
"Apa yang kau lakukan!" Fariz mendorong Jessica kasar, hingga wanita itu hampir jatuh terjengkang.
"Fariz!" pekik Jessica yang tampak kesal dengan sikap yang pria itu berikan.
"Pergi dari sini!" ucap Fariz yang hendak mendorong Jessica, namun langsung ditahan oleh Liza yang dari tadi menonton.
"Jangan kasar dengan wanita," tegur Liza.
Fariz langsung terdiam kaku. Sedangkan Jessica mengerutkan keningnya seolah baru sadar dengan keberadaan wanita yang berpakaian serba hitam.
"Siapa dia?" tanya Jessica menelisik pakaian Liza dari atas sampai bawah.
"Sebaiknya kau keluar!" Fariz menarik kasar pergelangan tangan Jessica, tidak peduli dengan tanggapan Liza nantinya yang akan berpikir Ia pria kasar.
"Sakit, Fariz!"
"Jangan temui saya lagi, kita tidak memiliki hubungan apapun!"
"Kita masih pasangan kekasih!"
"Itu dulu tapi sekarang tidak. Jadi pergi dari sini!" Fariz segera masuk ke dalam rumah dan mengunci pintunya rapat.
"Biasanya Fariz selalu membawa masuk wanita itu ke dalam rumah," ucap Norma yang memperhatikan pertengkaran keduanya tidak jauh dari rumah kontrakan pria itu.
"Mungkin mereka berdua sedang bertengkar. Atau jangan-jangan karna Fariz membawa masuk wanita yang berpakaian seperti ninja itu ke dalam rumah?" sahut Aidah yang terkikik geli.
"Ini akan menjadi gosip seru, Nor. Aku penasaran dengan wanita yang dibawa Fariz tadi," sambung Aidah.
"Kita lihat saja nantinya. Anak muda zaman sekarang apalagi kaum lelaki tak cukup satu lobang," ucap Norma sambil geleng-geleng kepala. Sementara Aidah tertawa ringan mendengarnya.
*
*
"Liza..."
Wanita itu tidak menoleh sama sekali saat Fariz memanggilnya. Ia lebih memilih menyibukkan diri dengan mengeluarkan semua pakaian dalam koper miliknya.
__ADS_1
Pria itu menghela napas pelan dan melangkah mendekat pada Liza.
"Dia bukan siapa-siapa Mas__"
"Aku tidak peduli dan tidak bertanya," sela Liza yang masih sibuk dengan aktifitasnya.
"Kau marah?"
Liza menoleh ke arah suaminya dengan tatapan dingin." Selesaikan urusan Mas dengan wanita itu, jangan sampai rumah tangga kita berantakan kedepannya hanya karna orang ketiga."
Fariz menggeleng."Apa yang mau Mas selesaikan? Sedangkan Mas tidak memiliki hubungan apapun dengan dia. Dan tolong kamu percaya dengan ucapan Mas, Liza," ucap Fariz dengan wajah penuh harap.
Liza memejamkan matanya sejenak."Aku sudah merasakan yang namanya berumah tangga. Dan aku tahu beberapa masalah yang membuat kita berdua bertengkar terutama masalah orang ketiga. Ini bukan tentang masalah kepercayaan atau kesetiaan, tapi bagaimana kita bisa menghindari itu semua," papar Liza panjang lebar.
Wanita itu kembali mengeluarkan pakaiannya, tanpa menunggu balasan pria itu.
"Eh..."
Liza tersentak kaget kala Fariz memeluknya dari belakang. Tubuhnya langsung menegang ketika merasakan pelukan hangat yang suaminya berikan untuk pertama kali.
Liza hanya diam dan menikmati pelukan hangat yang suaminya berikan. Toh, tidak baik seorang istri menolaknya.
*
*
"Untuk sementara kita tinggal di kontrakan dulu, Mas belum mempunyai cukup uang untuk membeli rumah," ucap Fariz yang merasa tak enak.
Liza yang tengah berkutat di dapur membuat makan siang untuk mereka berdua, hanya melirik sekilas Fariz.
"Aku tidak mempermasalahkan itu. Yang terpenting tanggungjawab Mas."
Fariz mengulum senyumnya mendengar tanggapan sang istri.
"Besok Mas sudah masuk kantor. Kau jaga diri baik-baik di rumah, ya. Jangan keluar rumah tanpa ada Mas."
"Hmm..."
__ADS_1
Sorot mata Fariz tidak lepas memperhatikan Liza. Entahlah, Ia tidak bisa lepas memandangi wajah cantik istrinya.
Khaliza meletakkan sepiring nasi goreng di meja suaminya. Saat ini keperluan dapur belum sempat pria itu beli dan Liza hanya memasak makanan seadanya. Mungkin akan sedikit sulit baginya harus tinggal dengan pria yang masih Ia telisik lebih dalam karakternya. Karna kita hidup berumah tangga dengan karakter pasangan yang mungkin akan bertolak belaka, namun saling melengkapi.
"Kau mau ke mana?" tanya Fariz mencekal pergelangan tangan Liza yang hendak pergi.
"Aku harus mencuci alat masak yang baru aku gunakan," balas Liza. Namun, sebenarnya Ia tidak ingin terlalu lama bersama pria itu.
"Makan dulu, setelah itu baru mengerjakan yang lain."
"Tapi aku___"
"Jangan menolak apa yang suami perintahkan. Dosa!" ucap Fariz sengaja menekan kalimat di akhir.
Liza mendengus pelan dan mendudukkan dirinya di kursi yang berhadapan dengan Fariz. Membuat Fariz semakin leluasa memandangi wajah wanita itu. Sementara Liza tampak sulit menelan makanannya ketika terus diperhatikan.
•
•
Jessica mengibaskan rambut panjangnya kasar dan duduk di kursi yang ada pantry.
"Kau kenapa, Jes?" tanya Laura melihat aura tak bersahabatnya tersebut.
"Biasa Fariz. Pria itu mulai berani dengan ku," balas Jessica seraya menegak vodka milik Laura.
Laura tampak terkekeh." Untuk apa masih mengejar pria itu, hmm? Dia itu hanya pria biasa bukan tuan muda yang harus kau kejar."
"Tapi aku sangat menginginkannya. Kalau bukan karna Lucas, mungkin hubungan ku masih baik-baik saja dengan Fariz."
Laura hanya manggut-manggut mendengar penuturan sahabatnya.
___________
Hei girl! Terima kasih sudah mampir
See you di part berikutnya:)
__ADS_1