
Setelah selesai berbelanja mereka pun langsung ke rumah nenek di desa. Perjalanan cukup jauh, kurang lebih 4 jam perjalanan, mereka harus keluar dari kota ini, melewati kota lain, melewati beberapa hutan kota dan masuk ke pedesaan, baru lah mereka akan sampai ke rumah nenek. Tetapi sebelum itu, sudah pasti mereka akan melewati banyak hal di perjalanan ke sana.
"Jauh ya," ucap Arya.
"Iya jauh, aduh kasihan nya, jadi tidak bisa bertemu dengan pacar," kata Jihan.
Arya sudah paham kenapa Jihan mengajaknya pergi ke desa, sudah pasti Jihan ingin membatalkan pertemuannya dengan Melodi. Jihan memang wanita yang sangat licik sekali.
''Masih ada lain waktu, kau tidak perlu khawatir aku tidak bertemu dengan pacar ku," ucap Arya.
"Ih.. Siapa juga yang khawatir, apa untung nya untuk ku mengkhawatirkan mu," kata JIhan.
"Nenek mu di sana sendirian," tanya Arya.
"Iya lah, dengan siapa lagi. Dia aku ajak ke kota tidak mau, maunya hidup di desa, sedangkan aku tidak bisa hidup di desa," jawab JIhan.
__ADS_1
"Seharusnya sebagai cucu yang baik, kau harus menemani nenek mu di desa, kau tau sebenarnya di desa itu enak loh," ucap Arya.
"Jangan mengajari ku hidup di desa, aku sudah sangat puas hidup di desa,." kata Jihan.
"Lalu nenek mu sudah tau kau kecelakaan," tanya Arya.
"Sudah lah, semua anggota keluarga ku sudah tau. Saat aku di rumah sakit nenek juga melihat ku walaupun hanya sebentar," jawab Jihan.
Arya sedikit heran, tadi kata Jihan dirinya sudah lama tidak bertemu dengan nene, tapi barusan ia berkata jika nenek datang saat dirinya masuk rumah sakit, kecelakaan yang menimpah JIhan baru semingu, berarti mereka baru saja bertemu, sudah semakin jelas jika semua ini hanya akal-akalan nya JIhan saja.
Setelah dua jam perjalanan mereka berdua berhenti untuk mengisi minyak dan juga membeli beberapa makanan ringan, tidak akan enak berpergian tanpa ngemil apa apa.
"Ini uang nya," kata Arya yang sudah mendapatkan transferan dari Akbar untuk keperluan mereka berdua.
"Tidak usah, uang ku banyak," ucap Jihan.
__ADS_1
"Jihan kau ke sana mau pakai apa, kursi roda mu ada di belakang. Kau mau ngesot sampai minimarket itu," tanya Arya.
Jihan menepuk jidat nya, ia lupa jika dirinya sedang lumpuh, hampir saja sandiwara nya terbongkar, beruntung Arya menanyakan hal itu.
''Aku lupa kalau aku lumpuh, aduh hidup seperti ini belum membuat ku terbiasa," ucap Jihan.
"Sabar ya, kau pasti akan sembuh." Arya sangat tidak tega dengan JIhan. Ia tidak tau saja kalau JIhan hanya bersandiwara saja.
Setelah mengisi bahan bakar, Arya memarkirkan mobil itu ke depan minimarket, setelah itu ia langsung membantu Jihan untuk turun dari dalam mobil. Sebenarnya Jihan sudah sangat bosan berada di atas kursi roda ini, ia ingin berjalan dengan bebas seperti biasa nya.
"Kau mau cari apa," tanya Arya.
"Buah segar seperti nya enak, sama cemilan lainnya," jawab Jihan.
"Beli yang sudah di potong saja, jadi tidak ribet jika ingin memakannya," ucap Arya.
__ADS_1
"Iya kau benar, terimakasih," kata JIhan.
Ntah kenapa Jihan merasa Arya sangat perhatian kepadanya. Berbeda dengan sebelumnya yang lebih cuek, apa mungin Arya terlalu iba padanya. Jihan berharap tidak begitu, ia tidak suka mendapatkan rasa iba dari orang