
Setelah selesai mandi mereka berdua langsung istirahat, Jihan dan Arya berbaring bersebelahan yang membuat Jihan sendiri sedikit deg deg kan, bagaimana tidak ia berada di samping seseorang yang bisa mendekam nya kapan saja.
"Jihan buat anak yuk," ucap Arya sambil memiringkan tubuh nya.
"Tidak mau," tolak Jihan.
"Kenapa tidak," tanya Arya.
"Ya tidak lah, untuk apa buat anak sama kamu," jawab Arya.
"Hahaha kau aneh, aku suami mu ya jelas tidak papa dong aku buat anak dengan mu," kata Arya.
"Iya juga ya, tapi aku takut Arya, kalau aku hamil bagaimana."
"Lah ya tidak papa, kan aku ayahnya," kata Arya.
"Kau banyak alasan." Arya mendekat bibir Jihan dan mulai menciumnya.
Jihan langsung memejamkan mata nya, bibir nya memang berkata tidak tapi jika sudah diterkam begini siapa yang tidak mau, Jihan hanya jual mahal saja, kalau Arya sudah beraksi tidak mungkin Jihan bisa menolaknya.
Malam ini ntah apa yang terjadi pada mereka berdua, ntah mereka berdua lanjut sampai jebol atau berhenti karena belum yakin.
Pagi hari nya, pagi yang sangat indah menyambut hari baru di bulan yang baru. Jihan terbangun dari tidurnya tanpa menggunakan apa apa, saat melihat beberapa tanda di tubuh nya Jihan langsung ingat dengan kejadian kemarin.
"Arya tadi malam," ucap Jihan.
"Tadi malam tidak jadi, kau tenang saja," kata Arya.
"Tidak jadi? " Jihan sedikit lupa apa yang membuat pertempuran tadi malam tidak jadi.
"Kenapa tidak jadi? kau masih tanya, bukan nya kau tidak tahan lama sakit," kata Arya.
"Ah iya, syukurlah. Akun tidak mau tau, aku tidak akan melakukan nya kalau punya kamu masih besar begitu," ucap Jihan.
"Hey kau pikir dia bisa aku kecilkan, jangan ngada ngada," kata Arya.
"Akun tidak mau tau." Jihan bangkit dari tempat tidur dan berjalan menuju kamar mandi.
"Jihan kau bisa berjalan," tanya Arya.
__ADS_1
"Mati aku." Jihan mendadak diam mematung.
"Hehehe.." Jihan hanya nyengir kuda.
"Kau berbohong selama ini," tanya Arya yang masih terkejut.
"Arya Arya, jangan beritahu ayah ku, Arya aku mohon.." Jihan langsung mendekati Arya.
"Tidak tidak, ini tidak bisa, kau membohongi semua orang, kau sangat keterlaluan Jihan." Arya benar benar tidak menyangka dengan Jihan, ia pikir Jihan benar-benar lumpuh, ternyata hanya sandiwara semata.
"Arya.."
"Kau benar benar gila, kau bermain dengan hal seperti ini," ucap Arya.
"Arya aku mohon, jangan beritahu ayah ku. Kalau aku tidak melakukan hal ini aku dipaksa menikah dengan orang yang tidak aku sukai, dan aku tidak mungkin menikah dengan mu, aku pasti sudah resmi menjadi kekasih pria lain."
Jihan duduk di depan Arya dengan menundukkan kepala nya, dipaksa menikah memang tida enak, Arya dapat mengerti apa yang Jihan katakan, kalau Jihan tidak berbohong soal kelumpuhan nya Ia tidak mungkin menikah dengan Jihan. Dan ia tidak mungkin bisa membiayai kehidupan adik adik nya, uang yang Akbar berikan padanya benar-benar sangat banyak sekali.
Mata Arya tertuju pada dada Jihan yang terpampang secara nyata, mereka berdua memang sedang naked setelah kejadian tadi malam. Kalau tadi malam tidak bisa seperti nya sekarang bisa. Arya tidak mau menyerah dan yakin kalau pagi ini ia bisa membobol pertahanan Jihan dengan memanfaatkan momen ini.
Arya berdiri di hadapan Jihan, mata Jihan langsung tertuju pada si junior yang sedikit bangun, bukan hanya tubuh Arya yang berotot junior itu juga ikut berotot.
"Oke aku akan merahasiakan semua ini dari ayah mu, kita buat perlahan lahan kau bisa jalan seperti semula agar kau tidak terus berada di kursi roda."
"Iyap, tapi kita lakukan hal itu sekarang." Arya mendekati tubuh Jihan sampai mereka berdua kembali berbaring di atas ranjang.
"Pelan pelan," ucap Jihan yang sudah tidak ada pilihan lain.
Pagi ini menjadi pagi yang panjang untuk mereka berdua, Jihan tidak pernah berpikir menyerahkan hal itu pada Arya begitu cepatnya, maun bagaimana lagi kalau tidak ia berikan Arya akan membongkar semuanya, Padahal tadi malam ia sudah sangat kapok sekali.
Siang hari nya, mereka berdua baru bangun setelah pertempuran tadi pagi, karena Arya sudah tau semuanya akan, Jihan jadi bebas berjalan ke sana sini yang ia mau, walaupun sekarang ia sedikit sulit berjalan karena rasa sakit di bagian intinya.
"Masih sakit," tanya Arya.
"Iya tapi lebih baik dari yang tadi, kalau yang tadi sakit sekali," jawab Jihan.
Sekarang Jihan sudah benar benar tidak gadis lagi, Arya sudah mengambilnya dan dapat di pastikan selamanya mereka akan tetap bersama, menjadi sepasang suami istri dan mempunyai bai yang menggemaskan.
"JIhan, kan Alfi pemilik rumah sakit, bagaimana kita pura pura berobat di sana saja," kata Arya.
__ADS_1
"Kau benar, nanti aku akan berbicara dengannya, sekarang kau keluar temui ayah, pasti dia menunggu kita yang tidak kunjung keluar kamar."
"Ayah mu pasti maklum lah, kayak dia tidak pernah jadi pengantin baru saja," kata Arya.
"Sudah temui saja, sekalian kau bicarakan tentang pengobatan ku," ucap Jihan.
"Ya sudah, aku keluar." Arya yang sudah mandi dan bersih langsung keluar kamar.
Di bawah ternyata Akbar sedang kedatangan keluarga dari Aldy dan Aldy sendiri, ternyata Aldy meminta perjodohan di lanjutkan karena ia tidak bisa melupakan JIhan, walaupun JIhan cacat ia tetap ingin menikah dengan JIhan, ia sudah sangat terlambat karena Jihan sudah menikah dengan pria lain.
"Maaf Aldy, kau tidak bisa menikah dengan JIhan, karena JIhan sudah mempunyai suami yang menerima JIhan apa adanya, kalaupun Jihan belum menikah saya tetap tidak akan memberikan Jihan pada mu, kau sudah membuang Jihan begitu saja, dan sekarang mau kembali dengan seenaknya, kau pikir Jihan tidak memiliki harga diri."
"Ayah ada apa ini," tanya Arya yang bingung istrinya di sebut-sebut.
"Nah ini Arya, pria yang menerima jihan apa adanya. Ya memang dia tidak kaya seperti mu, tetapi dia memiliki hati yang besar, JIhan tidak memerlukan kekayaan lagi, ia hanya memerlukan kasih sayang yang tulus dan Arya dapat memberikan kasih sayang itu."
"Oh jadi dia yang meninggalkan Jihan begitu saja, perkenalkan Arya suami sah Jihan." Arya dan Kevin bersalaman, Arya sedikit mengeluarkan tenaga nya untuk mengintimindasi Aldy.
"Gila.. Apa dia atlit," batin Aldy.
"Ya sudah pak, terimakasih atas waktu nya, ayo evin masih banyak wanita cantik yang tidak cacat seperti Jihan."
"Mamah aku mau Jihan..."
"Tidak ada." Mereka membawa Aldy pergi dari rumah ini karena sudah terlanjur malu.
Arya tidak menyangka ada seseorang seperti Aldy, sudah pergi meninggalkan Jihan begitu saja, eh malah ingin kembali tanpa rasa malu, untung saja Jihan sudah menikah dengannya.
"Untung saja kau sudah menikah dengan Jihan, kalau tidak sulit menolak mereka," kata Akbar.
"Hehehe iya yah," ucap Arya.
"Kalian kok baru bangun," tanya Akbar.
"Hehehe biasa yah, pengantin baru kan pengennya di kamar terus," jawab Arya.
"Kalian sudah," tanya Akbar sambil menaikan alis nya.
"Sudah, sebentar lagi ayah segera menggendong cucu," jawab Arya yang sudah tau jika Akbar sangat menginginkan seorang cucu.
__ADS_1
"Bagus lah, ayah sangat bersyukur kalian sudah ehem, Jihan masih..."
"Masih yah, ayah tenang saja, aku yang pertama kok," ucap Arya.