Suami Jalur Perjodohan

Suami Jalur Perjodohan
Part 14: Ujian yang menyesakkan


__ADS_3

...Bersabarlah atas ujian yang menimpamu. ...


"Eugh..."


Liza melenguh dan terusik kala seseorang mengubah posisinya yang awalnya sudah nyaman tidur memeluk guling.


"Tidur, Sayang..." Fariz mengusap-ngusap pucuk kepala Liza lembut. Membawa tubuh mungil itu dalam dekapannya dan menyingkirkan guling yang wanita itu peluk.


Pria itu baru saja pulang dari cafe setelah bertemu dengan Jessica. Sekarang jam menunjukkan pukul 22: 00 malam.


"Mas, tadi ke mana?" tanya Liza serak dengan mata yang belum terbuka sempurna.


"Ada urusan sebentar, Sayang," balas Fariz setelahnya mengecup bibir Liza yang sedikit terbuka.


"Jangan mulai Mas..." kesal Liza kala Fariz dengan sengaja mencium bibirnya berkali-kali. Dulu almarhum suami pertamanya tidak seperti ini padanya. Beda dengan Fariz yang selalu mencuri kesempatan.


"Mas sudah ketagihan, Sayang..." ucap Fariz terkekeh pelan."Sekarang tidur lagi," pria itu semakin erat memeluk tubuh mungil Liza yang terbalut piyama biru polos.


Hening. Hanya terdengar suara jam dinding yang berdetak.


Fariz masih terjaga dengan segala memikirin yang beberapa hari ini membebani. Pandangan mata pria itu mengarah pada Liza yang tampak nyenyak tidur dalam dekapannya. Wajah sang istri terlihat damai dan menenangkan saat dipandang.


"Aku harap kamu tetap di sisiku apapun yang terjadi..." lirih Fariz. Ia semakin erat memeluk tubuh Liza, seolah takut wanita itu kembali meninggalkan dirinya.


*


*


Dua bulan berlalu...


Hubungan Khaliza dan Fariz semakin dekat. Seperti pasangan pada umumnya, selalu menghabiskan waktu berdua ataupun pergi ke pengajian yang tidak jauh dari tempat tinggal mereka berdua. Sungguh, dua bulan terakhir ini pernikahan Liza dan Fariz diselimuti oleh kebahagiaan tanpa ada gangguan dari orang-orang yang berusaha menjadi pengacau dalam rumah tangga mereka terutama Jessica. Wanita itu sudah tidak pernah terlihat lagi semenjak Fariz mempertegas status Liza dalam kehidupannya pada Jessica.

__ADS_1


Kini, kedua pasangan muda itu dalam perjalanan menuju ke kampung halaman. Seperti janji Fariz, setiap dua bulan sekali Ia akan pulang ke kampung halaman. Bukan hanya merindukan kedua orangtuanya, tapi menuntaskan kerinduan Liza yang beberapa hari ini mengadu merindukan kedua orangtuanya.


Mobil Avanza hitam yang keduanya tumpangi berhenti di depan pekarangan rumah orangtua Fariz. Terlihat umi Fardah dan abah Hasan sudah berdiri di depan teras menyambut kedatangan keduanya.


"Assalamu'alaikum, Umi, Abah." Fariz mencium tangan kedua orangtuanya bergantian, diikuti oleh Liza setelahnya.


"Bagaimana kabarmu, Nak?" tanya abah Hasan seraya mengusap bahu kokoh putranya.


"Alhamdulillah baik, Bah."


"Lalu, Liza bagaimana kabarnya setelah tinggal bersama Fariz?" Abah Hasan menatap ke arah menantunya.


"Alhamdulillah, aku baik selama tinggal di sana bersama Mas Fariz, Abah," balas Liza disertai senyuman tipis.


"Itu bukannya si Liza, mantan janda itu?" celetuk Tuty menatap ke arah rumah tempat Liza berdiri sekarang.


"Sepertinya itu memang Liza. Penampilannya sekarang terlihat berbeda," balas Nunung menelisik menampilan Liza yang terlihat lebih berisi dan kulit yang semakin putih.


Meski wanita itu menggunakan cadar, tidak menutupi kecantikan yang Liza miliki. Mata bulat dan bulu mata yang lentik.


"Andai saja Fariz menikahi putriku, pasti putriku akan hidup enak juga seperti Liza. Padahal Liza itu bekas pria lain." Ucapan pedas itu meluncur begitu saja dari mulut Nunung seolah tak terima dengan apa yang Liza dapatkan.


Sedangkan Liza dan Fariz sudah masuk ke dalam rumah betonan itu.


"Duduk dulu kalian berdua. Pasti sangat lelah diperjalanan tadi," ucap abah Hasan dengan senyuman hangatnya.


"Iya Abah," sahut Fariz dan Liza tersenyum.


"Kamu sudah isi Liza?" Pertanyaan yang meluncur dari mulut umi Fardah membuat semua orang yang ada di sana menatap ke arah wanita paruh baya itu.


Liza menggeleng pelan." Belum, Mi."

__ADS_1


"Padahal sudah dua bulan lebih menikah tapi kamu belum hamil juga. Umi takutnya kamu mandul!"


"Umi!" tegur Fariz mengkode dengan gelengan kepala. Seolah mengatakan agar tidak membahas ini.


"Kenapa?" Umi Fardah menatap putranya."Memang benar, kan? Sebelumnya Liza pernah keguguran saat mengandung anak dari suami pertamanya. Bisa saja ini jadi penyebab dia belum hamil sekarang. Umi dengar beberapa wanita susah hamil setelah keguguran."


"Umi...mereka berdua menikah belum genap satu tahun. Jadi wajar bila Liza belum hamil, bukan karna masalah dia pernah keguguran. Anak itu rezeki, seberusaha apapun kita bila Allah belum memberikannya ya tidak bisa dipaksa," sahut abah Hasan angkat suara.


"Abah tidak usah membela Liza. Fariz ini anak pertama kita, apa kata orang-orang kalau Liza belum hamil. Lihat Murni, tetangga kita, satu bulan menikah sudah hamil!" Fardah menatap merengut pada suaminya.


Liza semakin menundukkan kepalanya. Kedua tangannya meremas gamis yang Ia kenakan sekarang. Seolah menyalurkan apa yang Ia rasakan dalam dada.


"Liza..." Panggilan lembut Fariz membuat wanita itu menoleh. Pria itu mendekatkan wajahnya ke telinga sang istri.


"Jangan masukkan ucapan Umi dalam hati ya?" bisik Fariz seolah tahu apa yang ada dalam pikiran Liza.


Wanita itu mengangguk meski hatinya berkata lain.


"Umi, Abah. Kami ke kamar dulu." Fariz bangkit dari tempat duduknya dengan tangan yang saling bertautan dengan Liza.


Umi Fardah mengangguk. Sedangkan abah Hasan tersenyum.


"Seharusnya Umi jangan asal bicara. Jangan melukai hati menantu kita dengan ucapan Umi tadi," tegur abah Hasan setelah menantu dan putranya sudah masuk kamar.


Kening umi Fardah mengernyit."Sudah seharusnya menantu memberikan apapun yang mertua inginkan, termasuk cucu! Dan ini alasan Umi tidak setuju Fariz menikah dengan Liza. Wanita itu bisa saja tidak mampu memberikan keturunan pada Fariz. Lain lagi setelah pernikahan mereka berdua, kita menjadi bahan gunjingan karna status Liza yang sebelumnya seorang janda!" balas umi Fardah tegas dan dada yang terasa memanas.


____________________


Hei girl! Terima kasih sudah mampir


Jangan lupa tinggalkan jejak dengan memberikan like dan vote untuk mendukung karya ini.

__ADS_1


Jangan lupa mampir ke instagram aku @windanor99


See di part selanjutnya:)


__ADS_2