
"Kalau ayah mau bisa diatur. Semuanya bisa di bicarakan baik baik, tapi ayah harus berjuang dong, dekati Alfi dengan laki, dia suka tipe pria yang laki banget, dan hot juga pastinya.
Akbar berpikir memang lebih baik ia menikah lagi dari pada main dengan sembarang wanita, ia tidak menikah lagi karena takut jihan tidak aur dengan ibu tirinya, tetapi sekarang Jihan memintanya untuk mendekati wanita, bukannya itu yang ia harapkan.
"Hmmm ya sudah kalau kamu mendukung ayah menikah lagi, kenapa tidak. Ayah akan mencoba untuk mendekatinya."
"Hahaha begitu dong, kan aku jadi semangat mempunyai mamah baru teman sendiri," ucap Jihan.
Setelah berbicara dengan Akbar, Jihan langsung ke kamar untuk membicarakan hali ini dengan Alfi, ia sangat bersemangat untuk menjodohkan ayah nya dengan sang sahabat.
"Jihan aku pergi dulu, persiapan pernikahan kita sudah hampir selesai," kata Arya.
"Hmmm iya, kamu hati hati," ucap Jihan.
Jihan dan Arya sudah saling menerima satu sama lain, keduanya memilih untuk berdamai dengan keadaan. Memang itu lebih baik dari pada berperang dengan keadaan yang menyatukan mereka berdua.
''Arya aku ingin jajanan di jalan depan komplek, nanti kalau pulang jangan lupa beli ya," kata Jihan.
"Sesekali panggil mas atau apa gitu, masak dengan suami sendiri memanggil nama, sudah begitu minta tolong lagi."
"Hehehe maaf mas Arya, mas aku minta tolong belikan aku jajanan depan komplek kan di sana biasanya banyak jualan, apa saja yang penting kamu belikan," kata Jihan.
''Hahaha iya, nanti aku belikan," ucap Arya.
Ada rasa senang di hati Arya saat Jihan memanggilnya dengan sebutan mas, ia merasa lebih di hargai oleh Jihan istrinya sendiri.
Jihan sendiri yakin rasa suka nya dulu dengan Arya masih tertinggal di hatinya, ia bisa yakin karena sekarang ia sangat mudah menerima Arya sebagai suaminya, walaupun memilih berdamai dengan keadaan pasti memerlukan waktu yang cukup lama.
Jihan mengambil handphone nya dan langsung menghubungi Alfi, ia sudah tidak sabar mendekatkan Alfi dengan ayahnya.
''Halo beb, kamu dimana," tanya Jihan.
"Masih di ranjang, aku sangat lelah, ada apa?"
"Tidak ada sih, kau tidak menahan ayah ku pulang, dia harus putar arah yang sangat jauh untuk pulang ke rumah."
"Kau jangan asal berbicara, aku sudah menahan paman Akbar, tapi paman tidak mau, mungkin kerena kejadian tadi malam," kata Alfi yang keceplosan.
"Ha!! apa yang terjadi tadi malam," tanya Jihan.
__ADS_1
"Tidak.. Tidak ada.." Alfi panik seketika.
"Ah katakan pada ku, apa yang terjadi pada kalian," tanya Jihan.
"Tidak ada Jihan percaya pada ku."
"Aku tidak akan marah, katakan saja pada ku Alfi.
Apa kalian ehem eham," tanya Jihan.
"Tidak ada," jawab Alfi.
"Alfi..."
"Janji tidak marah, janji tidak memberitahu ayah mu," ucap Alfi.
"Iya katakan saja lah, jangan khawatir.."
"Hmmmm..."
"Apa Alfi.."
"Hahhaa pantas saja wajah ayah ku tidak terlihat berbeda," ucap Jihan yang tertawa dengan keras.
"Hmm kau mau menikah dengan ayah ku tidak," tanya Jihan.
"Tidak," jawab Alfi.
"Kenapa tidak," tanya Jihan.
"Dia ayah sahabat ku," jawab Alfi.
"Hahaha tidak papa, aku mendukung mu, tapi kalau kau mau ya, aku tidak ingin memaksa mu, secara ayah ku juga sudah berumur, dia juga tidak terlalu tampan."
"Eh tidak bukan begitu, dia tampan kok," ucap Alfi.
"Oh iya tampan, terus selain tampan," tanya Jihan.
"Dia sangat seksi juga, hot begitu, tapi aku ragu kalau dengan nya, mana mungkin dia mau dengan anak kecil seperti ku."
__ADS_1
"Hahaha kalau dia mau dengan mu bagaimana, sudah tunggu saja ya, dia akan mendekati mu, kalau kau tidak menolak, berarti kau dengannya akan berjodoh," kata Jihan.
Jihan benar-benar berniat menyatukan mereka berdua. Alfi sendiri sebenarnya masih belum yakin, masalah usia tidak masalah untuk nya, ia hanya belum tau bagaimana karakter Akbar, cocok tidak dengan dirinya.
Satu minggu telah berlalu, sehari sebelum hari pernikahan resmi Jihan dan Arya, sekarang di rumah Jihan sudah mulai ada persiapan untuk pernikahannya besok malam.
Acara digelar tidak terlalu besar, hanya acara keluarga dan beberapa teman dekat saja, semua ini sesuai dengan keinginan Jihan dan Arya. Mereka berdua sudah sepakat tidak mengadakan pesta besar, yang terpenting pernikahan mereka berdua terdaftar resmi di negara agar sewaktu waktu Jihan hamil, mereka tidak repot.
Hubungan keduanya sudah sangat dekat sekali, bisa di katakan sudah mulai saling mencintai, kunci hubungan yang sangat cepat ini hanya satu hal yaitu rutin berhubungan suami istri. Mungkin terdengar aneh tetapi berhasil padaa mereka berdua.
Kalau Akbar dengan Alfi masih tahap PDKT kesibukan Akbar mengurus pernikahan Jihan membuatnya terkesan lambat mendekati Alfi, Akbar sudah berencana lebih serius mendekati Alfi setelah pernikahan anaknya.
''Kamu siap," tanya Arya.
''Siap untuk apa?"
"Untuk menikah dengan ku lah, besok kita akan menikah tau."
"Hahaha ya siap lah, kita hanya tinggal nikah secara hukum saja, aku tida ada deg deg kan, orang kita juga sudah sering berhubungan malah setiap hari," kata Jihan.
"Hahaha kamu benar, aku sudah tidak sabar meresmikan hubungan kita, aku ingin kita segera mempunyai anak."
"Hmm mungkin tidak lama lagi, kita menikah sudah lebih dari seminggu, mungkin 2 minggu lagi aku akan hamil," kata Jihan.
''Makannya sayang, kita harus sering berhubungan."
"Hey kita kurang sering apa lagi, setiap malam mas, kamu memang tidak ada puas nya," kata Jihan yang membuat Arya tertawa.
''Sayang bagaimana hubungan ayah dengan Alfi," tanya Arya.
"Kata Alfi belum banyak perkembangan, mungin karena ayah terlalu sibuk, Alfi juga sangat sibuk, mereka hanya perlu waktu untuk bersama saja, setelah itu pasti hubungan mereka berdua akan lebih dekat.
"Benar sayang, akui tau ayah masih suka jajan, makannya aku ingin dari pada ayah jajan lebih baik segera menikah dengan Alfi."
"Ha!! emangnya kalau sudah menikah jadi tidak suka jajan," tanya Jihan.
Jihan tidak paham dengan apa yang Arya katakan, ya memang bahasa seperti itu hanya pria yang tau, tetapi bukan berarti Arya suka jajan, Arya hanya melakukan hal itu dengan Jihan saja, tidak ada dengan wanita lain.
"Tidak sayang. Tidak ada, jangan kamu pikirkan, aku salah berkata tadi," kata Arya.
__ADS_1
"Bohong, belum juga resmi sudah berbohong saja, awas saja kamu jajan juga, aku gigit sampai putus itu burung," ancam Jihan.