu tidak bisa berbohong. Ada raut kesedihan dari netra hitam pekat tersebut.
Liza menundukkan kepalanya sejenak dan menghela napas panjang.
"Sebenarnya aku takut setelah mendengar pernyataan dokter. Aku masih tidak menyangka harus mengalami hal seperti ini."
Mata Liza berkaca-kaca menatap suaminya dengan tenggorokan yang tercekat. Fariz mendekatkan badannya dan memeluk tubuh mungil Liza yang tidak menahan tangisnya yang kini pecah.
"Aku mencintai Mas Fariz. Tapi kenapa takdir kisah kita seperti ini? Aku mencintai Mas Fariz."
Ada rasa bahagia yang meletup-letup dalam dada Fariz mendengar pernyataan dari istrinya. Hal yang sudah lama Ia tunggu-tunggu.
"Mas, juga sangat mencintaimu, Sayang. Kau tenang saja, Mas akan berupaya yang terbaik untukmu dan anak kita."
Fariz menguraikan pelukannya dan mengusap air mata yang membasahi wajah manis sang istri. Ada keyakinan yang timbul dalam benak Fariz, keyakinan bila mereka berdua bisa melewati ini semua. Allah tidak mungkin memberikan ujian di luar batas kemampuan hamba-Nya, dan Fariz yakin itu.
__________
__ADS_1
Hei girl! Terima kasih sudah mampir