
Keesokan harinya, karena kejadian itu mereka berdua di minta untuk kembali ke rumah. Arya dan Jihan tidak ada pilihan lain selain mengikuti apa yang Akbar minta. Karena malu dengan warga sekitar mereka berdua pergi dari kampung itu pukul 3 pagi, perkiraan sampai rumah Jihan jam pagi kalau tidak ada berhenti.
"Arya cari supermarket, mau buah aku sangat lapar," ucap Jihan.
"Aku suami mu loh masih saja panggil nama, panggil mas gitu," kata Arya.
"Hahaha malas lah, nanti saja kalau kita sudah dekat, sekarang panggil apa saja yang enak untuk di panggil," ucap Jihan.
"Hmmm itu buka tu, bagaimana kalau di situ saja." Arya menghentikan mobil nya kesebuah supermarket, ia tidak membawa Jihan turun dari mobil, pasti akan sangat ribet apalagi cuaca masih sangat dingin, kasihan Jihan kalau keluar dari dalam mobil.
Sebagai istri, Jihan mah senang saja mendapatkan pelayanan dari Arya, ia menunggu Arya di dalam mobil sambil memainkan handphonenya.
"Halo Jihan, bagaimana hari hari mu di sana," tanya Alfi.
"Ada masalah, nanti aku membahas saat aku sudah pulang," jawab Jihan.
"Masalah apa sih sayang, apa kau dan Arya ehem ehem," tanya Alfi.
"Kepo kau..."
"Hahaha ya sudah aku menunggu mu di sana," ucap Alfi.
"Iya tunggu aku di sana, sudah Arya kembali ke mobil," kata Jihan sambil mematikan sambungan telepon itu.
Arya pun masuk ke dalam mobil, ia membawa beberapa buah yang sudah di potong agar tidak ribet saat di makan.
"Siapa," tanya Arya.
__ADS_1
"Alfi," jawab Jihan.
"Ini makan," ucap Arya sambil memberikan belanjaannya tadi.
"Makan saja dulu, lanjut jalannya nanti saja," ucap Jihan.
"Iya.. Sebenarnya kau punya pacar tidak sih," tanya Arya.
"Tidak, aku jomblo," jawab Jihan.
"Oh bagus lah.."
"Kau punya pacar kan, bagaimana dengan pacar mu," tanya Jihan.
"Pacar ku, aku akan putus dengan melodi," jawab Arya.
"Apa dia mau, dia loh seperti itu pada mu."
Setelah selesai memakan beberapa buah, Arya melanjutkan perjalanan, mereka harus menempuh kurang lebih 3 jam perjalanan lagi.
Sesampainya di rumah Jihan, Arya langsung membawa Jihan masuk ke dalam rumah, mereka berdua sudah siap jika terkena amarah Akbar, mau bagaimana lagi memang mereka berdua salah.
"Duduk," ucap Akbar.
"Ayah..."
"Kalian benar-benar ya," ucap Akbar.
__ADS_1
"Maaf paman, sayaa salah, saya tidak bisa menjaga kepercayaan paman," kata Arya.
"Semua sudah terjadi, jadi aku tidak ingin mempermasalahkannya lagi. Kalian harus segera menikah secara resmi," ucap Akbar.
"Iya paman, aku akan segera membicarakan hal ini dengan keluarga ku, semoga aku segera bisa menikah secara hukum dengan Jihan."
"Ya sudah istirahat lah kalian, Jihan sekarang Arya suami mu, nurut dengan nya," ucap Akbar.
"Iya yah," kata Jihan.
Mereka berdua bernafas lega Akbar tidak marah, mereka pikir mungkin memang karena sudah terjadi juga, padahal sebenarnya semua ini hanya rencana Akbar saja.
Di dalam kamar Arya dan Jihan membersihkan diri mereka berdua, setelah itu mereka berdua membahas masalah pernikahan mereka nanti, maun bagaimana rumah tanggal mereka nanti dan lain sebagainya.
"Apa yang harus di bahas," tanya Arya.
"Kita buat perjanjian pernikahan bagaimana, ya kita menikah secara hukum tetapi kita tidak boleh saling mengatur," jawab Jihan.
"Tidak ada Jihan, aku memang sudah siap berumah tangga, aku akan menjadi kepala rumah tangga yang baik, dan kau harus menjadi istri yang baik pulak," ucap Arya.
Jihan pikir Arya akan seperti di novel novel yang bisa ia ajak bekerja sama, ternyata tidak. Arya memang sangat keras kepala, sulit untuk di ajak kerja sama.
"Aku mau bertemu dengan Alfi nanti malam," ucap Jihan.
"Iya, aku juga akan bertemu dengan melodi untuk memutuskan hubungan kami," kata Arya.
"Arya jadi kau pindah ke kamar ku," tanya Jihan.
__ADS_1
"Untuk sekarang sih, aku masih pulang pergi, mungkin sehari tidur di sini, sehari lagi pulang ke rumah orang tua ku," jawab Arya.
Jihan sangat kesal jika Arya tinggal di rumah, kalau begitu ia tidak bisa bebas, setiap hari bertemu dengan Arya, terus kapan ia bisa berjalan lagi, Jihan sudah sangat lelah berada terus du kursi roda.