
"Jangan.."
"Tidak boleh," tanya Akbar.
"Tidak lah, kamu sangat ganas."
Akbar hanya tertawa, ya bisa di katakan dirinya sangat ganas, sudah dapat ciuman pagi eh malah minta yang lebih.
"Aku mau pakai baju mas," ucap Alfi.
"Nanti dong, masih ingin seperti ini."
"Oh iya mas, ada yang ingin aku katakan, kabar bahagia," kata Alfi.
"Apa itu? kalau kabar bahagia aku siap untuk mendengarnya."
"Tadi pagi paman ku datang ke rumah, katanya dia kenal kamu dan dia tidak masalah aku menikah dengan mu," ucap Alfi.
Akbar mengerutkan dahinya, ia penasaran siapa yang Alfi maksud, kalau dia kenal pasti dirinya juga kenal.
"Aku sangat senang Alfi, hmmm minggu depan aku akan menikahi mu," ucap Akbar.
"Serius?"
"Ya iya lah, lebih cepat lebih baik Alfi." Akbar benar-benar sudah tidak sabar untuk menikah.
"Aku sih tidak masalah, paman sudah memberikan ku izin," ucap Alfi.
__ADS_1
"Alfi kamu tau siapa nama paman kamu," tanya Akbar.
"Tau lah, namanya Brian, kamu kenal tidak?"
"Ya ampun dia, ya aku kenal lah. Dia itu teman ku waktu SMA, anaknya sudah 2 kan, masih kecil tapi," kata Akbar.
"Nah iya, hanya kamu yang anaknya sudah besar, malah seperti adik dan kakak," ucap Alfi.
"Namanya waktu itu di jodohkan, mau bagaimana lagi Alfi. Tidak mungkin dong sudah menikah tidak di gas, walaupun lagi belajar tetap gas aja lah, eh tau tau jadi Jihan, beruntung tidak produk gagal."
"Kamu ya, anak sendiri tu.." Baru kali ini pagi Alfi penuh dengan senyuman, tidak seperti biasanya yang malas ia lalui, memang kalau memiliki kekasih terasa sangat berbeda, walaupun mereka berdua tidak berpacaran tetapi keduanya menganggap hubungan mereka berdua sudah lebih.
Setelah puas bermesraan mereka berdua langsung pergi ke rumah Akbar, Akbar akan ngegym dengan Arya dan Jihan menghabiskan waktu dengan Alfi, banyak hal yang ingin mereka berdua bahas.
"Bagaimana ayah ku," tanya Jihan.
"Hahaha syukurlah."
"Jihan kami akan menikah minggu depan, tidak papa kan?"
"Iya tidak papa lah, aku sangat senang sekali," kata Jihan.
"Tunggu dulu, kalian tidak anu anu dulu kan," tanya Jihan untuk memastikan saja, kalau sudah ya tidak papa, ia tidak ingin ikut campur.
"Tidak lah, memang ayah ku mesum, tapi nanti lah kalau sudah menikah," ucap Alfi.
"Hahaha mana tau kan," kata Jihan.
__ADS_1
"Jihan aku akan merasakan tempat kau berasal, hahaha rasanya sangat aneh."
"Memang aneh sih, tapi ya mau bagaimana lagi, kau rasakan lah dari mana aku berasal, di jamin tidak akan kecewa," ucap Jihan.
"Hahaha jadi pengen, malam pertama mu bagaimana kemarin," tanya Alfi.
"Mana ada malam pertama lagi, tapi tetap seperti malam pertama sih, 2 ronde Arya buat."
"Wah keren, dia kuat sekali ya," ucap Alfi.
"Hahaha ya kuat lah, ronde pertama aku memimpin, aku main di atas, kau coba lah rasanya sangat mantap," kata Jihan yang membuat Alfi menelan air ludah nya dengan kasar.
Gadis dua puluh depan itu benar-benar sudah sangat ingin, maklum saja umur sudah tua.
"Jangan begitu, nanti kau juga merasakan nya, bakal ketagihan deh.."
"Jihan..." Alfi berteriak dengan keras.
"Alfi aku rasa aku hamil deh," ucap Jihan.
"Ha kau sudah periksa," tanya Alfi.
"Aku sudah telah dua hari, ya baru dua hari sih, tapi tetap saja aku curiga."
"Sabar lah, kalau sudah telat dua bulan baru periksa."
****
__ADS_1
Maaf up sedikit, lagi sibuk bangett..