
"Alfi bagaimana ya, hujan deras lagi," kata Jihan yang khawatir dengan sahabat nya.
"Hmmm kau benar, hubungi saja dia," ucap Arya.
Jihan mengambil handphonenya dan langsung menghubungi Alfi. Ia merasa bersalah tidak menahan Alfi untuk pulang.
"Iya Jihan," ucap Alfi.
"Kau susah sampai rumah," tanya Jihan.
"Sudah, diantar ayah mu," jawab Alfi.
"Oh begitu, syukurlah kalau begitu," ucap Jihan.
"Tapi ayah mu tidak bisa pulang Jihan, kau tau jembatan sebelum rumah ku putus."
"Ya sudah menginap di rumah mu saja," kata Jihan.
"Rencana sih begitu," ucap Alfi.
"Hahaha jadi mamah tiri ku ni, sekarang mana ayah," tanya Jihan.
"Ada di ruang tengah, aku lagi buat teh hangat," jawab Alfi.
__ADS_1
"Sudah dengan nya saja," ucap Jihan.
"Ah kau ada ada saja."
"Lah tidak papa, kau sudah 28, ayah ku juga baru 43, masih sangat cocok dengan mu," kata Jihan.
"Jangan aneh aneh, aku jadi mamah tiri mu bisa makan hati aku," ucap Alfi.
"Kau suka yang hot, ayah ku masih sangat hot, dia sering ngegym dengan Arya."
"Jihan kau membuat pikirkan ku kemana-mana," ucap Alfi.
"Hahaha aku tunggu kabar baik saja ya." Jihan mematikan sambungan telepon itu.
"Kamu serius ingin menjodohkan mereka berdua," tanya Arya.
"Kenapa tidak, ayah sudah lama sendiri, aku tidak tau ayah bagaimana selama ini, lebih bagus menikah saja," jawab Jihan.
"Iya sih dari pada jajan di luar sana, lebih baik menikah," ucap Arya.
"Dingin ya." Arya memeluk Jihan dengan erat, kalau dingin dingin begini memang paling enak seperti ini.
"Memang sangat dingin." Jihan membalas pelukan Arya, siapa yang menolak di peluk dengan pria seperti Arya.
__ADS_1
Arya sendiri sudah pasti sangat senang, apalagi tangan nya sudah bebas menyentuh apa saja yang Jihan punya, Jihan sudah tidak pernah melarang lagi, Arya yakin Jihan sudah ketagihan dengan dirinya.
"Jihan apa yang membuat mu dulu suka dengan ku," tanya Arya.
"Tidak tau sudah lupa, tidak ingin mengingat nya lagi," jawab Jihan.
"Hahaha begitu ya, padahal aku yakin pasti ada yang membuat mu suka dengan ku, kau saja yang tidak ingin mengingat nya atau hanya pura pura lupa saja."
"Dulu kau sangat populer di sekolah, jangan pura-pura tidak tau," ucap Jihan.
"Hahaha oh begitu, ya memang aku sangat populer, aku juga sangat tampan, jadi itu yang membuat mu suka dengan ku. Oke sekarang kau sudah mendapatkan ku kan, jadi tidak perlu marah lagi pada ku," kata Arya sambil mendekati bibir Jihan.
Pada akhirnya pertempuran kedua pun tidak terelakkan, mereka berdua bertempur sampai keduanya benar-benar puas dan sangat lelah.
"Belakang sayang," ucap Arya.
"Aku lelah, nanti tunggu sebentar," kata Jihan, ia sudah sangat ketagihan dengan Arya, mau gaya apapun yang Arya pakai ia sudah sangat siap.
Sementara itu di rumah Alfi, Akbar di jamu dengan sangat baik, berbagai macam makanan dan teu hangat terhidang di atas meja. Mereka berdua masih mengobrol walaupun waktu semakin larut.
"Sudah malam, tidur lah, nanti Alfi kesiangan," ucap Akbar.
"Iya paman, paman bisa tidur dikamar mana saja yang paman inginkan," ucap Alfi.
__ADS_1