
...Jangan lelah untuk bersabar atas ujian yang tengah kau hadapi. Karna buah dari sebuah kesabaran sangatlah manis dan berakhir kebahagiaan....
"Bagaimana kondisi istri saya?" Fariz menatap dokter Agni yang baru saja selesai memeriksa Liza yang masih setia memejamkan matanya.
Sementara umi Fardah berdiri di ambang pintu menunggu pernyataan dokter Agni tentang kondisi menantunya. Sedangkan Aisyah sudah pulang ke rumah 20 menit yang lalu.
"Bapak tenang saja. Ini hal wajar bagi wanita yang tengah mengandung karena ini bagian dari perubahan yang terjadi pada ibu hamil," papar dokter Agni yang merupakan dokter umum.
"Maksudnya hamil?" tanya Fariz menyakinkan. Ia takut salah dengar dengan pernyataan yang dokter Agni paparkan.
Dokter Agni mengangguk."Iya, istri anda sedang hamil. Dan bila ingin lebih rinci lagi tentang kondisi kandungan istri Bapak, bisa periksa langsung di dokter spesialis kandungan."
"Alhamdulillah..."
Fariz tersenyum penuh binar kebahagiaan sekaligus tak menyangka dengan kabar yang Ia dengar sekarang. Ia menatap ke arah Liza yang masih belum sadarkan diri. Fariz melangkah mendekat pada Liza dan meraih tangan sang istri lalu mengecupnya beberapa kali seolah mengungkapkan kebahagiaan yang mendera benaknya saat ini.
Sedangkan umi Fardah mematung di tempat setelah mendengar pernyataan dokter Agni. Wanita paruh baya itu tidak menunjukkan ekpresi apapun kecuali raut keterkejutan yang muncul di wajah keriputnya. Itu pun langsung sirna dengan raut wajahnya yang berubah datar.
"Umi...istriku hamil!" Fariz mendekat pada umi Fardah yang hanya memberikan senyuman tipis dan mengusap pipi putranya sekilas.
"Selamat Fariz..." Hanya kata itu yang keluar dari mulut umi Fardah dan setelahnya wanita paruh baya tersebut memilih pergi meninggalkan Fariz yang mengernyitkan keningnya menatap kepergian sang umi.
Sepanjang melangkahkan kakinya, raut cemas dan khawatir tercetak jelas dari wajah umi Fardah.
Sedangkan di dalam kamar, Fariz terus tersenyum-senyum. Dan entah sudah berapa kali Ia mencium keningnya istrinya.
"Eugh..." Suara lenguhan Liza yang mulai sadar membuat Fariz semakin tersenyum lebar. Ia menarik tubuh istrinya dalam dekapannya.
"Mas..." Liza mendongak menatap Fariz.
"Apa masih pusing kepalanya atau mual?" Pertanyaan sang suami membuat Liza menampilkan wajah bingungnya.
Liza menggeleng lemah." Tidak. Tapi..." Ia menjeda ucapannya dan menatap Fariz dengan raut wajah yang tampak menyedihkan.
"Mas Fariz akan menikah lagi?" Air mata langsung meluncur dari pelupuk mata Liza setelah bertanya seperti itu. Kali ini wanita tersebut tidak mampu lagi menyembunyikan kesedihannya dan kecemburuan nya di hadapan Fariz.
Suara gelak tawa Fariz membuat Liza mengernyitkan keningnya bingung. Bahkan wajah wanita itu semakin menekuk sedih.
__ADS_1
"Siapa yang mengatakan Mas akan menikah lagi, hmm?" tanya Fariz yang mulai meredakan tawanya. Bahkan pria itu sengaja mendekatkan wajahnya pada Liza. Hingga hembusan napas mereka berdua saling beradu.
"Bu-bukan kah umi ingin menjodohkan Mas dengan wanita lain?" Liza tampak gugup dengan posisi mereka dua yang sedekat ini. Fariz sengaja memangkas jarak diantara mereka berdua.
Fariz menggeleng." Untuk apa menikah lagi, bila mempunyai istri sepertimu sudah lebih dari cukup." Setelahnya pria itu tersenyum dan mengecup bibir pucat Liza.
Sedangkan wanita itu menyembunyikan wajahnya di dada bidang Fariz. Sungguh, Ia sangat malu dan salah tingkah mendengar ucapan suaminya.
"Apa kamu menginginkan sesuatu, Sayang?" tanya Fariz seraya membelai mesra rambut panjang Liza yang terurai.
"Tidak."
Liza semakin mengeratkan pelukannya pada sang suami dan betah menyembunyikan wajahnya di dada Fariz.
•
•
Pagi ini terlihat berbeda. Umi Fardah menyiapkan bubur untuk Liza walaupun tidak banyak bicara. Wanita paruh baya itu lebih banyak diam dan tidak seperti kemarin yang selalu menggerutu pada menantunya tersebut.
"Sedikit lagi Sayang, beberapa suap lagi." Fariz membujuk istrinya.
"Aku sudah kenyang." Liza mengusap perutnya yang sudah sangat kekenyangan. Wanita itu membenarkan posisi duduknya yang tengah bersandar di bahu ranjang.
Padahal Ia baik-baik saja tapi Fariz memperlakukan dirinya seperti orang yang sedang sakit. Dan Ia merasa ada yang aneh dengan tubuhnya, termasuk selalu merasa mual dan kepala yang terasa pusing.
"Assalamu'alaikum, Mas Fariz..." Suara seseorang dan ketukan pintu yang memang tidak tertutup membuat Fariz dan Liza bisa melihat Aisyah kini berdiri di depan pintu dan menenteng plastik hitam.
"Waalaikumsalam..."
Aisyah melangkah masuk ke dalam kamar tersebut dengan senyuman ramahnya.
"Aku datang ke sini ingin menjenguk Liza, dan membawa sedikit buah-buahan," ucap Aisyah menatap Fariz dengan pandangan yang menyiratkan sesuatu."Sebenarnya aku tidak ingin masuk ke kamar ini, tapi umi mengatakan tidak apa-apa masuk ke dalam sini."
"Terima kasih." Fariz menanggapi ucapan Aisyah seadanya dan kembali fokus pada Liza.
"Bagaimana keadaanmu, Liza?" tanya Aisyah yang terlihat perhatian.
__ADS_1
"Aku baik." Liza menyandarkan kepalanya di dada Fariz dan melingkarkan kedua tangannya di pinggang suaminya. Dan Fariz membalas pelukan Liza dan mengecup kening istrinya tersebut.
Aisyah terlihat canggung dan kikuk melihat kemesraan keduanya. Ia menunduk dan meremas kantong plastik yang Ia pegang sekarang.
"Aisyah, sepertinya kamu harus keluar dari kamar ini," ucap Fariz mengusir dengan halus. Bagaimana pun Ia tidak nyaman dengan kehadiran Aisyah ditengah-tengah mereka berdua.
"Baiklah. Dan semoga cepat sembuh Liza," ucap Aisyah sebelum pergi keluar dari kamar tersebut.
Wanita yang mengenakan hijab biru tua itu melangkah keluar dari kamar dan menatap sekilas pada Fariz.
"Aku tidak suka Mas dekat dengan Aisyah." Liza mulai menampakan kecemburuan dan posesif pada suamimu.
Sedangkan Fariz terlihat senang dengan kecemburuan istrinya karna ini menjadi pertanda Liza mulai memiliki perasaan padanya.
*
*
"Kamu sudah bertemu Fariz, Ais?" Umi Fardah berjalan mendekat pada Aisyah yang baru saja keluar dari kamar Fariz.
"Sudah.Tapi, sepertinya mas Fariz sibuk mengurus Liza." Aisyah menundukkan kepalanya dengan raut wajah yang terlihat sedih.
Umi Fardah menghela napas berat.
"Untuk rencana Umi kemarin sepertinya harus batal."
Aisyah mendongak." Kenapa batal, Mi. Bukannya umi sudah janji akan menjadikan aku istri kedua mas Fariz? Atau mas Fariz menolak berpoligami, iya?"
Umi Fardah bungkam tidak menjawab pertanyaan Aisyah yang tampak kecewa. Sedangkan Ia sudah benar-benar siap dan ikhlas dijadikan istri kedua meski harus berbagi cinta dan perhatian dengan Liza.
___________________
Hei girl! Terima kasih sudah mampir
Jangan lupa tinggalkan jejak dengan memberikan like dan komen.
See you di part selanjutnya:)
__ADS_1