Suami Jalur Perjodohan

Suami Jalur Perjodohan
Part 12: Fitnah


__ADS_3

Beberapa hari ini wajah Fariz terlihat berseri-seri. Beda dengan Liza yang terlihat jelas raut kelelahan dari wajahnya. Semenjak kejadian itu, hubungan mereka sedikit lebih dekat dan tidak terlalu canggung terutama pada Liza.


"Hari ini Mas pergi ke kantor bawa bekal apa tidak?" tanya Liza yang kini tengah menggoreng ayam.


"Terserah kamu saja," balas Fariz dan kening Liza berkerut.


"Kenapa terserah? Kan yang ingin membawa bekal, Mas."


"Ya sudah, bawa bekal."


Liza geleng-geleng kepala dengan sikap suaminya. Wanita itu memejamkan matanya dan menghela napas pelan kala Fariz melingkarkan tangan di perutnya. Dan menancapkan dagu di bahunya.


"Nanti malam kamu sibuk?"


Lagi, Liza menghela napas kala Fariz bertanya seperti itu. Ia tahu maksud dari ucapan suaminya itu.


"Nanti malam aku sibuk melipat pakaian dan menyetrika."


Bahu Fariz langsung merosot tak semangat dan bibir yang tampak cemberut. Bibir Liza berkedut, ingin rasanya tertawa ketika menoleh ke arah sang suami yang terlihat cemberut.


"Nanti aku izin pergi keluar sebentar. Membeli beberapa bahan dapur dan sayur-sayuran yang sudah habis dalam kulkas."


"Tunggu Mas pulang dari kantor saja."


"Kalau nunggu Mas pulang yang ada pasarnya sudah tutup. Aku hanya berbelanja sebentar tidak lama," ucap Liza berusaha membujuk Fariz.

__ADS_1


"Liza..."


"Aku bisa menjaga diri," sela Liza cepat. Ia tahu isi dalam kepala suaminya. Pria itu takut Ia kenapa-kenapa.


Fariz menghela napas pelan."Ya sudah. Jangan terlalu lama di sana. Bila sudah sampai langsung kabarin Mas."


Liza mengangguk cepat dengan senyuman manis yang terukir dibibir tipisnya dan itu membuat Fariz semakin terpesona.


Sebelum pukul delapan pagi, Liza sudah selesai mempersiapkan bekal makanan dan pakaian kerja suaminya.


"Mas pergi dulu, kamu hati-hati di rumah." Fariz mengecup kening Liza.


Wanita itu terlihat sudah biasa dengan sentuhan dan ciuman yang Fariz berikan. Hingga tidak ada lagi rasa gugup ataupun tubuhnya yang menegang. Liza hanya menunggu cinta datang menyapa hatinya yang membeku.


Liza mengantarkan Fariz sampai teras rumah dan melihat kepergian pria itu hingga hilang dari pandangan matanya.


Jessica, gadis itu berjalan cepat ke arah Liza.


"Siapa kau sebenarnya? Dan apa hubunganmu dengan Fariz? Cepat jawab?!" Jessica langsung menodong pertanyaan dengan Liza yang terlihat bingung.


"Aku istrinya Mas Fariz. Dan kau sendiri kenapa bertanya seperti itu?" Liza balik bertanya.


Sedangkan Jessica membekap mulutnya, terkejut dengan jawaban yang wanita itu berikan.


"Tidak mungkin. Pasti kau adiknya Fariz. Tidak perlu berpura-pura menjadi istrinya!" sentak Jessica yang meragukan ucapan Liza.

__ADS_1


"Untuk apa aku berbohong. Aku memang istrinya."


Wajah Jessica yang awalnya tampak shock dan terkejut, kini berubah merah padam dengan hatinya yang hangus oleh kecemburuan.


"Berarti kau penyebab hubunganku dan Fariz putus! Kau memang merebut!" umpat Jessica.


"Aku bukan perebut! Untuk apa aku melakukan hal yang merendahkan maruahku sebagai wanita hanya karna pria!" balas Liza berusaha tenang meski emosi rasanya ingin meledak-ledak.


Jessica mendorong Liza cukup kuat, hingga punggung wanita itu membentur tembok.


"Kau harus tahu satu hal, Fariz milikku. Kami berdua sudah berpacaran dua tahun. Dan tiba-tiba saja dia memutuskan hubungan begitu saja. Dan aku yakin penyebabnya karnamu! Kau tidak usah pura-pura naif! Tidak usah bersembunyi dibalik pakaian tertutup mu, pelacur!"


Mendadak rasa nyeri merabat dalam benak Liza. Ia berusaha tak menghiraukan ucapan Jessica. Tapi rasa sakit ini sangat sulit untuk dihalau.


"Jika kau tidak percaya, tanyakan saja dengan Fariz. Dan jika Fariz mengiyakan, berarti kau memang perebut!"


Tatapan Liza bergulir. Dulu Ia difitnah sebagai penggoda suami orang karna statusnya. Sekarang Ia dianggap perebut. Bahkan saat Ia menikah pun fitnah selalu tertuju padanya.


Liza berusaha tetap tegar meski air mata dipelupuk mata ingin merembes. Ia masuk ke dalam rumah dengan segala pertanyaan besar dalam kepalanya hingga rasa sakit yang semakin mencekik.


Sementara Jessica sudah meninggalkan tempat itu dengan hati yang sedikit puas.


______________


Hei girl! Terima kasih sudah mampir

__ADS_1


InsyaAllah besok akan update dan seterusnya❤


Jangan lupa berikan like dan vote untuk mendukung karya ini. See you di part selanjutnya:)


__ADS_2