Suami Ku Pembantu Ku

Suami Ku Pembantu Ku
Mau dengan ayah.


__ADS_3

Alfi berjalan masuk ke dalam kamarnya, ia membersihkan tubuhnya sesaat sebelum istirahat, setelah itu ia mematikan lampu kamar dan langsung berbaring di atas ranjang, ia sudah sangat mengantuk sekali.


Akbar sendiri sangat takjub dengan kemewahan rumah Alfi, Alfi anak muda yang sangat sukses sekali, sayang disayangkan dia hanya tinggal sendiri, Akbar yakin pasti Alfi sangat kesepian, untung saja ia tidak melarang Jihan bergaul dengan Alfi.


Akbar yang sudah sangat mengantuk memilih ke kamar mandi terlebih dahulu, ia ingin mencuci kaki dan tangan nya sebelum istirahat, setelah itu Akbar langsung naik ke lantai atas. Ia membuka salah satu pintu kamar, kamar itu tidak di kunci yang artinya aman, hanya saja lampu kamar itu mati, hanya terlihat remang remang saja.


Akbar sudah tidak berpikir apa-apa, ia berbaring di ranjang dan langsung tertidur, ia tidak sadar jika di samping tubuh nya ada seseorang yang juga tidur di kamar itu.


Sementara itu di kamar Arya dan Jihan masih ada pertemuan sengit mereka berdua, performa Arya memang tidak bisa di ragukan lagi, ia benar benar sangat kuat sekali, mungkin karena dirinya seorang pelatih gym yang sudah pasti sangat bugar.


Walaupun begitu Arya tidak bermain dengan kasar, ia benar benar sangat lembut yang membuat Jihan sangat menikmati nya.


"Mau di atas," tanya Arya.


"Takut," jawab Jihan.


"Untuk apa kamu takut, ayo coba." Arya menuntut Jihan agar mencoba memimpin permainan.


Di atas gaya terakhir mereka, setelah itu mereka sama sama tumbang dan langsung beristirahat.


Pagi harinya, Alfi terbangun dari tidur nya karena ada seseorang yang memeluknya, perlahan Alfi membuka mata untuk melihat siapa yang memeluknya.


Wajah tampan dan gagah Akbar yang Alfi liat pertama kali, Alfi tidak berteriak, ia hanya menatap wajah Akbar yang menurutnya sangat tampan dan hot sekali.


"Dia sangat tampan, kata Jihan usia nya 43 tahun tapi dia terlihat masih 35 tahun," batin Alfi.


Alfi tidak berteriak, ia malah suka bisa seperti ini karena memang ia sudah sangat siap untuk menikah, tatapi memang belum ada pria yang maun menikah dengannya, ternyata terlalu sukses membuatnya kesulitan mendapatkan jodoh.


"Ini tangan nya, lalu apa yang aku pegang," batin Alfi.


Alfi langsung menarik tangannya, ia tidak tau benda apa yang ia pegang sejak tadi, ia pikir itu tangan Akbar, tetapi tangan Akbar ada di dekat kepala nya, lalu tangan Siapakah itu.

__ADS_1


"Apa jangan jangan anu nya, besar sekali," batin Alfi.


Sebelum membangunkan Akbar, Alfi merapihkan dirinya terlebih dahulu, ia tidak mau Akbar terkejut melihatnya berantakan, bisa di katakan Alfi ingin jaga image.


"Paman.." Alfi menggoyangkan tubuh Akbar.


Beberapa kali goyangan Akbar pun terbangun dari tidurnya, ia membuka matanya perlahan dan mulai bergerak duduk di samping Alfi.


"Alfi kenapa kamu di sini," tanya Akbar.


"Paman ini kamar ku, yang seharusnya tanya itu aku, kenapa paman ada di sini," tanya Alfi.


"Ha!!!" Akbar sangat terkejut mendengar hal itu.


"Iya paman, kenapa paman tidur di sini," tanya Alfi.


"Maaf Alfi paman tidak tau jika ini kamar ini, tadi malam paman sudah sangat mengantuk dan langsung tidur di sini tanpa melihat lihat dulu."


"Iya paman, aku dapat mengerti.''


"Sekali lagi maaf Alfi, paman benar benar tida sengaja dan tidak ada niat sedikitpun," kata Akbar yang takut jika Alfi berpikir yang tidak tidak.


"Iya paman aku tidak papa kok, kan juga tidak terjadi apa apa."


Dalam hati ALfi ntah kenapa sebenarnya ia senang, mungkin karena Alfi tidak pernah tidur dengan pria sebelumnya, jadi saat pertama tidur dengan seorang pria memiliki vibe yang berbeda.


Akbar yang sebelumnya memang tidak ada niat sangat takut kalau Alfi marah dan mengadu pada JIhan, ia merasa lebih baik membayar wanita di luar sana dari pada seperti ini dengan teman anak sendiri. Image nya bisa rusak jika sampai orang lain tau hal ini.


"Alfi kamu jangan memberitahu siapa siapa ya, apalagi JIhan nanti JIhan marah pada paman," kata Akbar.


"Iya paman," ucap Alfi yang awalnya ingin memberitahu Jihan, ia yakin Jihan tidak akan marah pada Akbar karen Jihan sangat mendukung hubungan mereka berdua, tetapi setelah mendengar permintaan Akbar ia tidak akan memberitahu Jihan soal ini.

__ADS_1


Karen tidak enak dengan Alfi, Akbar memutuskan untuk pulang, Ia tidak masalah harus memutar jalan yang sudah pasti sangat jauh sekali. Alfi sudah menahan Abar untuk tetap stay sampai jembatan darurat jadi, tetapi karena tidak enak dengan Alfi, Akbar tetap memutuskan untuk pulang ke rumah.


Biasanya perjalanan dari rumah Alfi ke rumah Jihan hanya tiga puluh menit saja tetapi karena memutar jalan perjalanan jauh lebih lama sekitar satu setengah jam, Akbar pulang menggunakan jasa transportasi online.


Jihan yang sedang sarapan dengan Arya melihat kepulangan Akbar, mereka berdua merasa ada yang berbeda dengan Akbar, saat Akbar berjalan mendekat Jihan berniat bertanya langsung pada sang ayah.


"Pagi yah, bagaimana tidur di rumah mewah Alfi nyenyak kan," tanya Jihan.


"Kamu tau dari mana ayah menginap di sana," tanya Akbar.


"Tadi malam Alfi memberitahu ku, ada apa dengan ayah? sepertinya ada yang berbeda dari ayah," tanya Jihan.


"Tidak ada ah, itu hanya perasaan mu saja," jawab Akbar.


"Alfi tinggal sendiri setiap hari, apa di tidak merasa bosan," tanya Akbar.


"Bosan sudah pasti yah, dia sudah sangat ingin menikah tetapi belum ada pria yang mau menikah dengannya, dia sangat kaya raya yang membuat pria insicure untuk mendekatinya."


"Iya sih dia terlalu sukses di usia muda," kata Akbar.


"Ayah saja yang mendekati Alfi, ayah masih muda masih bisa menikah lagi," ujar Arya.


"Ah kau ada ada saja, ayah sudah tua, tidak ada yang mau dengan ayah lagi," kata Akbar.


''Tua dari mana, orang ayah muda begini di bilang tua, ayah itu sangat tampan masih terlihat usia tiga puluh lima tahun, kalau aku bukan anak ayah aku mau menikah dengan ayah," ucap JIhan.


Akbar tersipu malu mendengarnya, ya memang harus di akui ia sangat tampan, ia masih menganggap dirinya masih kuat untuk menikah, tadi ia hanya merendah saja di depan menantu dan anak nya.


"Ayah kalau mau dengan Alfi nanti aku bantu deh," ucap Jihan.


''Emangnya Alfi mau dengan ayah? Dia saja teman kamu," kata Akbar.

__ADS_1


__ADS_2