Suami Jalur Perjodohan

Suami Jalur Perjodohan
Part 26: Perdebatan


__ADS_3

Di kamar bernuansa abu-abu tersebut hanya ada ke senyapan dan hening yang melanda, Fariz maupun Liza sama-sama diam membisu dan duduk di sisi ranjang saling membelakangi.


Fariz diam karna beban pikiran yang memenuhi kepalanya saat ini, sedangkan Liza diterpa rasa takut akan keputusannya yang mungkin ditentang suaminya. Tapi, mau bagaimana lagi, Ia sangat menginginkan janin ini agar tetap tumbuh di rahimnya hingga terlahir ke dunia. Mungkin ini ujian terberat bagi Liza sepanjang hidupnya.


"Mas, tidak tahu harus berkata apalagi. Tapi, bila itu membahayakan nyawamu sebaiknya gugurkan saja."


Liza menggelengkan kepalanya kuat dan meremas sprei, menolak usulan Fariz.


"Aku tidak mau! Aku memiliki hak atas keputusan yang aku pilih, Mas! Aku tidak mau menggugurkannya," tolak Liza dengan nada suara rendah di akhir kalimat.


Tubuh wanita itu kembali bergetar, mengigit bibir bawahnya menahan isak tangis dan juga rasa perih yang mencengkram bagian dalam dadanya. Fariz tidak akan mengerti dan paham apa yang Ia rasakan sekarang meski pria itu suaminya. Sistem kerja hati seseorang berbeda-beda termasuk Fariz yang lebih mengutamakan egonya untuk perkara cinta dan hati.


Fariz memutar tubuhnya menghadap ke arah Liza yang masih memunggunginya. Ia bisa melihat jelas raut kesedihan dan kekecewaan istrinya dari pantulan cermin yang berhadapan dengan Liza. Ia sangat mencintai istrinya dan tidak ingin sesuatu yang buruk menimpa wanita itu.


"Ini memang sangat berat untukmu. Tapi jangan memaksakan sesuatu yang membahayakan dirimu, Sayang." Fariz berucap selembut mungkin, setidaknya hati istrinya terketuk mendengar usulannya.


"Aku tidak mau!" Liza semakin tak terkendali dengan tangisannya hingga oksigen sangat sulit Ia hirup."Jika aku menggugurkannya, sudah pasti aku tidak bisa hamil lagi! Dan umi akan mencari wanita lain yang bisa memberikan mu anak! Aku tidak mau!"


Liza menghadap ke arah Fariz dan berteriak histeris menolak mentah-mentah usulan suaminya tersebut. Apalagi setelah Ia tahu umi Fardah sangat membencinya dan menginginkan wanita lain mengambil posisinya sekarang.


Fariz bangkit dari tempat duduknya dan memeluk Liza yang langsung membalas pelukan suaminya dengan sangat erat, dan menyembunyikan wajahnya di dada bidang pria itu.

__ADS_1


Ia tidak tahu entah sejak kapan perasaan ini tumbuh di hatinya. Tapi yang jelas Ia tidak ingin membagi suaminya dengan wanita lain.


"Aku ingin seperti wanita hamil yang lainnya. Dan aku ingin memperlihatkan pada umi, kalau aku juga bisa memberikan seorang anak dan cucu untukmu dan umi... hiks..."


Liza masih dengan tangisannya dan Fariz membelai lembut wajah sang istri yang penuh air mata.


Baru saja Ia terbangun dari tidurnya dengan perasaan sedikit tenang, tapi Fariz kembali membahas hal yang membuat semangatnya down.


"Sebaiknya kau istirahat." Hanya kata itu yang keluar dari mulut Fariz dan menampik ucapan yang baru saja Liza lontarkan.


Sepertinya pria itu sudah tidak ingin membahas ini.


Liza mengepalkan kedua tangannya kala Fariz melepaskan pelukannya. Pria itu bangkit dari tempat duduknya. Tidak ada ucapan yang keluar dari mulut Fariz.




"Seperti yang saya jelasnya dengan Ibu Liza sebelumnya. Saya tidak menjamin bila Ibu Liza akan melahirkan dengan selamat. Karna penyakit Ibu Liza sangat mempengaruhi perkembangan janin dan membahayakan dirinya. Dan seharusnya Ibu Liza menjalani kemoterapi sebelum kanker ini semakin menjalar dan memasuki stadium dua."


Dokter Indri menjelaskan dengan rinci pada Fariz yang semakin erat menggengam tangan mungil Liza. Sedangkan Liza hanya bisa diam membisu dengan wajah lemasnya. Mendengarkan ucapan dokter tersebut membuat dadanya semakin perih.

__ADS_1


"Apa Dokter yakin tidak ada cara lain? Saya ingin istri dan anak saya selamat."


"Tidak ada, Pak. Pilihan hanya dua, gugurkan atau dipertahankan tapi nyawa jadi taruhan."


Fariz menoleh ke arah Liza sekilas dan menghela napas pelan.


"Saran saya gugurkan saja. Ini demi kebaikan Ibu Liza." Dokter Indri menatap ke arah wanita bercadar tersebut.


"Saya tidak mau! Sangat jahat bila saya melenyapkan janin ini. Tidak ada bedanya saya dengan pembunuh!"


"Liza!" Fariz menatap tajam istrinya tersebut.


"Kenapa?!" Liza meninggikan volume suaranya.


"Kalau begitu saya pamit keluar." Fariz menarik pergelangan tangan Liza sedikit kasar membuat wanita itu hampir jatuh terjungkal.


Dokter Indri menatap keduanya dengan pandangan yang sulit diartikan.


"Jangan bersikap keras kepala! Apa susahnya mengikuti saran dokter itu, huh?! Jangan buat Mas semakin tidak terkendali karna keputusan kekanak-kanakan mu itu, Liza!"


Wanita itu mendengus mendengar ucapan suaminya."Aku kekanak-kanakan?! Mas tidak akan mengerti apa yang aku rasakan! Kalian mengatakan ini demi kebaikan ku tapi tidak pernah memikirkan perasaanku nantinya. Aku sudah pernah mengalami keguguran dan aku tidak mau itu terjadi lagi!"

__ADS_1


"Mas Fariz dan umi sama saja! Selalu mengutamakan diri kalian sendiri tanpa memikirkan perasaan orang lain!"


Liza melengos dari hadapan Fariz. Sedangkan Fariz menggeram kesal dan marah pada dirinya sendiri.


__ADS_2